Menghidupkan (Kembali) Nilai Pancasila di Kampus

0
154
Focus: Para Dosen UM Surabaya menyimak dengan serius materi Internalisasi Pancasila.(Foto: Special)

KLIKMU.CO  Membumikan nilai Pancasila dalam konteks kehidupan kebangsaan saat ini menjadi hal penting dan mendesak dilakukan ditengah masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.

Dalam seminar dan pelatihan bertajuk “Islam-Pancasila dan Internalisasi Nilai-nilai Kebhinekaan” yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Agama Islam dan Kemuhammadiyahan (PPAIK) UMSurabaya- bekerjasama dengan TAF Foundation dan PuSAM UMM telah menghasilkan dua rumusan penting Pertama, mengembangkan Paradigma Inklusif dan kedua, menjadi manusia Pembaca, pada Kamis-Sabtu, (12-14/4) lalu.

Menurut Sholikhul Huda, M.Fil.I panitia kegiatan juga Dosen AIK, bahwa masih ada sebagian kelompok masyarakat yang belum menerima Pancasila sebagai ideologi negara, dan kehidupan berbangsa.

Dia menjelaskan,keberagaman bisa menjadi pemicu konflik. Terlebih, ada sejumlah pihak yang memanfaatkan multikulturalisme tersebut kemudian diseret pada kepentingan pribadi atau golongan dengan menggunakan politisasi SARA, misalnya.

Fenomena tersebut, lanjutnya ditengarahi hilangnya nila-nilai pancasila dalam perilaku sosial, keagamaan, kebudayaan, ekonomi, hukum dan politik di masyarakat.

“Berangkat dari kondisi kehidupan kebangsaan di atas, maka diperlukan rejuvenasi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat,” katanya dari ide dasar ini kemudian kaum cendekiawan punya tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali Pancasila.

Hadir sebagai narasumber di acara tersebut, Dr. Budy Munawar Rahman, NA (Direktur Program TAF), Dr. Zuly Qadir, MA (UMY), Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag Wakil Rektor 3 UMSurabaya.

Secara subtantif dari semua narasumber mempunyai pandangan dan perspektif sama, bahwa nilai-nilai Pancasila sudah selaras dengan nilai-nilai di semua Agama yang diakui Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha).

Warek 3 UMSurabaya dalam pemaparannya mengungkapkan, bahwa Muhammadiyah memposisikan Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Sehingga, dasar dan bentuk Negara Indonesia sudah final sebagai ahlul ahdi wasyahadah.

Pengkajian Pancasila selama 3 hari tersebut mengasilkan rumusan nilai yang perlu dikembngkan di lingkungan UMSurabaya yaitu, pertama,mengembangkan Paradigma Inklusif ( terbuka), yaitu memiliki keluasan dan ragam alternatif dlm pnyikpan persoalan.

Kedua, menjadi manusia Pembaca, artinya sangat penting untuk di kembangkan tradisi membaca atau literasi di kalangan dosen dan mahasiswa UMSurabaya.

Berdasarkan data yang terhimpun kegiatan itu diikuti sebanyak 40 Dosen terdiri dari Dosen AIK-PPKN UMSurabaya, Dosen AIK UMSIDA dan Dosen IAIN Langsa Aceh. (Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here