Mengutuk Pelaku Saja Tidak Cukup, Harus Sadar dan Bangkit Bersama-sama

0
106
Foto istimewa

KLIKMU.CO – Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di area sekitar Gereja Katedral, Kota Makasar, Ahad pagi tadi (28/3/2021) mendapat atensi dari sejumlah pihak. Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), misalnya. Mereka mengeluarkan empat sikap tegas.

Pertama, DPP IMM sangat menyesalkan terjadinya peristiwa ledakan melalui bom bunuh diri yang terus berulang. Tindakan ini adalah bentuk dari penghinaan atas kemanusiaan.

“Bom bunuh diri merupakan bentuk dari teror. Tindakan ini harus dimusnahkan dari bumi pertiwi Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP IMM Najih Prastyo dalam keterangan yang diterima Klikmu.co, Ahad sore (28/3/2021.

Kedua, peristiwa ledakan berulang terjadi di sekitar Gereja Katedral yang merupakan rumah ibadah umat Kritiani. IMM mengimbau kepada umat Kristiani khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Sebab, hal itu dapat memecah belah keberagaman kita.

“Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan sentimen agama apa pun. Sebab, tidak ada agama apa pun yang melegalkan tindakan biadab tersebut,” tegasnya.

Ketiga, Najih juga meminta kepada aparat kepolisian dan Badan Nasional Pananggulangan Terorisme (BNPT) untuk mengusut dan mengungkap sampai tuntas jaringan terorisme yang ada di Indonesia. Dengan begitu, diharapkan kejadian serupa tidak berulang.

Keempat, IMM meminta kepada masyarakat luas, khususnya tingkat RT/RW, untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme. “(Caranya, red) dengan melaporkan kepada pihak berwajib (kepolisian) jika mencurigai kegiatan-kegiatan yang berbau dan mengarah pada agenda teror,” papar mantan ketua DPD IMM Jatim itu.

Butuh Kesadaran Bersama 

Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd. Rohim Ghazali menambahkan, di tengah kekhusyukan umat Kristiani menjelang Paskah dan umat Islam menjelang Ramadhan, bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar seyogianya membuat semuanya sadar bahwa ancaman kekerasan itu nyata adanya.

“Kita tidak bisa lagi terus-menerus abai, menganggap ancaman kekerasan sebagai proyek Islamofobia,” jelasnya.

Menurut dia, kekerasan ini mengancam semua umat beragama dan seluruh umat manusia. Oleh karena itu, semua pihak harus bersama-sama seraya mencari akar masalahnya untuk kemudian dicari jalan keluarnya secara tepat.

“Mengutuk dan mengecam saja tidak cukup. Yang lebih diperlukan tumbuhnya kesadaran bersama akan ancaman kemanusiaan ini. Kita harus bangkit bersama-sama. Civil society dan aparat pemerintah bahu-membahu melawan kekerasan dan menghilangkan akar-akarnya,” tegasnya.

Update Korban

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, ada sekitar 14 orang yang menjadi korban dalam peristiwa bom bunuh diri tersebut. Sedangkan pelaku bom bunuh diri ikut tewas dalam peristiwa itu.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengungkapkan, dari 14 korban itu, kebanyakan menderita luka di bagian leher, dada, muka, tangan, dan kaki akibat ledakan tersebut. “Jadi, total ada 14 korban. Artinya, yang sekarang masih dalam perawatan yang sedang ditangani dokter dan mudah-mudahan bisa kembali untuk yang sakit ringan,” ujar Argo di Mabes Polri, Ahad (28/3/2021).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here