Menilik Maraknya Gerakan Literasi

0
63
Prof Dr Djoko Saryono MPd

 

Oleh: Prof Dr Djoko Saryono MPd

Guru besar Universitas Negeri Malang

KLIKMU.CO

Kita sebagai manusia terdidik sudah sering mendengar istilah melek aksara, keberaksaraan, kemahirwacanaan, dan literasi. Keempat istilah tersebut pada dasarnya berpadanan dan berkemiripan makna karena ketiga istilah pertama merupakan usaha mengindonesiakan istilah literacy. Namun, seriring dengan perkembangan waktu, sekarang istilah literacy diadaptasi menjadi literasi dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia bahkan sekarang istilah literasi lebih populer dibandingkan dengan istilah melek aksara, keberaksaraan, dan kemahirwacanaan. Dapat dikatakan bahwa dalam beberapa tahun belakangan istilah literasi dan gerakan literasi semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia termasuk pegiat literasi di masyarakat dan kalangan pendidikan baik kalangan sekolah maupun pegiat pendidikan nonformal.

Kian populer dan dikenal luasnya istilah literasi dan gerakan literasi di Indonesia paling tidak disebabkan oleh empat hal utama. Pertama, semakin tumbuhnya kesadaran betapa fundemental, strategis, dan pentingnya bagi kemajuan dan masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia. Baik secara historis maupun sosiologis terbukti bahwa masyarakat dan bangsa yang maju dan unggul selalu disokong oleh adanya literasi.

Kedua, semakin disadarinya oleh sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia termasuk pemerintah Indonesia bahwa kemajuan individu, masyarakat, dan bangsa Indonesia juga ditentukan oleh adanya tradisi dan budaya literasi yang mantap. Ketiga, makin kuatnya kepedulian dan keterlibatan berbagai kalangan masyarakat, komunitas, dan pemerintah dalam usaha menumbuhkan, memantapkan, dan bahkan menyebarluaskan kegiatan, program, tradisi, dan budaya literasi di lingkungan masyarakat, komunitas, dan pendidikan. Keempat, makin banyaknya gerakan literasi yang berkembang di masyarakat dan sekolah yang dilakukan oleh berbagai kalangan.

Tak heran, gerakan literasi makin marak di kalangan masyarakat dan pendidikan di Indonesia. Lebih-lebih setelah pemerintah mencanangkan dan menggencarkan gerakan literasi nasional pamor gerakan literasi mengalami pasang naik. Berbagai festival, lomba, klinik, dan juga pertemuan ilmiah tentang literasi sebagai bagian dari gerakan literasi kian sering dilaksanakan oleh pelbagai pihak.

Konsep literasi berkembang dari waktu ke waktu. Pada mulanya literasi sering dipahami sebagai melek aksara, dalam arti tidak buta huruf. Kemudian melek aksara dipahami sebagai kepahaman atas informasi yang tertuang dalam media tulis. Itu sebabnya, kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Lebih lanjut, literasi dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi sosial di dalam masyarakat. Di sinilah literasi sering dianggap sebagai kemahiran berwacana.

Dalam konteks itulah Deklarasi Praha pada tahun 2003 mengartikan literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Deklarasi UNESCO tersebut juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi. Hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Selaras dengan itu, dalam Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud mengartikan kemampuan berliterasi sebagai adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai kegiatan, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara. Di tengah banjir bandang informasi melalui pelbagai media baik media massa cetak, audiovisual maupun media sosial, kemampuan berliterasi tersebut sangat penting. Dengan kemampuan berliterasi yang memadai dan mantap, kita sebagai individu, masyarakat, dan atau bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai informasi yang beraneka ragam yang datang secara bertubi-tubi kepada kita.

Di samping itu, dengan kemampuan berliterasi yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan. UNESCO menyatakan bahwa kemampuan berliterasi merupakan titik pusat kemajuan. Vision Paper UNESCO (2004) malah menegaskan bahwa kemampuan berliterasi telah menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis, dan ekonomis pada zaman modern. Lebih jauh, Global Monitoring Report Education for All (EFA) 2007: Literacy for All menyimpulkan bahwa kemampuan berliterasi berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern karena – seperti diungkapkan oleh Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO – kemampuan berliterasi adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik (2006).

Seiring dengan berkembangnya gejala literasi yang terus berkembang, dewasa ini bentuk dan jenis literasi juga terus berkembang. Bahkan juga terus berkembang hakikat dan konsepsinya. Tak heran, sampai sekarang telah terdapat berbagai bentuk dan jenis literasi yang ditawarkan atau dikembangkan oleh berbagai pihak. Sebagai contoh, PISA (Programme for International Student Assesment) yang dikoordinasikan oleh OECD telah mengategorikan literasi menjadi (a) literasi keilmu-alaman (scientifical literacy), (b) literasi matematis (mathematical literacy), dan (c) literasi membaca (reading literacy) (2006:9).

Berkenaan dengan masyarakat informasi, UNESCO menyatakan adanya literasi informasi dan literasi media. Selanjutnya, Mochtar Buchori menyebutkan adanya literasi budayawi (cultural literacy) dan literasi sosial (social literacy). Belakangan juga berkembang literasi ekonomis (economic literacy), literasi keuangan (financial literacy) dan literasi kesehatan (health literacy). Forum Ekonomi Dunia (2016) menyebutkan enam macam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, keuangan, digital, dan budaya dan kewargaan. Pada masa-masa mendatang niscaya akan terus berkembang kategori literasi lain.

Literasi yang komprehensif dan saling terkait memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kemampuan dan perannya sebagai warga negara global. Sebab itu, kemampuan menguasai beraneka bentuk dan jenis literasi tersebut mendukung keberhasilan dan kemajuan seseorang, masyarakat, bahkan bangsa. Dalam konteks pendidikan, kemampuan menguasai pelbagai bentuk dan jenis literasi tentulah akan membuat peserta didik sukses dan maju. Lebih lanjut, juga akan menumbuhkembangkan tradisi dan budaya literasi.

Untuk itu, dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan kemampuan berliterasi peserta didik. Agar lingkungan literasi tercipta, diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan.

Di samping itu, diperlukan juga pendekatan cara pembelajaran yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kalau perlu malah dikembangkan kurikulum dan pembelajaran bertujuan atau responsif literasi. Kesempatan peserta didik terpajan dengan berbagai bentuk dan jenis literasi tersebut menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi di masyarakat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here