Menjadi Muhammadiyah dalam Menyiasati Asas Tunggal dengan Semangat ”Nashrun Minallah wa Fathun Qorib” demi Menata Batu Bata Peradaban Utama

0
85
Dr M. Habib Chirzin

Ini adalah seri keempat dari catatan Dr M. Habib Chirzin tentang bagaimana menjadi Muhammadiyah lintas waktu menuju masyarakat ilmu dan tajdid peradaban.

KLIKMU.CO

Oleh karena tidak mudahnya perumusan bersama konsep “Addienul Islami”, maka dipercayakan kepada Prof. Dr. HM Rosyidi dan Prof. Dr. A Mukti Ali untuk membuat Draft awalnya. Sebenarnya konsep “Addienul Islami” ini juga dimaksudkan untuk menghadapi problem “Asas Tunggal” yang diwajibkan di zaman Pak Harto, menjadi satu-satunya asas bagi semua organisasi kemasyarakatan. Oleh karena rumitnya persoalan asas tunggal ini, maka Muktamar Muhammadiyahpun mundur satu tahun. Dan baru dilaksanakan pada th 1985 di kampus UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), termasuk Muktamar Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah dan juga Pemuda Muhammadiyah. Pada muktamar di kampus UMS tersebut saya terpilih sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, menggantikan Mas Sutrisno Muhdam, untuk masa bakti 1985 sd 1989.

Ketika menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah 1985-1989, sempat diundang mengikuti Youth Leadership Program di Washington DC, Philadelphia, Chicago, Hawaii dan melihat proses pemilihan President dari Pak Ronald Reagan ke JW Bush 1987. Menerima certificate “Ambassador of Good Will” dari Gubernur Arkansas, yang namanya Bill Clinton. Pada waktu itu nama Bill Clinton belum terkenal, karena pada waktu itu calon President dari partai Demokrat adalah Jessy Jackson. Sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah saya diminta memberikan diskusi di Cornell University, East West Center Hawaii, Portland University, Oregon dll.

Secara khusus kami diundang berkunjung dan berdiskusi dengan asosiasi The Young Amercan Political Leaders di Washington, Desember 1987. Bertemu the Young Democrats dan juga the Young Republican. Berdiskusi mendalam tentang sistem politik, kepartaian, penyelenggaraan pemilu, peran generasi muda dan relawan (volunteer), kelompok lobby yang terkenal di Amerika, serta disentralisasi, pembentukan dan peran kelas menengah dan professional yang mandiri. Secara pribadi saya melihat praktik demokrasi di Amerika yang kapitalistik. Tetapi semuanya diatur dengan regulasi yang baik dan diawasi. Termasuk pengawasan oleh masyarakat sipil dan media. Kami juga diundang berdiskusi dengan pimpinan-pimpinan media, teruatama dalam kaitannya dengan media sebagai pilar ke-3 demokrasi. Yang juga memiliki peran kritik dan sekaligus pengawasan terhadap proses politik.

Dalam beberapa kasus ada seorang tokoh diundang ke Amerika, dan setelah itu tidak pernah berkunjung ke negeri Paman Sam lagi. Karena tidak ada komunikasi dan kerja sama lebih lanjut. Oleh karena terus membangun jejaring kerja sama, sampai saat ini saya sudah 8 (delapan) kali diundang ke USA. Seperti menjadi pembicara pada “People’s Perspective of Global Development” di Washington DC, pada th 1990, bersama Dr. Walden Bello, seorang tokoh pemrakarsa World Social Forum; Dr. Vandana Shiva, seorang ecologist dari India; Dr. Leonora Breones, pendiri Global Anti Debt Coalition dari Philippnes dll. Pada th 1992 diundang ke 777 the United Nations Plaza, New York, sebagai panelist tentang “The Role of the World Financial Institutions in the Democratization of the United Nations” bersama Inge Kaul, pemimpin redaksi Human Development Indext Report UNDP dan DR. Clarence Diaz, Director Center for Law and Development. Pada tahun 1994 diundang ke Fordham University, New York sebagai panelist ttg “The Role of the United Nations in the Peace Making, Peace Keeping and Peace Making”, bersama al DR. Robert Muller, salah seorang pendiri PBB; DR. Saul Mendlovich Director WOMP (World Order Models Project) dll. Saya merasa bahwa Matan Keyakinan dan Cita-cita hidup Muhammadiyah, Muqoddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah benar-benar memberikan bekal yang sangat berharga dalam berbagai forum antarbangsa ini.

Sesuai dengan perkembangan persyarikatan Muhammadiyah dan sejawatnya ICMI (Ikatan Cendekiawan Musliam Indonesia) atas inisiatif dari DR. BJ Habibie, President IDB (Islamic Development Bank) Jeddah; DR. Ahmad Totonji, Sekjen IIIT (International Insitute of Islamic Thought), Washington DC dll, pada th 1996 didirikan IIFTIHAR (International Islamic Forum on Science, Technology and Human Resource Development), didirikan di Jeddah dan sebagain deklarasinya ditanda tangani di depan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Lembaga ini menfokuskan diri dalam kerja sama antar pakar muslim baik di negara-negara anggota OKI maupun lainnya, seperti di Amerika, Jerman, Perancis, Belanda, Inggeris dsb di bidang Iptek dan Sumber daya manusia. Lembaga ini diketuai oleh DR. BJ Habibie dengan wakilnya DR. Ahmed Mohammed Ali, President IDB Jeddah; SekJen Rabithah al Alam al Islami, Saudi Arabia; DR. Neckmetin Erbakan, Perdana Menteri Turki; Dato Seri DR. Anwar Ibrahim, Wakil Perdana Menteri Malaysia; DR. Abdul Hamid AbuSulayman President IIIT USA: Let Jen Ahmad Tirto Sudiro; dengan Sek Jen Prof. Zuhal, Menristek Ketua BPPT; Anggota Dewan Eksekutif DR. Surin Pitsuwan, Menlu Thailand; Prof. Ibrahim BaDran, Menteri Kesehatan Mesir; Prof. Hamidullah, Rektor Hamdard University, India dll. Penulis dipilih menjadi Executive Director IFTIHAR yang berkantor di BPPT Lt 16, di Jalan Thamrin, Jakarta. Bersamaan dengan itu saya terpilih menjadi SekJen IIIT Indonesia. Kepercayaan ini saya anggap sebagai kepercayaan kepada putra Muhammadiyah. Dan bagian dari menjadi Muhammadiyah di bidang kerja sama pengembangan Iptek dan sumber daya manusia di dunia Islam. Suatu area kerja sama yang sangat strategis dan berorientasi masa depan. Karena pada masa itu, negara-negara Islam yang menjadi anggota OKI (Organisasi Konperensi Islam) sedang mengalami kebangkitan, pada abad ke 15 Hijriyah.

*******

Ketika Reformasi bergulir pada  1998, pada saat masyarakat Indonesia dalam situasi euforia, dengan munculnya partai-partai politik baru, termasuk partai-partai Islam, saya menerima telpon dari DR. Ahmad Totonji, IIIT,  dan Syech DR. Yusuf Qaradlawi yang pada saat itu berada di Jeddah. Mereka menanyakan situasi reformasi di Indonesia. Dan DR. Yusuf Qaradlawi bertanya apakah perlu mereka bersillaturrahmi dengan DR. BJ Habibie, yang pada waktu itu menjadi President, dengan ketua-ketua partai yang berhaluan Islam; untuk menfasilitasi sillaturrahmi dan mengokohkan persatuan ummat Islam. Saya mengatakan kepada DR. Yusuf Qaradlawi, ide yang sangat bagus, apabila para ulama dan tokoh Islam dari beberapa negara dapat bersillaturrahmi ke Indonesia. Maka hadirlah DR. Yusuf Qaradlawi dari Qatar bersama Prof. Mohammad Omar Zubair, mantan Rektor King Abdul Aziz University, Saudi Arabia, DR. Ahmad Totonji, Sek Jen IIIT USA, Shaikh Jamal Shirawan, Makkah dll dan dapat bertemu dengan DR. BJ Habibie, President; Prof. Zuhal , Menristek dan Ketua BPPT; Let Jen Ahmad Tirto Sudiro, Ketua DPA; Let Jen Maulani, Kepala BIN; DR. Gubernur BI; DR. HM Amien Rais, Ketua DPP PAN; Prof. Yusuf Amir Feisal, Wakil Ketua DPP PBB; DR. Hidayat Nurwahid, Ketua PKS  dan pimpinan-pimpinan partai lainnya. Juga pertemuan dengan DR. Noercholish Madjid, Rektor Universitas Paramadia dan Majelis Pusat ICMI serta para tokoh cendekiawan muslim lainnya. Sebagai orang Muhammadiyah saya merasa bahagia karena diterima oleh berbagai kalangan partai dan kelompok cendekiawan muslim, dan dapat menfasilitasi sillaturrahmi antar pimpinan partai yang berhaluan Islam.

Sebagai organisasi yang telah berkhidmad kepada umat dan bangsa sejak sebelum lahirnya negara kebangsaan Republik Indonesia ini, sepatutnya memberikan sautan yang arif terhadap panggilan hakikinya, sesuai dengan kematangan usia dan luasnya kegiatannya. Dalam usianya yang satu abad, Muhammadiyah pada saat ini menghadapi berbagai tantangan dan panggilan baru yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dalam konteks globalisasi, atau kesejagatan, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai “al ‘aulamah”, yang cenderung menciptakan dunia yang anomali, Muhammadiyah dipanggil untuk menjadi “reservoir” spiritualitas, nilai dan makna hidup. Dan sekaligus pemandu jalan menuju keutamaan hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun sebagai warga dunia. Untuk itu sudah selayaknya apabila para pendukung amanat persyarikatan, sebagai gerakan Islam, tajdid, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar; untuk mengaktualkan kembali nilai-nilai utama dan panggilan awal Muhammadiyah dan ideologi dasarnya, sebagaimana yang tertuang dalam Muqaddimah AD Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dll.

Berbagai pokok-pokok pemikiran ideologis dan tuntunan baku Muhammadiyah tersebut merupakan khazanah “organic wisdom” yang sangat kaya dan mendasar, yang merupakan acuan dan sekaligus sumber inspirasi dalam kehidupan pribadi, berorganisiasi, bermasyarakat dan bernegara, maupun sebagai warga dunia. Berbagai kebijakan organic tersebut merupakan kekayaan budaya dan spiritual yang menjadikan Muhammadiyah mampu menghadapi berbagai perkembangan zaman, termasuk di era globalisasi ini.

Patut disyukuri bersama, bahwa Muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah, tajdid, amar ma’ruf nahi munkar telah berhasil menghimpun masyarakat dan menggerakannya untuk membangun dan menghimpun modal sosial yang sangat berharga, dalam bentuk berbagai amal usaha yang tersebar luas di seluruh wilayah tanah air. Berbagai amal usaha tersebut merupakan refleksi dari kepercayaan (amanah/trust) yang diberikan oleh masyarakat.

Strategi kebudayaan pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa oleh Muhammadiyah yang dilakukan secara holistic, berbasis “Organic Wisdom” : Mukaddimah AD, MKCH (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup), Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah dll yang rumusannya bukan dilakukan oleh seorang tokoh dan sekali jadi. Tetapi merupakan rumusan dasar yang menyahuti perkembangan dan panggilan zaman yang terus berubah dalam sidang-sidang tanwir dan menjadi “tuntunan baku” Persyarikatan Muhammadiyah. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here