Menjadi Muhammadiyah dalam Pergolakan Politik Nasakom dan Long March Kokam di Awal Orde Baru

0
139
Dr M. Habib Chirzin

Ini adalah seri kedua dari catatan Dr M. Habib Chirzin tentang bagaimana menjadi Muhammadiyah lintas waktu menuju masyarakat ilmu dan tajdid peradaban.

KLIKMU.CO

Pembubaran pandu HW (Hizbul Wathan) bersama dengan pandu-pandu lainnya: KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia, Pandu Ansor, Pandu Rakyat, Pandu Islam dll) pada awal 1960 oleh Pembesrev (Pemimpin Besar Revolusi) Bung Karno benar-benar membuat saya sedih. Karena baru naik dari Athfal menjadi pengenal.

Namun, yang paling menyedihkan, sebenarnya adalah hilangnya mata rantai dasar bagi penanaman nilai-nilai ke-Muhammadiyahan yang bersifat universal. Pada masa transisi tersebut sempat mengikuti Jambore Pengenal dan Penghela HW di Ngijon, sebelah barat Kota Yogyakarta. Dalam masa peralihan itu kami pandu HW Kotagede membuat kamperen/camping di Prambanan, di sebelah barat Candi. Pada saat itu Panggung terbuka Ramayana di halaman candi Prambanan yang menjadi kebanggaan Bung Karno sedang dibangun.  Setiap malam tiba, kami selalu siaga, karena ada informasi bahwa akan ada gangguan dari Pandu Rakyat, yang berhaluan kiri. Ketegangan politik antara kekuatan Nasakom juga merembet ke dunia kepanduan, yang seharusnya independent dari semua kegiatan politik praktis.

Menjelang terjadinya peristiwa Gestapu PKI pada th 1965, situasi politik nasional semakin memanas. Tidak terkecuali di Kotagede dan Yogyakarta pada umumnya. Persaingan antar anak muda tercermin dalam berbagai pawai-pawai, peresaingan di dunia kesenian dan kebudayaan dengan kelompok-kelompok seni yang berhaluan realisme sosial, yang dalam kritik-kritik sosialnya sering menyinggung masalah-masalah keagamaan, bahwa keimanan, lomba Drum Band yang hampir terselenggara pada setiap peringatan hari besar nasional maupun berbagai karnaval organisasi.

Suasana persaingan yang memanas itu membuat pemuda Muhammadiyah dan NA membuat program dakwah “Turba” (turun ke bawah), sampai ke ranting-ranting di desa-desa di pinggir gunung, Situasi yang penuh dinamika itu mematangkan kepribadian dalam menghadapi persaingan, ketegangan sosial maupun konflik-konflik. Seragam Kokammenjadi kebanggaan anak-anak muda pada waktu itu, yang biasanya dilandasi dengan latihan pencak silat di Serambi Masjid Perak, Mushalla Aisyiyah atau di pendopo-pendopo tokoh-tokoh Muhammadiyah. Semakin semarak ketika Tapak Suci berdiri di Kauman Yogya, dengan tokoh-tokohnya pendekar Jundan, Bari dll.

Suasana progressive revolusioner yang  digelorakan oleh Bung Karno juga mewarnai kehidupan Pemuda Muhammadiyah yang juga menyulut persaingan yang lebih panas dengan kelompok pemuda nasionalis dan komunis. Terlebih-lebih menjelang meletusnya G 30 S PKI, kegiatan latihan Pemuda Rakyat yang mengarah kepada kegiatan yang militeristik, bahkan berkeliling kampung di Kotagede, dengan membawa bambu runcing (seolah-olah senjata api) dan memberi tanda-tanda tertentu di atas pintu-pintu rumah milik tokoh-tokoh Muhammadiyah dll. Konon tanda-tanda itu merupakan kode rahasia untuk “dieksekusi” apabila G 30 S PKI berhasil.

Dinamika politik tahun 1960-an melahirkan Kokam (Komando Kesiap siagaan Muhammadiyah). Pada awal tahun 1966 penulis menghadiri apel siaga KOKAM di stadion Kridosono, Yogyakarta, dengan komandan Upacara Pak Muhadi Zaenal, SH, orang tua angkat Mbak Siti Noerjanah Johantini, dengan dikawal oleh 2 orang anggota RPKAD. Mas Muhadi Zaenal yang waktu itu menjadi ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah nampak sangat gagah dengan memakai kabaret merah RPKAD. Sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah dan anggota Kokam, saya punya kenangan  indah ketika mengikuti “long march” dengan berjalan kaki dari Wates, Kulon Progo, ke Yogyakarta dengan jaket kuning dan kabaret kuning.

Di sepanjang jalan, banyak masyarakat yang mengelu-elukan. Dan tidak sedikit yang menyediakan minuman dan makanan untuk peserta long march Kokam tersebut. Upacara penerimaan peserta Long March dilakukan di lapangan Gampingan, sebelah barat Kota Yogyakarta.  Sebenarnya “long march” ini merupakan latihan kesiap siagaan Kokam dan juga sekaligus “show of force” Angkatan Muda Muhammadiyah. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here