Menjadi Muhammadiyah di Lingkungan PP Muhammadiyah Sebelum di Lingkungan PP Pemuda Muhammadiyah

0
194
Dr M. Habib Chirzin

Ini adalah seri ketiga dari catatan Dr M. Habib Chirzin tentang bagaimana menjadi Muhammadiyah lintas waktu menuju masyarakat ilmu dan tajdid peradaban.

KLIKMU.CO

Oleh karena keterlibatan dalam berbagai kegiatan pelatihan/training kaderisasi Pemuda Muhammadiyah, IPM, IMM, PII dan HMI, penulis diminta untuk masuk dalam kepengurusan Biro Organisasi dan Kader PP Muhammadiyah, pada tahun 1975-an, yang dipimpin oleh Drs. Muhammad Djazman Al Kindy bersama Pak Bahar Herulaksono, Mas Arief Hasbu, Mas Sukiryono, Mas Rosyad Sholeh BA. Adapun anggotanya yang muda antara lain, Mas Zamroni, BA (sekarang Prof. Dr.), Alfian Darmawan (Mantan Sekjen IMM dan PR II UMY) dan penulis sendiri yang waktu itu masih kuliah di UGM, Yogyakarta.

Pada saat itu, kegiatan BOK, banyak mengarah kepada membangun “manajemen gerakan/sosial” dengan “tertib organisasinya”, mengembangan “Gerakan Jamaah” dan “Dakwah Jamaah”. Kecintaan dan keterlibatan saya dalam Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah ini saya hayati benar-benar, oleh karena menurut saya pusat gerakan dan juga kekutana persyarikatan Muhammadiyah ini sejatinya berada di dalam jamaah, komunitas basis, ranting-ranting dan cabang-cabangnya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

Menjadi Muhammadiyah di lingkungan bersama PP Muhammadiyah ini lebih dulu daripada di lingkungan dan bersama PP Pemuda Muhammadiyah. Oleh karena penulis baru terlibat dalam kepengurusan PP Pemuda Muhammadiyah sejak Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Semarang 1976, yang mengakhiri periode Pak Luqman Harun digantikan oleh Mas Sutrisno Muhdam, BA. Semula penulis masuk dalam kepengurusan Departemen Tabligh Pemuda Muhammadiyah bersama  Pak Muflich Dachlan, Kang Bisyron Achmadi, Kyai Sugiyanto dll. Pada saat itulah penulis beberapa kali diundang ke Luar Negeri untuk mengikuti berbagai kegiatan pemuda di kawasan Asia Pacific, seperti “Consultation on Land” di Colombo Sri Langka.

Pertemuan the Young Theologian in Asia and Pacific pada 1977 di Hong Kong. Asian Youth Conference oleh UNESCO tentang “The Youth Development in Asian Perspective” di Tribhuvan University, Kathmandu, Nepal, September 1978. Diundang mengikuti Development Workers Program (DWP) 1978  yang merupakan kerja sama antara ACFOD (Asian Cultural and Religious Forum on Development) dengan FFHC (Freedom from Hunger Campign) dan FAO AD (Food and Agricultural Organization, Action for Development) Asia Pacific di Bangkok. Program ini memilih 7 orang pemuda pelopor pembangunan berdasar nilai-nilai budaya dan agama di Asia untuk melakukan pertukaran pengalaman dan belajar dari lapangan di 7 negara Asia Tenggara dan Asia Selatan : Thailand, Philippines, Malaysia, Indonesia, Sri Langka, Bangladesh dan Nepal.

Program pertukaran dan kerja sama pembangunan pemuda ini telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk membangun jejaring dan kerja sama dengan gerakan pemuda Islam dan pemuda pada umumnya di negara-negara kawasan Asia dan Pacific. Misalnya, pertemuan di Islamic Secretariat Sri Langka di Fareed lane, Colombo. Pusat Dakwah Islam Wilayah Persekutuan di Kuala Lumpur. Pada bulan September 1976 saya diminta berbicara di depan muktamirin pada Mesyuarat Agung (Muktamar) Muhammadiyah Singapura, yang pada masa itu ibu pejabatnya (kantor pusat) masih di lorong Tai Seng, dekat bandara yang lama, Paya Lebar. Dan sudah barang tentu pertemuan dengan Bahagian Pemuda Muhamamdiyah Singapura yang pada masa itu pengerusinya (ketua) adalah seorang penyair terkenal Djamal Tukimin. Salah seorang dari Punca Sembilan pemuisi Singapura.

Karena masyarakat Asia adalah masyarakat religious yang juga memiliki kebudayaan yang panjang, maka agar pembangunan menjadi proses memanusiakan manusia dari dalam (development from within), oleh para tokoh pembangunan dan sodial dilakukan pendekatan religius dan kultural. Dialog antar agama dan pembangunan “apa tanggung jawab iman dan orang yang beriman dalam pergulatan bangsa-bangsa di Asia dalam pembangunan”. Pada bulan Januari 1976 diundang menjadi pemakalah dalam konperensi Asia “Consultation on Land” di Colombo, Sri Langka, kerjasama ARI (Asian Rural Institute), Jepang , Sarvodaya (Langka Jatika Sarvodaya Sangamaya), Agriculture Mission Incorporated USA dll. Kemudian International Conference on the Impact of Development to the Rural Community in Asia” di Candidasa, Bali, Juli 1976. Sejak saat itu banyak terlibat dalam forum-2 nasioanal, regional dan internasional.

Pada th 1977 diundang ke Hong Kong, the Young Theologian and Development. Kerjasama antara ACFOD dengan ISD Paris 1979 sd 1982 kemudian SEARICE terpilih menjadi President sampai sekarang. Pada th 1994 menjadi International Advisory panel GEA (Global Education Associates) dan JUST (International Movement for the Just World). GNH, WANGO bersama Cat Steven, Character Education Dept Federation of Peace.

Menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah th 1980 di Pondok Gede, saya berangkat dari Bandung, karena diundang menjadi pembicara dalam konperensi FABC (Federation of Asian Bishop Conference). Dalam tema “Puasa dan Pembangunan Manusia” yang dihadiri oleh Uskup-uskup Katolik dari berbagai negara di Asia, Philippnes, Jepang, Korea, Thailand, India, Malaysia dll, yang diketuai oleh Bishop Mansap dari Thailand.

Hidup berbekal Matan Keyakinan dan Cita-2 Hidup Muhammadiyah dan Kepribadian Muhammadiyah yang inspiring sebagai organic wisdom dalam masyarakat madani global. Kepribadian Muhammadiyah yang inspiring mengilhami penulis untuk menekuni kegiatan dalam peace studies, peace education and peace movement. Perkenalan dengan IPRA (International Peace Research Association) dimulai dengan kunjungan DR. Anne Marrie Hollenstein dari kelompok Bern Declaration, Swiss, yang peduli terhadap keamanan pangan (food security) dan perdamaian. Jadi saya masuk ke peace studies mulai dari “Peace and Food Security”. Ketika saya bersama Hindun Fauziah, isteri, berinisiatif mendirikan “Forum on Peace and Development Ethics Studies” di Wijilan, Yogyakarta, pada th 1982; kemudian banyak kawan-kawan yang berkunjung ke rumah, seperti alm Prof. Herb Feith dari Monash Univ, Australia dan DR. John Barnard dari VAPS (Victoria Association for Peace Studies). Herb Feith pernah menulis ttg saya dan Peace Forum ini dalam sebuah majalah Peace Studies di Australia sekitar th 1983. Kemudian sahabat karib saya  MA Sabur, Coordinator ACFOD dan Sek Jen AMAN. Juga DR. Randy David dr Third World Studies Center, UP Diliman, Manila, bersama isterinya DR. Karina David, yg kemudian menjadi Menteri Sosial Philippines,; yang datang bersama DR. Arief Budiman.

Karena masyarakat Asia adalah masyarakat religious yang juga memiliki kebudayaan yang panjang, maka agar pembangunan menjadi proses memanusiakan manusia dari dalam (development from within), oleh para tokoh pembangunan dan sodial dilakukan pendekatan religius dan kultural. Dialog antar agama dan pembangunan “apa tanggung jawab iman dan orang yang beriman dalam pergulatan bangsa-bangsa di Asia dalam pembangunan”. Pada bulan Januari 1976 diundang menjadi pemakalah dalam konperensi Asia “Consultation on Land” di Colombo, Sri Langka, kerjasama ARI (Asian Rural Institute), Jepang , Sarvodaya (Langka Jatika Sarvodaya Sangamaya), Agriculture Mission Incorporated USA dll.

Kemudian International Conference on the Impact of Development to the Rural Community in Asia” di Candidasa, Bali, Juli 1976. Sejak saat itu banyak terlibat dalam forum-2 nasioanal, regional dan internasional. Pada th 1977 diundang ke Hong Kong, the Young Theologian and Development. Kerjasama antara ACFOD dengan ISD Paris 1979 sd 1982 kemudian SEARICE terpilih menjadi President sampai sekarang. Pada th 1994 menjadi International Advisory panel GEA (Global Education Associates) dan JUST (International Movement for the Just World). GNH, WANGO bersama Cat Steven, Character Education Dept Federation of Peace.

Menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah th 1980 di Pondok Gede, saya berangkat dari Bandung, karena diundang menjadi pembicara dalam konperensi FABC (Federation of Asian Bishop Conference). Dalam tema “Puasa dan Pembangunan Manusia” yang dihadiri oleh Uskup-uskup Katolikdari berbagai negara di Asia, Philippnes, Jepang, Korea, Thailand, India, Malaysia dll, yang diketuai oleh Bishop Mansap dari Thailand.

Hidup berbekal Matan Keyakinan dan Cita-2 Hidup Muhammadiyah dan Kepribadian Muhammadiyah yang inspiring sebagai organic wisdom dalam masyarakat madani global. Kepribadian Muhammadiyah yang inspiring mengilhami penulis untuk menekuni kegiatan dalam peace studies, peace education and peace movement. Perkenalan dengan IPRA (International Peace Research Association) dimulai dengan kunjungan DR. Anne Marrie Hollenstein dari kelompok Bern Declaration, Swiss, yang peduli terhadap keamanan pangan (food security) dan perdamaian. Jadi saya masuk ke peace studies mulai dari “Peace and Food Security”. Ketika saya bersama Hindun Fauziah, isteri, berinisiatif mendirikan “Forum on Peace and Development Ethics Studies” di Wijilan, Yogyakarta, pada th 1982; kemudian banyak kawan-kawan yang berkunjung ke rumah, seperti alm Prof. Herb Feith dari Monash Univ, Australia dan DR. John Barnard dari VAPS (Victoria Association for Peace Studies). Herb Feith pernah menulis ttg saya dan Peace Forum ini dalam sebuah majalah Peace Studies di Australia sekitar th 1983. Kemudian sahabat karib saya  MA Sabur, Coordinator ACFOD dan Sek Jen AMAN. Juga DR. Randy David dr Third World Studies Center, UP Diliman, Manila, bersama isterinya DR. Karina David, yg kemudian menjadi Menteri Sosial Philippines,; yang datang bersama DR. Arief Budiman. Muhammadiyah yang memiliki konsep “Kepribadian Muhammadiyah” yang merupakan rumusan sikap menghadapi rezim orde lama, yang menekankan kepada membangun perdamaian, kesejahteraan dan kerja sama dalam perjuangannya, sungguh sangat mengilhami kegiatan penulis pada tahun 1980an-1990-an bahkan sampai saat ini. Kepribadian Muhammadiyah ini merupakan tuntunan hidup yang sangat inspiratif.

Berbagai pengalaman di bidang training, pengembangan masyarakat lewat lembaga keagamaan, membangun gerakan sosial lewat seni dan kebudayaan, merajut jejaring sosial, budaya dan keagamaan di kalangan kawula muda serta berbagai metode dan tehnik pelatihan ini kemudian penulis sumbangkan kepada Pemuda Muhammadiyah, IPM dan IMM untuk mengembangan kegiatan dakwah maupun pelatihan pengkaderan. Hal ini ditambah dengan pengalaman penulis yang diundang menjadi peserta konperensi internasional ISD (International Study Days for Society over coming domination) di Rio de Janeiro, Alagamar, Joao Pessoa dan Reciffe di Brazil, Amerika Latin pada th 1979. Dimana penulis terpilih menjadi anggota Secretariat ISD yang berkedudukan di Paris pada th 1980 dan 1982. Ini semua membuat penulis dipindah dari Departemen Tabligh ke Departemen Kader PP Pemuda Muhammadiyah setelah Muktamar di Jakarta pada th 1980.

Sebagai pengurus PP Pemuda Muhammadiyah sering mendapat mandat menghadiri Sidang-sidang Tanwir Muhammadiyah maupun pertemuan-pertemuan PP Muhammadiyah, yang dihadiri oleh para tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Prof. DR. HM Rasyidi, KH Abdul Kahar Muzakkir, KH Badawi, Buya HAMKA, Buya A Malik Ahmad, Pak Kasman Singodimedjo dan tentu saja Pak AR Fachruddin, Pak Djarnawi Hadikusumo, Pak Djindar Tamimi dll. Pada kesempatan seperti itu kami generasi muda banyak menimba ilmu dan pengalaman, juga semangat dan kearifan dari para sesepuh Muhammadiyah.

Pergumulan dengan masalah-masalah mendasar yang bersifat ideologis bahwa pandangan dunia Islam pada tahun-tahun 1970-an mendewasakan penulis di dalam menjadi Muhammadiyah. Pada tahun-tahun 1970-an Muhammadiyah mengalami kekurangan dinamikanya. Ada masalah internal dan eksternal yang menyebabkannya. Sehingga Pak AR Fachruddin pada waktu itu sering menyebutnya “Muhammadiyah itu Godal gadul”. Atas ide Mas Djazman dan kawan-kawan dibentuklah suatu kelompok diskusi terbatas PP Muhammadiyah, untuk mendiskusikan apa saja untuk mengembangkan wawasan dan mengasah pemikiran, tetapi hasilnya tidak ada bhubungannya dengan kegiatan resmi PP Muhammadiyah. Kegiatan ini dilakukan setiap dua malam Jum’at sekali di di Masjid Taqwa, Suronatan dengan anggotanya KH Bakir Soleh, Pak AR, Pak Djindar, Pak Djarnawi, Ust Ahmad Azhar Basyir, Ir Basit Wachid, Drs, Djazman Al Kindy, Drs. M. Amien Rais, MA, Drs. Yahya Muhaimin, MA; Drs. Ahmad Syafii Maarif, MA, Alfian Darmawan dan penulis. Dengan sekretarisnya Mas Chusnan Yusuf. Kegiatan diskusi terbuka kelompok terbatas berjalan secara intensif setiap dua minggu sekali, pada malam Jum’at di Masjid Taqwa, Suronatan, Yogyakarta. Pada waktu itu Gedung Dakwah, Suronatan belum berdiri. Menurut Adik Alfian Darmawan, diskusi-2 ini dan juga diskusi-2 yang sering kami lakukan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, merupakan embrio dari pendirian UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Kegiatan diskusi terbatas ini terhenti oleh karena pindahnya Mas Chusnan Yusuf ke Jakarta dan perginya beberapa anggotanya seperti Mas Amien Rais dan kawan-kawan melanjutkan studi ke luar negeri.

Kegelisahan Muhammadiyah yang memakai bahasa Pak AR, “godal gadul”, ini kemudian dicari jalan keluarnya antara lain dengan dibuat seminar nasional tentang Muhamamdiyah di kampus UMS pada sekitar th 1982-an. Dengan menghadirkan para tokoh_2 sepuh Muhammadiyah seperti Prof. DR. Muhammad Rosyidi, Prof. DR. HA Mukti Ali, KH Hassan Basri, DR. Anwar Haryono, Buya A Malik Ahmad dll. Juga mengundang para pembicara dari kalangan kampus, seperti DR. Mubyarto, DR. Kartodirjo, DR. Simuh dll. Dan pembiara dari luar Muhammadiyah, seperti KH M Yusuf Hasyim, pimpinan Pondok Tebuireng, Jombang. Pada waktu itu saya berpanel bersama DR. Mubyarto, tokoh Ekonomi Pancasila dari UGM dan DR. Kartodirjo dari UMS dengan Moderator DR. HM Amien Rais, yang belum lama kembali dari Chicago.

Dari serangkaian seminar dan diskusi-diskusi intensif di kalangan PP Muhammadiyah pada saat itu disepakati bahwa untuk menggerakkan Muhammadiyah perlu dilakukan kajian kembali secara mendasar konsep “Addienul Islami” dan Kemuhammadiyahan. Maka dibentuk suatu kepanitiaan kecil untuk merumuskan “Addienul Islami” ini yang diketuai oleh Prof. HM Rosyidi, dengan wakil-2nya Prof. DR. A Mukti Ali, KH Hassan Basri (mantan Ketua MUI), DR. Anwar Haryono (alumni Muallimin Muhammadiyah Yogya yang menjadi Ketua DDII), Ustadz KH Ahmad Azhar Basyir, MA; dengan anggota , KH AR Fachruddin, DR. HM Amien Rais dll. Sedang sekretarisnya KH M Djindar Tamimi dan Habib Chirzin. Pada saat itu pertemuan-2 pembahasan konsep “Addienul Islami” sangat intensif dilakukan. Saya menjadi sering bertemu Prof. Mukti Ali dan tidak jarang ikut mobilnya ke rumah. Bahkan Bapak Djindar Tamimi pernah juga ke rumah saya yang berada di daerah Wijilan, sebelah timur Alun-alun Utara Yogyakarta. Demikian pula saya sering ke purpastakaan pribadi Mas Amien Rais yang baru kembali dari Chicago. Dan memiliki koleksi kitab-kitab yang berbahasa Arab yang cukup banyak, selain yang berbahasa Inggeris. Bahkan saya yang waktu itu diperbolehkan masuk ke perpustakaan pribadinya kapan saja. Pernah suatu ketika Mas Amien Rais datang ke rumah saya pagi-pagi untuk mengambil buku yang saya pinjam untuk kepustakaan panitia perumusan “Addienul Islami”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here