Menko PMK: Kelangkaan Obat Jadi Masalah Penanganan Covid-19

0
139
Menteri PMK Muhadjir Effendy. (Humas Kemenko PMK)

KLIKMU.CO – Saat ini terjadi kelangkaan obat yang digunakan dalam menangani pasien Covid-19. Tidak hanya terjadi di satu daerah, bahkan berskala nasional. Hal itu disampaikan Menko PMK Muhadjir Effendy.

“Masalah obat ini nanti saya diskusikan dengan Pak Menkes. Ini persoalan nasional karena obat-obat ini masih impor,” ujar Menko PMK usai mengunjungi RSUD Ulin Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (4/8).

Di antara obat tersebut, menurut dia, obat antiviral yang paling penting harus dijamin ketersediaannya. Ia bahkan menekankan bahwa ketersediaan obat antiviral tidak boleh hanya ada di RS, melainkan harus tersedia di tingkat bawah: puskesmas.

Apalagi, angka kematian Covid-19 relatif banyak karena mereka yang semula isoman di rumah setelah parah baru datang ke RS. Alhasil, belum sempat mendapatkan tindakan di IGD, pasien sudah tidak dapat tertolong.

“Masalahnya, kelangkaan obat-obat ini juga sudah sangat mendesak. Memang di samping langka, kebutuhannya mendesak karena untuk mereka yang kondisinya buruk dan kritis,” tutur mantan rektor UMM itu.

Muhadjir juga meminta masyarakat agar tidak menyepelekan Covid-19. Artinya, ketika merasakan gejala harus segera lapor ke puskesmas. Namun, banyak masyarakat yang enggan lapor ke puskesmas karena menganggap Covid-19 tidak berbahaya. Kendati ada juga yang sebaliknya, mereka yang berstatus OTG justru langsung datang ke RS.

“Inilah pentingnya juga memberikan edukasi dan pengetahuan kepada masyarakat. Covid-19 ini jangan ditunda-tunda, jangan kemudian ditahan-tahan, harus lapor kemudian dibawa ke RS. Akan tetapi, memang sebaiknya kalau masih OTG jangan keburu-buru dibawa ke RS, lapor dulu ke puskesmas,” terangnya.

Meski begitu, Muhadjir cukup lega. Sebab, pemerintah telah menerima 20.102 vial remdesivir dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Bantuan itu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan dalam penguatan penanganan Covid-19.

Kedatangan obat terapi Covid-19 dari Amsterdam ke Bandara Soekarno-Hatta tersebut terbagi dalam dua tahap. Yaitu 31 Juli sebanyak 11.520 paket dan 2 Agustus sebanyak 8.582 paket. Masing-masing paket berisi 1 botol 100 mg remdesivir.

“Atas nama pemerintah Indonesia, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas hibah ini,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Muhadjir juga mengapresiasi upaya Kementerian Luar Negeri dalam kerja sama antarnegara untuk pengadaan obat-obatan dan vaksin dalam rangka mempercepat penanganan pandemi Covid-19.

Menko PMK lantas menekankan pentingnya gotong royong dan kerja sama semua pihak dalam penanganan pandemi Covid-19. Ia juga meminta Kemenkes segera dapat mendistribusikan remdesivir sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Saya juga berharap Kemenkes segera melakukan penguatan data kebutuhan obat agar permasalahan di lapangan terselesaikan,” paparnya.

Sebelumnya, pemerintah juga sudah mendatangkan vaksin Moderna pemberian dari pemerintah Amerika Serikat melalui COVAX Facility sebanyak 3,5 juta dosis dan 620.000 dosis vaksin AstraZeneca yang merupakan hasil kerja sama bilateral Indonesia dan Inggris. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here