Menko PMK Muhadjir Effendy: Tolok Ukur Iliterasi Bukan Hanya Masalah Baca-Tulis

0
106
Prof Dr Muhadjir Effendy MAP saat mengisi Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (FPPTMA) Wilayah Jawa Timur. (Ade/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (FPPTMA) Wilayah Jawa Timur mengadakan webinar nasional dengan mengangkat topik Persiapan Perpustakaan Menghadapi Pendidikan Jarak Jauh, Kamis (13/8). Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK RI) Prof Dr Muhajir Effendy MAP didapuk sebagai keynote speaker dalam acara yang menghadirkan sejumlah kepala perpustakaan PTM/A sebagai pemateri ini.

Para narasumber adalah Kepala Perpustakaan UMM Dr Asep Nurjaman MSi, Kepala Perpustakaan UMY Drs Lasa HS MSi, Kepala Perpustakaan UNISA Irkhamiyati MIP, Kepala Perpustakaan UM Bengkulu Drs Adi Asmara MPd, Kepala Perpustakaan UAD Drs Tedy Setiadi MT, Kepala Perpustakaan UM Sukabumi Yanti Sundari SSos, dan Kepala Perpustakaan UM Surabaya Dra Mas’ulah MA. Agenda webinar ini dilaksanakan melalui Zoom dan dapat disaksikan melalui YouTube.

Muhadjir Effendy dalam penyampainnya menyatakan, tantangan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah buta aksara masa kini. Dia menyebut ada proses iliterasi yang tidak disadari dan menjadi ancaman dalam upaya bangsa Indonesia membangun peradaban keilmuan bangsa ini. Iliterasi, kata Muhadjir, bukan berarti tidak bisa baca-tulis, tetapi adanya ketidakmauan dan ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mengolah informasi yang masuk ke dalam ruang kesadaran dirinya.

“Kita tahu baca-tulis itu penting. Tapi, itu bukan satu-satunya tolok ukur bahwa seseorang iliterasi (tidak terliterasi). Kita tahu bahwa perintah yang pertama yang disampaikan al-Quran adalah Iqro’ atau bacalah. Iqro’ itu bukan dalam artian membaca abjad, bukan hanya membaca huruf atau angka. Tapi sebetulnya adalah berkaitan dengan kemampuan untuk menangkap, memahami, dan mendalami informasi yang masuk ke dalam dirinya. Baik yang tertulis atau melalui fenomena alam,” kata Muhadjir.

Muhadjir lantas membagi dua tipe iliterasi, yaitu ada urban iliterasi dan rural iliterasi. Urban iliterasi adalah mereka yang mendapatkan limpahan informasi, tetapi dia gagal untuk menangkap secara dalam isi pesan. Sehingga dia hanya mendapatkan informasi yang sekilas atau superfisial (di permuakaan) saja. “Ciri sederhananya dari tipe ini adalah, kebanyakan dari mereka ketika membaca berita yang dibaca hanya judulnya saja. Parahnya, mereka langsung membuat kesimpulan dari judul itu,” katanya.

Sementara, lanjut Muhadjir, banyak yang membuat berita yang tidak cocok dengan isinya. Tujuannya sengaja untuk bertindak provokatif yang membaca. Sayangnya, orang yang diprovokasi hanya membaca judulnya. Muhadjir, sebagai pejabat publik, dalam penyampaiannya mengaku sudah berkali-kali dijebak dengan praktik ini. “Konyolnya, justru penggalan yang dia dapat itu bukan inti informasi. Ini sangat berbahaya. Karenanya kita harus perang melawan buta huruf urban ini,” ujarnya.

Kedua adalah rural iliterasi atau buta huruf pedesaan. Buta huruf ini, lanjutnya, diakibatkan dari terbatasnya akses informasi yang masuk ke alam kesadaran seseorang. Karena sangat terbatas, mereka yang buta huruf pedesaan tidak dapat membuat konstruksi informasi yang baik. “Dan buta huruf ini juga sangat berbahaya karena dapat menimbulkan misleading serta menimbulkan distorsi informasi yang sangat berbahaya terhadap perilaku para buta huruf pedesaan ini,” ungkapnya.

Perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat memanfaatkan semua karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media untuk mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta, mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. “Perpustakaan sangat penting dalam membangun kultur akademik PTM/A. Salah satunya, pepustakaan perlu memperkuat literasi informasi,” pungkas Muhadjir. (Ade/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here