Menulis di Zaman Old dan Zaman Now

0
100

Oleh: Hairus Salim HS *)

Apakah kira-kira yang membedakan para penulis di masa sekarang dengan dengan di masa lalu, sepuluh hingga beberapa puluh tahun lampau?

I
Para penulis generasi baru lahir bukan dari media cetak yang membatasi jumlah karakter atau kata yang mereka tulis. Ini yang membedakannya dengan penulis masa lalu. Para penulis masa lalu itu tak punya keleluasaan dan ruang yang jembar. Mereka dituntut untuk menulis dengan singkat dan efisien. Singkat dan efisien ini menjadi harga mati. Ruang yang tersedia di media cetak, entah itu koran atau pun majalah, sangat terbatas. Dua atau tiga lajur. Atau kalau hitungan sekarang maksimal 6000-7000 karakter. Ada banyak tulisan ditolak, bukan karena miskin argumentasi atau pun jelek narasi, tapi lebih karena dianggap terlalu panjang. Ketika redaktur meminta dipotong sekian alinea, mau tidak mau, si penulis harus tunduk. Atau tak jarang si redaktur langsung yang memangkasnya tanpa ampun.

Ruang itu namanya ‘kolom’ atau dalam bahasa Inggris ‘column’: ‘ruang pembagian vertikal dari sebuah halaman di majalah atau koran.’ Dan kolom berarti sebuah tulisan di koran atau majalah, biasanya pada subjek tertentu, yang selalu ditulis oleh orang yang sama dan muncul secara teratur, dan atau oleh penulis yang berbeda. Seorang kolomnis adalah seorang yang menulis kolom di koran atau majalah. (Jadi ingat kumpulan kolom H. Mahbub Djunaidi yang pernah dimuat di majalah Tempo diberi judul Dari Kolom ke Kolom (1986)

Kata ini berasal dari istilah di dalam dunia arsitektur yang berarti pilar tegak, biasanya berbentuk silindris dan terbuat dari batu atau beton, yang mendukung pilar, lengkungan, atau struktur lainnya atau berdiri sendiri sebagai monumen. Di dalam sebuah majalah, biasanya ada dua lajur kolom, sedangkan di koran bisa ada 3 – 4 lajur kolom.

Sebaliknya para penulis sekarang bisa menulis dengan leluasa dan mengeksploirasi gagasan seluas dan sebanyak mungkin. Rincian-rincian yang penting bisa dikemukakan secara maksimal. Argumentasi bisa dibangun lebih kuat. Narasi bisa dikembangkan lebih luas. Hampir tak ada batasan sama sekali. Tentu bisa saja tetap ada kebutuhan untuk tetap singkat dan padat, karena berkaitan dengan sasaran pembaca yang dituju, tetapi tuntutan ini pasti bukan harga mati. Bisa ditawar dan dirundingkan. Itulah kemerdekaan menulis di masa sekarang.

II
Di masa lalu hampir tidak mungkin jadi seorang penulis yang dikenal luas kalau tulisannya tidak pernah dimuat di koran atau majalah. Entah di level daerah atau pun nasional. Dengan demikian, terowongan untuk menjadi penulis amat sempit. Rekruitmennya sangat ketat sekali. Hanya tulisan yang benar-benar bagus yang bisa dimuat. Hanya penulis yang hebat yang benar-benar mendapat tempat. (Tak aneh kalau ‘Strategi Agar Tulisan Dimuat’ dulu menjadi salah satu materi dalam pelatihan penulisan).

Tetapi tidak selalu demikian juga. Redaktur yang bertugas menyeleksi tulisan juga manusia. Punya banyak kepentingan di luar soal tulisan. Maka kadang ada juga semacam ‘skandal’, tulisan seseorang dimuat bukan karena kualitasnya, tapi karena faktor pertemanan, karena sungkan yang menulis seorang terkenal, karena direkomendasi seorang yang berpengaruh, karena redakturnya dilobi dan ditemui langsung, karena redakturnya ‘disuap’ (bisa? bisa dong, kenapa tidak!), karena redakturnya diancam (memang ada? Ya ada dong), karena redakturnya senang dengan penulisnya, dan banyak lagi. Lalu tercetaklah tulisan yang pada dasarnya tidak terlalu bagus. Lalu muncullah penulis yang itu-itu saja.

Apapun bisa terjadi. Bagaimana pun juga koran dan media adalah otoritas satu-satunya saat itu, dan redaktur adalah pengambil keputusan yang utama apakah tulisan seseorang bisa dimuat atau tidak. Dialah sang penguasa.

Aturan main telah berubah. Sekarang koran dan majalah bukan lagi pemegang otoritas tunggal. Media cetak tetap penting, tapi bukan lagi yang utama. Para penulis muda sekarang bisa memulai menjadi penulis tanpa lewat koran atau majalah. Beberapa penulis muda terkenal –yang kebetulan saya kenal secara pribadi– pernah mengatakan bahwa mereka tak pernah menulis di koran atau majalah sebelumnya. Artinya mereka langsung masuk ke situs-situs online yang memberi ruang untuk menulis lebih terbuka.

Dengan demikian, jalan untuk menjadi penulis jauh lebih lebar. Bentuknya bukan lagi terowongan kecil, buram dan penuh rintangan. Prosesnya pun sangat terbuka dan relatif demokratis. Ada banyak situs sekarang yang memerlukan tulisan. Baik situs berbayar maupun gratis.

Orang bahkan bisa menulis dengan memulainya lewat status di akun fesbuk misalnya. Atau, kalau dulu, bisa membikin blog pribadi. Jika menarik, akan banyak orang suka dan rela membagikan. Beberapa redaktur situs kemudian memintanya untuk menulis secara khusus. Atau ketika mengirimkan tulisan, redaktur sebuah situs dengan mudah menerimanya. Yang dibutuhkan kemauan dan intensitas.

Para penulis bisa membagikan tulisannya lewat akun media sosialnya. Dengan keyakinan diri dan tanpa ragu sama sekali, mengopi link-nya dan menyebarkannya ke jejaring media sosial agar bisa dibaca lebih luas. Penulis sekarang harus berjuang mempromosikan tulisannya. Hal ini yang tidak perlu dilakukan oleh para penulis era media cetak. Sering bahkan ketika tulisannya dimuat, para penulis lama ini pura-pura tidak tahu, karena pasti publik pembaca akan tahu dengan sendirinya. Sebab hanya koran dan majalahlah sarana mediasinya satu-satunya.

III
Tapi berbeda dengan para penulis lama, para penulis era sekarang harus berhadapan dengan para pembacanya lebih interaktif. Tentu ada yang senang dan memuji. Tapi tak sedikit yang tidak suka yang dengan terbuka menyatakan ketidaksukaannya. Para penulis generasi baru ini harus berhadapan dengan para pembaca –yang sekarang disebut secara kabur sebagai ‘nitizen’–, yang akan mencibir, menyinyiri, mengritik, menghantam, dan lain-lain, bahkan dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Para penulis era cetak tidak menghadapi tantangan seperti ini. Setelah tulisan usai, mereka akan dapat honorarium dan dikenal. Jarang terjadi masalah, terutama juga karena tulisan yang telah dimuat telah melalui pertimbangan dan penyuntingan redaktur. Sebagian besar bahkan telah mengalami penghalusan.

Selain itu, ketika tulisan mereka dimuat, mereka seperti otomatis juga memperoleh dan mendapatkan otoritas untuk mengulas atau mengomentari perkara yang dituliskan. Otoritas media yang memuat seperti memantul ke otoritas si penulis.

Memang dalam era cetak saya pernah membaca keberatan orang terhadap sebuah tulisan, terutama dalam hal ini pejabat yang instansinya disindir atau dikritik, seperti yang pernah menimpa Mahbub Djunaidi (alm.) ketika menulis di Kompas dan Th. Sumartana (alm.) ketika menulis tentang TKW di majalah D&R. Keberatan yang menyangkut data dan opini, yang menurut si pejabat terkait, tidak sesuai fakta dan keliru. Keberatan itu dikirimkan ke redaksi dan dimuat di rubrik surat pembaca. Isinya dikemukakan dengan baik, sopan dan halus, meski ada nada kerasnya. Kemudian, sebagai kebiasaan, hal ini diselesaikan dengan klarifikasi dan rekonsiliasi. Setelah bertukar Tanya dan jawab, redaktur kemudian mengatakan secara resmi bahwa antara si penulis dan pihak yang merasa keberatan sudah bertemu dan masalah sudah dianggap selesai. Itulah masa media cetak, juga masa kekuasaan Orde Baru.

Para penulis sekarang, sebaliknya, harus rajin menjawab pertanyaan dan terampil melayani perdebatan. Selain itu, mereka juga harus punya nyali untuk menghadapi kritikan secara langsung para pembacanya. Terutama dalam hal ini jika ia menulis esai opini yang berhubungan dengan masalah politik dan penilaian suatu kelompok. Dalam tingkat tertentu, yang keluar bukan lagi keberatan atau kritikan, tapi sudah cacian dan hinaan. Para penulis baru ini ini, dengan demikian, juga harus memiliki mental yang tangguh.

IV
Terakhir, penulis masa lalu terbatas menulis ‘kolom’, sebuah esai atau artikel, yang biasa disebut sebagai rubrik opini. Biasanya di luar rubrik opini, seperti laporan tentang perjalanan atau sebuah feature dengan nuansa human-interest yang tinggi, penulisannya akan dilakukan oleh anggota redaksi sendiri. Ini praktik umum jurnalisme di Indonesia. Agak berbeda dengan di luar negeri, yang mengenal para freelancer writer, penulis lepas, yang bukan ‘kolomnis’ dengan tulisan khusus model opini. Para penulis lepas ini, menulis banyak topik yang diolah dari riset pustaka, wawancara, dan observasi ke berbagai tempat. Mereka hidup dari tulisan-tulisan itu dan media membutuhkan tulisan mereka. Tetapi di Indonesia –sependek yang saya tahu—praktik ini tidak umum. Memang sekali dua, ada laporan perjalanan atau sejenisnya, yang ditulis oleh orang di luar redaksi. Tapi praktik ini, sekali lagi, bisa dikatakan jarang sekali.

Berbeda dengan dulu, penulis sekarang memiliki banyak pilihan. Dari segi gaya, topik dan juga bentuk penulisan. Yang jelas tidak terbatas lagi pada esai dengan bobot opini yang kental. Mereka bisa menulis dalam bentuk apa saja. Bisa kisah perjalanan, kuliner, dan bahkan iklan halus sebuah produk, promosi sebuah perusahaan jasa, dan lain-lain dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tulisan yang kesannya sebuah pengalaman yang personal sekali.

Dan satu lagi, juga bisa menjadi ‘buzzer’ atau pendengung, terutama pendengung politik. Ini profesi yang tidak dikenal oleh para penulis tempoe doeloe.

Lalu, bagaimana dengan kualitas antara penulis lama dan penulis baru tersebut? Sulit untuk dibandingkan, karena setiap era punya tantangan dan responnya sendiri. Dulu ada banyak tulisan bagus, tapi pasti tak sedikit juga tulisan buruk, hilang tak dikenang. Sekarang tentu ada banyak tulisan jelek, tapi pasti jauh lebih banyak lagi yang bagus sekali. Seperti masa lalu, sekarang pun ada banyak penulis muda yang hebat.

Baik dulu maupun sekarang, ukuran tulisan bagus tetap sama. Menulis adalah berpikir. Tidak seorang pun yang bisa menulis dengan jelas, kalau tidak bisa berpikir dengan jelas juga. Belajar menulis berarti belajar berpikir. Dulu maupun sekarang sama saja!

*) Pendiri LKiS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here