Menurut Dahlan Iskan, Empat Modal Ini Harus Dimiliki Seorang Wartawan

0
317
Proses penulisan berita dalam acara Menulis Berita sampai Bisa di SMA Muhammadiyah 2 Mojoagung. (Zuly/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Kalau ingin menjadi pembicara yang baik, maka harus menjadi pendengar yang baik. Kalau ingin menjadi penulis yang baik, maka harus menjadi pembaca yang baik.” Hal itu disampaikan oleh Achmad Santoso, editor Klikmu.co dan Jawa Pos, dalam pelatihan “Menulis Berita sampai Bisa” di SMA Muhammadiyah 2 Mojoagung, Kamis (26/12/2019). Achmad Santoso menyampaikannya dalam rangka agar para peserta menyimak dengan saksama materi sebagai bekal menjadi wartawan yang baik.

Acara tersebut dihadiri 36 peserta dari berbagai lembaga di Jombang. Salah satunya dari MI Muhammadiyah 10 “Madrasah Penghafal Al-Qur’an” Rejosopinggir, Tembelang, Jombang, yang mengirimkan 4 pendidiknya untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Titik Nur Qomariyah, kepala MI Muhammadiyah 05 Mojoagung, selaku inisiator kegiatan berharap peserta dapat menulis berita hari itu juga setelah mendapat materi dari Achmad Santoso. “Nantinya akan memberikan manfaat kepada lembaga kita masing-masing,” ujarnya.

Para peserta berfoto bersama setelah acara. (Achmad San/Klikmu.co)

Achmad Santoso menjelaskan ada 7 jenis berita yang perlu diketahui. Yakni straight news (berita yang aktual), dept news (berita mendalam), opinion news (berita opini), interpretative news (berita interpretatif), explanatory news (berita penjelasan), investigative news (berita investigatif), dan yang terakhir comprehensive news (berita komprehensif).

Selanjutnya, kata dia, unsur-unsur berita yang baik itu harus akurat, lengkap, objektif, dan hangat. “Jangan sampai kita membuat berita, peristiwa atau kegiatan tersebut terjadi satu bulan yang lalu,” tegasnya.

Achmad San, panggilan akrabnya, menambahkan, nilai berita menurut pandangan modern adalah aktualitas (terbaru, terkini) proximity (kedekatan), consequence (dampak), dan human interest. “Human interest iru meliputi ketegangan, ketidaklaziman, minat pribadi, konflik, simpati, binatang atau humor,” tuturnya.

“Mengutip pendapat Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN), bahwa menjadi wartawan yang baik itu harus punya pengalaman, rasa ingin tahu, daya khayal, dan berwawasan luas,” kata Achmad San.

Sementara itu, Rizki, peserta pelatihan menulis berita dari Rejosopinggir, mengatakan bahwa di zaman yang penuh dengan hoax ini memang dibutuhkan lebih banyak penulis berita yang sesuai dengan fakta. “Saya berharap akan ada pelatihan-pelatihan selanjutnya tentang penulisan berita,” ujarnya.

Ita, peserta lain, menambahkan, banyak ilmu yang didapatkan pada pelatihan menulis berita kali ini. “Pelatihan menulis berita ini yang pertama buat saya dan saya berkesimpulan bahwasanya menulis berita itu mudah. Yang penting teman-teman harus percaya diri untuk menulis, semangat, dan ada kamauan. Kalau katanya orang Rejosopinggir: seng penting nulis,” ungkapnya. (Zuly Ahsanul Barriyah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here