Menyikapi Hasil Akhir Pilkada Serentak

0
431

Oleh Dr. Amam Fakhrur*)

Pilkada serentak 2018 telah usai digelar, Rabu (27/6) kemarin. Hasilnya pun telah kita saksikan bersama. Bila Pilkada dimaknai sebagai sebuah kompetisi, maka ada yang menang dan ada yang kalah. Kejadian kalah dan menang itulah takdir, sebagai buah dari ikhtiar dan tentu atas kuasa-Nya.

Bagi para kontestan sebagai peserta Pilkada dan para pendukungnya, yang belum unggul, hasil akhir yang telah terjadi tidak perlu disikapi dengan geram, kecewa berat, berduka dan bersedih hati apatah lagi timbul rasa dendam. Keimanan tidak mengajarkan demikian.

Keimanan sejati mengajarkan bahwa yang telah terjadi adalah kehendak-Nya, itulah yang terbaik yang harus diterima dengan sumringah. Siapa tahu ada hikmah yang besar yang mengantarkan kesuksesan dan keberkahan? Di dunia ada law of ambundance (hukum keterlimpahan), masih ada keterlimpahan rizqi, keberhasilan, dan kesuksesan yang menanti di waktu dan moment yang lain.

Demikian pula para kontestan dan para pendukungnya yang telah memenangkan kompetisi, tidak patut untuk gumede, mengecilkan yang lain, hura hura, merasa kemenangannya adalah semata-mata karena buah skenarionya sendiri. Padalah, Allah-lah yang penyekenario sesungguhnya. Cukup ucapkan alhamdulillah dan syukur kepada-Nya.

Jika para kontestan dan pendukungnya yang menang maupun yang kalah salah dalam menyikapi hasil Pilkada, monggo mohon ampun kepada Allah, untuk taubat. Saya khawatir bila benar kita telah salah dalam menyikapi akan kekalahan atau kemenangan, menjadi rusak keimanan kita yang seharusnya keimanan itu dijaga dalam situasi dan kondisi apapun.

Ini adalah dunia yang tidak langgeng, di dalamnya penuh permainan (la’b) dan senda gurau (lahwn). Yang terbaik di mata Allah, bukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, yang terbaik di mata-Nya adalah yang paling bertaqwa. [*]

Dr. Amam Fakhrur, Waka Pengadilan Agama Jakarta Barat dan Alumni Pesantren YTP Kertosono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here