Menyingkap Peran Abu Bakar dalam Perang Badar dan Teladannya

0
225
Ilustrasi sindonews

Oleh: H.M. Sun’an Miskan Lc.

KLIKMU.CO

Hampir semua peperangan, terutama perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW dalam melawan Musyrik Kuffar, Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A tak pernah absen. Ia selalu terlibat aktif, khususnya Perang Badar Al-Kubro.
Beliau sahabat yang diabadikan dalam Al Qur’an Surat At Taubah 40 dengan gelaran “Tsania Ist Nain” yang berarti dia salah seorang dari dua orang, yaitu beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Rasulullah SAW. Saat itu, mereka berdua sedang bersembunyi di Gowa Tsuur di Selatan Kota Makkah untuk menyelamatkan diri dari kejaran Kuffar Quraisy.
Ketika pasukan Kuffar Quraisy berada di depan Gowa, Abu Bakar Ash-Shiddiq ketakutan. Rasulullah SAW pun meyakinkannya untuk tenang dan tidak usah takut, karena Allah SWT bersama mereka berdua, mendengar dan melindunginya. “La tahzan. Innallaha ma’anaa”.

Setelah keadaan dipastikan aman atas pantauan putri beliau, Asma Binti Abu Bakar, yang selalu setia mengirimkan makanan kepada keduanya sambil menggembala ternak peliharaannya, lalu mereka berdua melakukan perjalanan hijrah, imigrasi yang spektakuler dalam peristiwa dunia, dengan seekor unta yang dikenal dengan Al-Qoswa dan dipandu oleh Abdullah bin Uraiqit. Hijrahnya beliau berdua untuk menyusul sahabatnya yang sudah terlebih dahulu hijrah ke Madinah.
Hijrah ini sudah lama diimpikan oleh Rasulullah SAW mengingat bahaya yang begitu mengancam di Makkah. Namun, baru kali ini diizinkan oleh-Nya. Dengan modal ikhlas karena menjalankan perintah-Nya, sejarah dunia berubah kearah kemajuan yang islami.

Dua tahun setelah Abu Bakar R.A tinggal di Madinah sebagai pedagang di pasar, tiba-tiba datang komando dari Rasulullah SAW untuk berperang. Bahkan, pada saat itu Rasulullah SAW memberi perintah bahwa sudah saatnya ummat Islam menyerahkan jiwa dan hartanya untuk berperang, karena kuffar Quraisy saat itu bukan hanya mengganggu perbatasan Madinah dengan pasukan kecilnya, tetapi sudah melakukan aliansi dengan suku-suku yang tidak senang dengan hadirnya negeri Madinah yang damai.

Kala itu, Kuffar Quraisy mampu menghimpun pasukan aliansi berjumlah 1000 orang, dan pada saat itu pula Allah mengizinkan Rasulullah dan sahabatnya untuk berperang dengan kekuatan 319 orang. Izin Allah itu turun karena suasana pada saat itu sudah darurat. Para Kuffar Quraisy sudah menabuh genderang perang. Batang leher Rasulullah SAW dan sahabatnya sudah mau ditebas dengan pedang mereka. Nah, dalam situasi darurat inilah, izin perang di turunkan Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Haj ayat 39 :
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ ﴿ ٣٩﴾
[22:39] Telah diizinkan (berperang) bagi orang–orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar–benar Maha Kuasa menolong mereka itu,

Lantas, apa yang dilakukan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A terhadap komando Rasulullah SAW untuk menyerahkan nyawa dan hartanya dalam mengahadapi perang? Ternyata Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A menyerahkan semua hartanya untuk persiapan perang. Rasul SAW bertanya: Lalu apa yang kamu sisakan buat keluargamu?. Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A menjawab dengan penuh keikhlasan: Yang tersisa ialah Allah SWT dan Rasul– Nya.
Badar adalah tempat persinggahan para pedagang yang berangkat ke Siria dan yang pulang ke Makkah, terletak 100 km sebelah Barat agak keselatan sedikit dari Kota Madinah. Di lembah yang ada sumurnya di kuasai oleh Rasulullah dan pasukannya untuk menghadapi pasukan aliansi, Sayidina Ali R.A berinisiatif untuk membuatkan Rasulullah sebuah kubah dari ranting pepohonan.

Setelah kubah itu selesai, yang diizinkan menemani Rasulullah SAW di dalam kubah tersebut adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. Dengan pedang terhunus, Abu Bakar R.A setia menemani Rasul. Begitu seringnya Rasulullah berdoa untuk kemenangan perang, jubahnya sering terjatuh dan Abu Bakar R.A membantu mengambilkannya.

Singkat cerita, perangpun usai dan dimenangkan oleh pasukan Rasulullah SAW. Perang itu terjadi pada pagi hari, Senin tanggal 17 Bulan Ramadhan tahun 2 hijriah.

Selanjutnya, giliran menghadapi tawanan perang Badar, Rasulullah SAW meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Ada yang berpendapat untuk dibunuh saja semua. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A mempunyai pendapat berbeda. Ia meminta tawanan itu dimerdekakan dengan membayar “fidyah” atau uang tebusan. Abu Bakar RA punya pandangan jauh ke depan. Ia mengungkapkan:

قُوَّةٌ لَنَا عَلَى الْكُفَّارِ
“Kekuatan itu kini ditangan kita bukan ditangan Kuffar”
وَ عَسَى اللهُ أنْ يَهْدِيَهُمْ لِلإسْلاَمِ فَيَكُوْنُوا لَنَاعَضَدًا
“Maka siapa tahu kalau mereka dimerdekakan dengan bayar fidyah , kemudian Allah menunjuki mereka ke jalan Islam, mereka akan menjadi kekuatan kita”.
يَا نَبِىَ الله هُمْ بَنُو الْعَمِّ وَ الْعَشِيْرَةُ
“Wahai Nabiyullah, mereka itu adalah anak-anak pamanmu dan keluarga dekatmu”.
Dari sekian banyak pendapat dari para sahabat, Rasulullah SAW memilih pendapat Abu Bakar R.A, sehingga tawanan perang di merdekakan dengan membayar fidyah, membayar harta tebusan. Bagi yang tidak mampu membayarnya, diwajibkan mengajari baca tulis terhadap kaum muslimin yang masih buta huruf.

Sejarah pun mencatat bahwa keluarga dekat dan pemimpin perang Kuffar Quraisy yang tersohor di awal-awal kerasulan, akhirnya banyak yang menjadi pembela Rasulullah SAW setelah masuk Islam, tatkala pembebasan Makkah yaitu Abu Sofyan. Ia anak pamannya Harist bin Abdul Mutholib.

Inilah secercah kepahlawanan, kelembutan hati dan kedermawanan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. Peristiwa itu sudah berlalu sekitar 1440 tahun lalu menurut perhitungan hijriyah. Dalam kurun waktu tersebut, umat Islam dan umat manusia juga mengalami perang dan damai berkali kali.

Bangsa-bangsa di dunia setelah merasakan pedihnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II, mereka lalu melakukan perdamaian dengan menanda tangani perjanjian damai pada 20 Oktober 1945 yang disebut dengan Penanda Tanganan Piagam PBB (Persatuan Bangsa Bangsa).
Dunia Islampun mengikutinya dan lahirlah OKI ( Organisasi Konfrensi Negara Islam ) pada September 1969. Organisasi ini di mana Indonesia termasuk anggotanya, berdasar Islam, menghormati piagam PBB dan hak asasi manusia.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik atau kita teladani dari sejarah Ash Shohaabi Al Jalil Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. dan perjalan ummat di abad perdamaian ini?

Rasulullah SAW pernah menyampaikan setelah pulang dari perang besar, termasuk Perang Badar bahwa peperangan semacam itu kecil. Diriwayatkan dari Baihaqi dengan sanad dhoif :
رَجَعْنَا مِنْ جِهَادِ ا لْاءَصْغَرِ ِ إِلَى جِهَادِ الْاَكْبَرِ أىْ جِهَادِالْقَلْبِ
“Kami baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang besar, yaitu jihad dalam hati melawan hawa nafsu”.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada semuanya untuk selalu melawan hawa nasfu. Sebab, Hawa nafsu manusia yang tidak terkendali dengan iman, islam dan ihsan akan melahirkan problem dunia, seperti adanya tindak kekarasan di mana–mana dengan istilah bom bunuh diri, akibat dari ada kelompok yang suka mengkafirkan sesama muslim lalu dihalalkan darahnya, juga lahir dari kelompok agama non-islam karena ada sekte garis kerasnya.

Bahkan, ada pula problem climet– change, pemanasan global yang merusak iklim akibat dari polusi pabrik dan pembabatan hutan lindung. Ada korupsi akibat politik aji mumpung. Ada ketimpangan sosial yang menjadi sumber konflik akibat tidak ditegakkannya keadilan sosial oleh kalangan legislatif, executif dan yudikatif.
Kemudian yang terkini adalah perang yang lebih membutuhkan kewaspadaan, yaitu perang melawan wabah Covid –19. Jadi, sangat butuh kewaspadaan untuk menghadapinya dan berdisiplin dengan protokol kesehatan yang diserukan oleh WHO, pemerintah dan organisasi kita Muhammadiyah.

Dan yang perlu saya sampaikan lagi, ibadah puasa yang sedang kita lakukan ini adalah diantara cara untuk memimpin hawa nafsu kita menuju akhlak mulia, menjadi orang muttaqin yang suka membelanjakan hartanya baik saat berlebih atau saat kekurangan, seperti yang telah diajarkan juga oleh sahabat Abu Bakar RA. Modal taqwa hasil gemblengan puasa ini kita gunakan untuk memenangkan jihad akbar ke depannya.
Semoga. (RF)

Nasrun Minallah Wa Fathun Qoriib. Jakarta, Kamis, 03 Ramadlan 1442 H./ 15 April 2021 M.

Sumber bacaan :
1, Tarih Imam Thabari., Daarul Kutub Ilmiyah – Beirut 1407 H.

2. Tafsir Ibn Kastiir

3. www.ar.islamway.net 4/9 “ Taghriidaat Abu Bakar RA “.

4. Ma’rakah Badar Al Kubraa oleh DR.Ali Ash Shalaabi.

H.M. Sun’an Miskan Lc., Ketua PWM DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here