Menyoal Disparitas AUM: Sebuah Suara dari Akar Rumput

0
465
SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek. (Esemkamu.co)
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

Oleh: Trigus Dodik Susilo

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Trenggalek

KLIKMU.CO

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah per Oktober 2019 telah merilis data keberadaan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di seluruh Indonesia. Perinciannya adalah 2.252 SD/MI, 1.111 SMP/MTs, 1.291 SMA/SMK/MA, 67 pondok pesantren, 171 perguruan tinggi, dan 71 sekolah luar biasa (SLB). Untuk kategori perguruan tinggi, sesuai dengan data yang dirilis antara lain terdapat 55 universitas, 8 institut, 89 sekolah tinggi, 5 politeknik, dan 9 akademi.

Membaca hal demikian merupakan kebanggaan tersendiri bagi kader (khususnya saya) yang semenjak MTs sudah mengenyam pendidikan di perguruan Muhammadiyah. Terlebih, semenjak itu saya dikader secara rutin dan kemudian didapuk menjadi kader Muhammadiyah. Maka selanjutnya, dari MTsM Watulimo melanjutkan ke MAM Watulimo (Trenggalek) dan memilih STIT Muhammadiyah Tulungagung (sekarang STAIM) sebagai perguruan pengasah kemampuan intelektual.

Kiprah saya di Muhammadiyah tidak berhenti hanya di jenjang pendidikan. Di ortom pun saya tergolong aktif mengikuti perkaderan, dari IPM (dulu IRM) menuju Pemuda Muhammadiyah (kini dipercaya menjadi ketua PDPM Trenggalek 2018-2022). Bahkan di PDM saya mendapatkan amanah untuk duduk sebagai anggota bidang TI. Saya merasakan bahwa proses pengkaderan berjenjang seperti ini merupakan pengkaderan paling gereget ketimbang, misalnya, dikader saat menjadi pengajar di AUM. Pun ini sebagai tamparan kepada kita bahwa banyaknya ortom yang dibebankan pada 1 kader adalah bukti bahwa kita tidak memiliki banyak kader.

Semakin mendalami Muhammadiyah sebagai gerakan amar makruf nahi munkar yang fokus pada amal-amal gerakan sosial seperti pendirian lembaga sekolah dan rumah sakit, semakin pula tampak “penyakit” yang setiap hari menggerogoti kebesaran Muhammadiyah itu sendiri. Tentu yang saya bicarakan adalah Muhammadiyah di tingkat daerah, cabang, dan ranting, karena itulah porsi yang saya ketahui. Penyakit itu tersebar di area-area vital Muhammadiyah, padahal organ vital yang diserang penyakit ini penting dikatakan sebagai penunjang keberlangsungan Muhammadiyah pada masa-masa selanjutnya.

Membanggakan Muhammadiyah tentu tidak hanya bangga pada jumlah amal usaha yang tersebar seantero dunia. Lebih besar dari itu, saya berpikir bahwa sebenarnya AUM hanyalah media dakwah dari organisasi Muhammadiyah itu sendiri, yang lebih besar dari itu, menurut saya adalah gerakan kader aktif yang ada di dalam tubuh Muhammadiyah sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa saya tidak sedang memisahkan keberadaan persyarikatan Muhammadiyah dengan amal usahanya, namun hendak menyampaikan bahwa konsentrasi Muhammadiyah adalah Muhammadiyah-nya itu sendiri.

Banyak pimpinan daerah yang berjibaku bahkan “berdarah-darah” membangun amal usaha baru. Dengan semangat gotong royong warga Muhammadiyah. Hal demikian, meskipun sulit, selalu dapat dilalui. Pertanyaan yang datang kemudian adalah: Berapa banyak kader-kader Muhammadiyah yang berhasil dicetak dari amal usaha itu sendiri? Inilah yang saya sebut munculnya “penyakit” tadi. Di daerah dan cabang, saya menyaksikan sendiri bahwa persoalan kader adalah persoalan yang sangat sulit. Ada banyak SDM yang bertebaran di dalam AUM, namun ada sedikit kader AUM yang aktif di dalam struktural persyarikatan Muhammadiyah. Padahal AUM-AUM ini berdiri dari hasil pikiran-pikiran yang ada di struktural Muhammadiyah. Bukan sebaliknya.

Imbas dari keadaan ini adalah munculnya ketimpangan pembangunan antar-AUM baik dari sisi sumber daya manusia, sumber daya biaya, bahkan sumber daya tenaga. Perlu saya utarakan, kader Muhammadiyah anggota persyarikatan selalu memikirkan seluruh AUM, namun bagi tenaga-tenaga yang berada di AUM (non-kader aktif) lebih besar porsinya memikirkan amal usahanya sendiri. Menjadi semacam egosektoral antar-AUM. Ini fakta yang kasatmata di akar rumput.

Sebaran sumber daya manusia dan dukungan pembiayaan di dalam tubuh AUM mestinya berpengaruh pada proses pegembangan selanjutnya. Semakin baik tata kelola, semakin besar potensi berkembangnya. Maka tak heran jika ada sekolah Muhammadiyah yang segar bugar, namun di sisi lain ada pula sekolah Muhammadiyah yang sakit-sakitan: hidup segan mati pun enggan. Ini disebabkan oleh tidak meratanya sumber daya yang diperoleh oleh masing-masing AUM, dan inilah yang disebut timpang.

Hal demikian tentunya sudah jamak diketahui oleh tiap-tiap pengurus Muhammadiyah. Lalu apa jalan keluarnya?

Sebagai gerakan yang satu dan berjamaah, kolektif kolegial, tentu tata kelolanya tidak bisa seperti organisasi yang antar-SDM-nya pisah ranjang. Adanya dikdasmen seharusnya mampu berperan sebagai jalan tengah untuk selalu memperbaiki sistem pendidikan supaya adil dan merata.

Kemampuan salah satu AUM dalam hal finansial (misalnya) harusnya bukan hanya menjadi milik AUM itu sendiri, melainkan milik persyarikatan. Sehingga “kelebihan” yang ada di satu AUM bisa menutupi “kekurangan” yang ada di AUM lainnya. Target dari sistem ini adalah mengurangi ketimpangan. Karena ketimpangan itu sendiri adalah momok yang bersembunyi di balik besarnya nama Muhammadiyah.

Saya cukup bangga dengan UMS yang membangun gedung dengan dana ratusan miliar, tapi saya merasa sedih menyaksikan MIM Krecek di Watulimo yang bertahan dari “kematian” hanya karena tidak seberuntung AUM lainnya. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here