Merajut Kesuksesan di Era New Normal

0
173
Litbang Kemendagri

Oleh H.M. Sun’an Miskan Lc

Ketua PW Muhammadiyah DKI Jakarta

Disampaikan pada acara Siaturrahim Id Fitri 1441 H Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu 11 Syawal 1440 H/3 Juni 20220 M pukul 10.00 WIB

KLIKMU.CO

Pertama, mari kita bersyukur kepada Allah SWT jelang diberlakukannya era new normal, tatanan kehidupan normal baru, kita masih diberi hidayah dan semangat untuk mengadakan Silaturrahim Id Fitri 1446 H via Zoom Meeting.

Saya berterima kasih dan merasa mendapatkan kehormatan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta beserta segenap civitas academica untuk memberikan tausiah pada acara ini. Tentu sifatnya ialah mengingatkan kembali apa yang sudah kita kaji selama ini.

Tema yang diangkat dalam silaturrahim ini ialah Bersama dan Bersilaturrahim Merajut Kesuksesan di Era New Normal. Pada tema ini ada dua masalah penting yang perlu kita dalami dan bagaimana hubungan keduannya, yaitu sialturrahim dan meraih sukses.

 

Sialturrahim

Ilmuwan Islam, para ulama, sepakat dalam mendefinisikan silaturrahim yaitu :

إِيْصَالُ نَوْعٍ مِنَ الْإِ حْسَانِ

Menyampaikan sesuatu yang berbentuk keihsanan. Bahasa kita sehari hari “ menyampaikan balas budi”.

Sebagaimana Allah SWT menegaskan: Dan tidaklah balasan baik budi itu baik budi juga.

وهل جزاء الاحسان الا الاحسان

Kepada siapa? Bagi ulama yang membidangi hukum warisan, silaturrahim itu hanya terbatas kepada ahli waris saja karena kaitannya mereka dilahirkan dari rahim seorang ibu dan harus dijaga kefamiliannya.

Tetapi pendapat yang lebih kuat ialah sialturrahim itu kepada seluruh kaum muslimin, seluruh manusia, karena kemanusiaannya, sama-sama dibuat dari tanah. Termasuk yang berbeda agama. Allah SWT dengan sangat indah menjelaskan bahwa dibuat bersuku, berbangsa, berwarna-warna kulit untuk kenal mengenal.

Sahabat Rasulullah SWT kalau menyembelih hewan qurban tak lupa diberikan kepada tetangganya nonmuslim. Itulah pengertiannya Al Jaar qobla Ad Daar, tetanggamu sebelum keluargamu. Lalu kalau kita silaturrahim kepada mereka, mengunjungi mereka apa yang harus dibawa.

Sebagaimana balas budi itu sendiri, bagi yang belum mampu dengan ahkal mulia, misalnya dengan mengharumkan nama baik keluarga. Ia dikenal sebagai orang yang berakhlak (immateri ). Bagi yang mampu dengan akhlak dan materi. Berupa infak, zakat, sedekah.

 

Jadi, tepatnya ialah membawa apa yang kita peroleh selesai ibadah Ramadhan, yaitu kembali ke fitrah, id fitri. Fitrah ialah nilai-nilai baik dari Allah SWT, yang nilai baik itu sudah ditanamkan oleh Allah SWT sejak anak itu masih dalam kandungan.

Firmannya:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ – ( الروم ٣٠)

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Sejalan dengan sabda nabi saw :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

ثُمَّ يَقُولُا أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّه } الْآيَةَ {  )صحيح مسلم  ٤٨٠٣ )

Dari Abu Hurairah, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ‘ Lalu Abu Hurairah berkata; ‘Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS. Ar Ruum (30): 30).

(HR Muslim dari Abu Hurairah Hadis no: 4803)

Jadi, kembali ke fitrah ada kembali suci dari dosa, juga kembali kepada-Nya, terutama saat kena musibah, atau bersyukur alhamdulillah tatkala dapat rezeki.

Bentuk fitrah yang lain ialah anugerah akal cerdas. Oleh karena itu, kita harus mencerdaskan akal pikiran untuk melahirkan kebebasan mimbar kampus, menyuburkan demokrasi. Jangan sampai sebaliknya, mengembangkan mental taqlid , mental yesmen, mental feodal, mental diktator militer yang berkuasa ribuan tahun bagi Eropa, sejak sebelum Masehi sampai lahir revolusi Prancis, Bolsevik dan dunia Islam sejak lahirnya kerajaan Muawiyah, Abbasiyah, Usmaaniyah, sampai lahir tajdidnya Syekh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh awal abad ke-20.

Syekh Muhammad Abduh dan beberapa tokoh Al Azhar Mesir lainnya masuk ke partai terbuka , Partai Nasional  (Hizbul Wathony) , bukan partai agama ,murni partai politik untuk memenuhi hak politik rakyat Mesir yang multiagama multiras,. Hal ini diperkuat kembali dalam “diibaaj – Muqoddimah ” UUD Mesir pascarevolusi terakhir bahwa Mesir terbentang di dua Benua Asia dan Afrika, bahasa Arab,agama Islam, sebagai bahasa dan agama resmi Mesir.

Syariah Islam, sumber hukum kaum muslimin, syariah Injil dan Bibel, sumber hukum kristiani, syariah Zabur sumber hukum kaum Yahudi ( point’ terakhir ini saat Presiden Morse berkuasa dihapus dan dikembalikan lagi ke Muqoddimah UUD  Mesir saat Presiden Sisi menang pemilu diawali dengan  revolusi lagi agar Presiden Morse dalam waktu 2 x 24 jam  mengundurkan diri karena gagal dalam memerintah ). Prinsip-prinsip Muqoddimah UUD Mesir diatas diperkuat lagi dengan Deklarasi Al Azhar Mesir tentang Pembaharuan Pemikiran Keagamaan awal 2020.

Masih termasuk fitrah manusia ialah ingin mengembangkan keturunan. Allah lalu menyuburkan fitrah manusia itu agar sesuai dengan pepatah Jawa tumbu (besek) oleh tutupe (sesuai dengan tutupnya) disyariatkan lewat perkawinan. Berbuat ihsan dalam hal ini termasuk mencarikan jodoh yang masih bujang atau masih jomblo.

Tentu fitrah itu banyak sekali dan sudah dirumuskan dalam hak asasi manusia menurut PBB atau hak asasi manusia menurut Islam yang bersumber dari Allah SWT.

Pada kesempatan yang baik ini, fitrah yang perlu kita bawa sebagai paket Lebaran dan pascanya ialah hidup saling kerja sama, saling tolong menolong, social beeing. Begitu pendapat para sosiolog. Al Qur’an Al Maidah ayat 2 menyebutkan saling taawun alal birri wat taqwa, untuk merajut kesuksesan di era new normal.

Meraih Sukses

Sukses pribadi, keluarga, kampus, umat, dan bangsa adalah dambaan semua orang. Orang Barat menyebutnya manusia itu kepingin dalam perjuangannya  “happy ending “. Itulah sebabnya Allah SWT mengarahkan kepada kita untuk happy ending itu tidak sekadar jangka pendek, tapi sampai akhir hayat kita.

Firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ –

Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu meninggal kecuali dalam keadaan muslim.

Maka jelas dengan bersilaturraim dan membawa oleh oleh hasil amaliyah Ramadlan  yaitu kembali ke fitrah, suka kerjasama,suka memberi dan peduli, Insya Allah kita murah rezqi dan panjang umur :

عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَحَبَّ أنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ و يُنسَاءَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ . ( مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ )

Dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW nersabda :  Siapa yang senang untuk diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah silaturrahim. ( Hadis Muttafaq alaihi.

Musibah virus korona Covid-19 yang mengerikan yang oleh WHO dinyatakan sebagai pandemi, melanda seluruh belahan dunia, membuat 2 (dua) fitrah manusia,  yaitu fitrah bertuhan dan fitrah bermasyarakat, social beeing , bekerja sama menjadi subur. Musibah ini membuat manusia menengadahkan tangannya keatas. Manusia menyadari dirinya itu lemah, di hadapannya ada kekuasaan Tuhan Allah SWT. Ia memohon agar dirinya, keluarganya, tetangganya, seluruh penduduk negerinya dan ummat manusia lekas diselamatkan dari musibah virus Corona-19  ini . Kemudian akan bersyukur kepada – Nya selepas musibah ini akan hidup gotong royong, social beeing. Bagi kita ingin bekerjasama menyelesaikan problem organisasi, bangsa dan ummat manusia. Terutama problem politik. ekonomi, kebudayaan  dan keamanan dan menghindari konflik.

Berbagai ayat Al Qur’an menjelaskan hal ini. Diantaranya Al Qur’an Surat Yunus 22:

هُوَ الَّذِيْ يُسَيِّرُكُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ حَتّٰٓى اِذَا كُنْتُمْ فِىْ الْفُلْكِۚ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيْحٍ طَيِّبَةٍ وَّفَرِحُوْا بِهَا جَاۤءَتْهَا رِيْحٌ عَاصِفٌ وَّجَاۤءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ اُحِيْطَ بِهِمْۙ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ لَىِٕنْ اَنْجَيْتَنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ – ٢٢

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, Dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.

Mari hidup kerja sama, jauhilah hal hal yang menimbulkan konflik. Konflik itu melelahkan, yang menang dan yang kalah sama sama jadi arang.

Nasrun Minallah wa fathun Qoriib.

Wassalamualaikum wr wb.

(Editor: Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here