Merdeka Belajar: Selamat Datang Era Mesin, AI, dan Robot

0
231
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Guru ‘kehilangan muka’. Murid kehilangan diri. Digantikan wajah laptop dan LCD proyektor.

Inilah kompetisi paling dahsyat antara manusia dan mesin belajar. Guru dan mesin belajar berebut dominan menjadikan anak didiknya menjadi mesin robot. Semacam manusia rendah. Karena tuna-adab.

Dalam hati terdalam, saya merindukan sosok filsuf pendidikan sekelas: Prof Daoed Joesoef, Prof Fuad Hasan, Prof Malik Fadjar, bahkan Ki Hadjar Dewantoro. Kepada para filsuf pendidikan itu saya ingin bertanya dan bertakzim tentang merdeka belajar.

Belajar pada masa pandemi adalah contoh paling riil bagaimana peran guru digantikan mesin belajar. Kecerdasan buatan difungsikan, mesin belajar membentuk manusia menjadi robot. Substansi dan tujuan pendidikan mengalami revolusi total. Tak heran jika agama sempat hilang dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Itu bukan kealpaan, tapi kesengajaan yang dialpakan.

Saya menyebut bahwa merdeka belajar adalah konsep paling mengerikan. Peradaban kemanusiaan akan berubah. Literasi dan numerasi diberhalakan. Tata krama dan keadaban dipertaruhkan. Marginalisasi manusia berlangsung sistematis. Kesadaran kognitif dikedepankan. Moralitas diinjak hingga paling dasar. Agama dan moral dinihilkan. Guru hilang substansi.

Konsep merdeka belajar bersumbu pada tiga pilar utama: mechine learning, kecerdasan buatan/artificial intelligent (AI), dan robot. Jadi, kira-kira apa yang bakal terjadi pada anak-anak kita di masa depan? Peradaban macam apa yang bakal dibentuk oleh konsep merdeka belajar?

Guru bukan perumus masa depan, kata para cerdik cendekia. Tapi sistem bisa lakukan itu dengan mudah. Jadi, apa yang kita kehendaki dengan anak-anak kita di masa depan, akan kita tentukan dengan apa yang kita lakukan hari ini pesan Sayidina Ali ra.

Ironisnya, kita tak punya kredo pendidikan yang disakralkan atau disucikan. Akibatnya kerap berubah dan tidak kokoh. Tujuan pendidikan kerap belok arah. Menunggu datangnya kebangkrutan nalar dan moral.

Sayangnya Muhammadiyah dan NU kehilangan inovasi, kecuali hanya mengekor dan mengamini semua kebijakan tanpa revisi. Saatnya dua ormas besar itu mengambil peran signifikan dan mengabaikan mesin belajar, kecerdasan buatan, dan robot yang dibawa merdeka belajar. Saat tepat untuk mengonsep, merumus, dan membentuk sendiri manusia macam apa yang diidealkan.

Jujur saya berharap sistem pendidikan di pesantren tradisional yang menempatkan adab sebagai yang utama tetap kokoh tidak berubah, di tengah gempuran dan riuh liberalisme dan sekularisme sistem pendidikan akut. (*)

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here