Merebut Tafsir Pancasila

0
135
Baliekspress

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Siapa yang berhak menafsir Pancasila? Ketika umat Islam justru mengambil posisi head-to-head, maka bisa jadi Pancasila diambil ‘orang lain’.

Politik kekuasaan tak mengenal jasa, membangun imperium bukan soal tanam saham di perusahaan. Politik kekuasaan tak bertanya berapa tetes darah yang telah dikorbankan atau berapa jengkal tanah telah diwakafkan. Para pejuang kerap tak mendapat apa-apa sebab tak cakap saat mengisi kemerdekaan.

Revolusi memakan anak sendiri. Semaun, Darsono, Muso, Aidit, Kartosuwiryo, Buya HAMKA hingga Pram. Dan entah siapa yang menyusul. Mereka adalah korban revolusi, tepatnya dikorbankan agar revolusi tetap berada di jalan yang benar.

Bersama Menjaga Kesatuan

Sebaiknya semua menahan diri tidak berkata-kata, kecuali yang baik-baik. Kita butuh ulama negarawan yang mendamaikan, menenteramkan dan menyatukan.

Kenapa Ki Bagoes Hadikoesomo dan Kiai Wahid Hasyim bersetuju atas usulan Bung Karno untuk menghapus tujuh kata pada sila pertama? Pengorbanan terbesar merelakan tujuh kata agar kesatuan tetap terjaga, agar saudara-saudara selain yang beragama Islam bisa dengan nyaman mengucapkan sila-sila Pancasila pada saat upacara.

Kita bersaudara meski berbeda agama, warna kulit, rambut, bahasa, adat, bahkan makanan. Setiap agama juga punya perbedaan yang sama dalam berpolitik: ada yang ingin khilafah, ada yang ingin kerajaan, dan ada yang ingin Republik. Semua punya alasan dan hujjah masing-masing. Semua perbedaan bisa disatukan oleh perjanjian luhur: Pancasila.

Dalam situasi begini tak elok saling mengunggulkan. Ras Arab tak lebih unggul dari ras Cina atau sebaliknya. Ras Jawa tidak merasa paling dominan dan paling berhak. Apalagi dibarengi dengan menghitung jasa. Bahwa ras Cina lebih berjasa dalam perjuangan dibanding ras Arab karena telah begitu dan begini atau sebaliknya.

Jika terus dilakukan, bukannya penghargaan dan penghormatan yang didapat. Sebaliknya justru akan memecah belah, karena saling merasa paling penting, dan paling berjasa. Ini negeri boeat semoea.

Politik Kekuasaan

Politik kekuasaan sering melahirkan tragedi kelam. Bahkan Soekarno sang proklamator pun harus bernasib serupa di ujung hayat. Ia hidup terisolasi di Wisma Yaso untuk mengakhiri kisah heroik perjuangannya yang panjang, di negeri yang ia dirikan.

Lagi-lagi politik yang mengabdi pada hasrat kekuasaan memakan anak kandungnya sendiri tanpa rasa iba. Hidup dipergilirkan Tuhan bak roda pedati (QS Ali Imran: 140-141), di tengah banyak anak negeri tak pandai mengambil hikmah. Para pemburu takhta di setiap zaman bergantian mengulangnya kembali, seolah sejarah bangsa lewat begitu saja tanpa sukma.

*) Dosen UMM, Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here