Mereka yang Dirindukan Surga

0
720
Ilustrasi diambil dari muslimahzone.id

KLIKMU.CO

Oleh Muhammad Roissudin, M.Pd.*)

Shalat Tarawih malam ke dua belas saya ‘ketiban sampur’. Saya diminta menggantikan Imam dan Kultum di Masjid Muttaqien, Jalan Panglima Sudirman Nganjuk, sebab si empunya sedang uzur.

Alhasil, dengan persiapan seadanya, saya tunaikan amanah dari jamaah masjid yang berada tepat di Stasiun Kereta Api Nganjuk itu. Saya memimpin Shalat Tarawih dengan formasi 2-4-3, hehe. Bukan formasi sepak bola ya… tapi Shalat Tarawih versi 2 rakaat dengan kombinasi 4 salam dan 3 witir.

Tiba saatnya kultum. Sengaja saya mengambil tema yang masih cukup relevan dengan situasi kekinian.

Muara dari Ibadah Puasa Ramadhan adalah meningkatnya kualitas keimanan dan ketaqwaan seorang hamba terhadap Sang Khaliq Allahurobbi, dan balasan bagi hamba yang bertaqwa tidak lain adalah surga.

Belakangan marak aksi teror dan ‘petasan maut’ di sejumlah daerah yang merenggut banyak nyawa. Masih terngiang satu keluarga melakukan aksi maut mengorbankan ke empat buah hatinya dengan meledakkan diri. Spontan aksi radikal ini menuai kutukan dan protes keras dari berbagai kalangan.

Sebelumnya, lewat media sosial, para pelaku mengklaim aksi mautnya merupakan bagian dari amalan jihad yang berbalas surga. Namun para pakar agama dan kaum cerdik pandai menolak tafsir yang dianggap parsial dan menyesatkan, serta dianggap tidak sesuai dengan konteks Indonesia sebagai negara plural dengan multi-etnis, agama dan budaya.

Sesungguhnya tanpa aksi nekat yang membawa mudharat lebih besar dan merusak sendi sosial umat manusia, muslim mampu meraih surga tanpa harus menempuh jalur pintas yang “sesat” itu.

Setiap manusia tentu saja mengharapkan kebahagiaan hidup, terutama kebahagiaan yang hakiki. Yaitu kebahagiaan yang tidak hanya di dunia ini saja, tetapi yang abadi di alam akhirat kelak.

Kebahagiaan yang hakiki tersebut hanya dapat diraih apabila kita selalu taat kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Balasan dari ketaatan tersebut adalah mendapatkan kehidupan yang penuh nikmat yaitu surga-Nya Allah swt. Sehingga kita dituntut untuk meraihnya.

Sebagaimana hadist Rasulullah saw.

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَا لِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ .رواه أبوداود والترمذي عن ابن عباس

“Surga merindukan empat golongan; Orang yang membaca Alquran, Menjaga lisan (Ucapan), Memberi makan orang lapar, Puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Hasan).

Terminologi dari empat golongan yang dirindukan surga adalah:

1. Quran Reader. Yakni mereka yang rajin membaca Alquran.

Firman Allah yang pertama kali turun kepada Baginda Nabi bukanlah ayat tentang iman, Islam atau amaliah lain. Melainkan ayat tentang pentingnya membaca.

Allah menempatkan derajat khusus bagi hamba-Nya yang senantiasa istiqomah dalam membaca, yakni membaca “ayat” tentang berbagai aspek kehidupan manusia yang tertuang indah dalam mushaf Alquran.

Karenanya membaca Alquran adalah salah satu amalan yang paling utama. Rosulullah saw pernah bersabda yang intinya bahwa etiap huruf Alquran yang kita baca membawa pahala tersendiri. Selain itu juga dikatakan bahwa nanti Alquran akan datang sebagai saksi amal kita di yaumul hisab. Selain membaca tentu juga mempelajari isinya dan mengamalkannya merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap pribadi muslim.

2. Quiet (Pendiam). Yaitu, orang yang selalu menjaga lisannya.

‘Silent is golden talking is iron’. Artinya jika diam itu emas maka bicara itu perak. Hal ini mengandung maksud, diam dan menjaga lisan itu lebih utama daripada berbicara yang tanpa makna.

Lisan merupakan salah satu indra kita yang bisa mendatangkan kebaikan dan sekaligus keburukan. Dengan selalu menjaga agar lisan kita hanya mengatakan hal-hal yang baik; digunakan untuk membaca Alquran untuk memuji-Nya; untuk berdoa kepada-Nya; untuk memberi nasehat yang bernanfaat kepada orang lain. Insya Allah kita akan termasuk kedalam golongan orang yang dirindukan oleh surga.

Sebuah hadist menegaskan: “Salaamatul insaani fii hifzdil lisaan.” Terjemahnya: “Keselamatan manusia tergantung cara menjaga lisan mereka.”

3.Generous (Dermawan). Yakni orang yang gemar berbagi rizki dan memberi makan orang lapar.

Ini juga merupakan salah satu amalan yang utama, karena pertolongan Allah swt akan datang kepada hamba yang memberi pertolongan kepada saudaranya yang membutuhkan pertolongan.

Sebagai muslim sudah tentu mafhum ada tanggung jawab kepada orang lain atas rizki yang diperoleh, yakni berupa zakat infaq dan sedekah yang harus didermakan kepada yang berhak. Lewat lembaga amil zakat maupun berbagi langsung lewat individu ataupun panti asuhan.

4. Fasting of Ramadhan. Yaitu orang yang berpuasa di Bulan Ramadhan.

Berbeda dengan amalan ibadah yang lain, puasa adalah amalan ibadah yang istimewa dan memilki derajat lebih dibanding amalan lain. Karena Allah berjanji akan memberikan balasan yang setimpal.

Sebuah hadis agung mencatat yang diriwayatkan langsung oleh Baginda Nabi saw dari Rabb-nya, bahwa Dia berfirman: “Kullu Amalin ibnu Adam lahu Illa shoumi, Fainnahu lii, waana ajziibihi.”

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung.” (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah salah satu ibadah utama bahkan merupakan salah satu Rukun Islam. Berpuasa bukan hanya menahan tidak makan dan minum saja, melainkan juga menjaga panca indera kita dari melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.

Bahkan tidak hanya itu saja, berpuasa juga menuntut kita untuk meninggalkan perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Insyallah jika kita berpuasa pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulllah saw, maka derajat takwa akan kita peroleh yang balasannya tentu saja Surga Allah swt.

Momentum Ramadhan saat yang paling tepat untuk memperbanyak keempat amalan ibadah di atas. Senyampang Allah sedang mengobral Program Big Sale Pahala. Di mana setiap amalan ibadah para hamba akan dilipatgandakan.

Semoga kita termasuk Hamba Allah yang Istiqomah dalam menunaikan seluruh amalan ibadah sehingga kita menjadi orang-orang yang selalu dirindukan surga Allah karena kehidupan dan kebahagiaan yang sejati sesungguhnya di alam akhirat bukan di dunia yang tidak fana ini. [*]

*) Anggota Lembaga Sensor Film Daerah Jatim, Aktivis Muda Muhammadiyah.

Muhammad Roissudin, M.Pd.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here