Mewujudkan Penyandang Disabilitas Menjadi Berkualitas

0
169
Bonepos.com

Oleh: Fikri Fachrudin

Penyandang disabilitas brakidaktili sekaligus guru SMPM 11 Surabaya

KLIKMU.CO

Setiap tanggal 3 Desember seluruh dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional. Dengan adanya Hari Disabilitas Internasional, sangat diharapkan seluruh elemen masyarakat tidak abai terhadap penyandang disabilitas. Tak terkecuali bagi Muhammadiyah.

Suasana milad Muhammadiyah tahun ini masih terasa. Milad kali ini bertema Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, makna cerdas adalah tajam pikiran dan akal budi manusia. Generasi muda, termasuk kader Muhammadiyah, juga harus memiliki sifat tersebut. Hal itu disampaikannya saat mengutarakan sambutan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ketika Milad Ke-107 Muhammadiyah.

Dalam surah Yunus ayat ke-100 pun Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia akan menimpakan kema
urkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. Dengan demikian, wajiblah bagi setiap orang untuk menjadi pribadi yang cerdas dan berkualitas.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan supaya penyandang disabilitas menjadi cerdas dan berkualitas. Pertama, pemberian motivasi. Para penyandang disabilitas pada umumnya merasa rendah diri atau minder. Dengan adanya perasaan minder tersebut, penyandang disabilitas tidak akan bisa berkembang. Padahal, kehidupan sekarang sangatlah kompetitif. Oleh karena itu, diperlukan motivasi dari orang-orang terdekat penyandang disabilitas agar bisa semangat.

Dr Emoto pernah melakukan penelitian terhadap air menggunakan mikroskop elektron. Bila air tersebut diberi ucapan baik maka akan terbentuk kristal heksagonal yang bagus. Karena manusia sebagian besar terdiri atas darah, bila manusia mendapat ucapan baik (motivasi) maka akan berdampak baik pula bagi orang itu.

Hal kedua yang bisa dilakukan adalah memberi suatu kepercayaan kepada penyandang disabilitas agar mampu berkontribusi dan berkarya. Ahmad Dzikran dalam bukunya, Kuasai Dirimu, pada halaman 35 menyatakan bahwa setiap orang ditetapkan Allah memiliki potensi yang berbeda. Maka setiap orang harus memberdayakan potensi tersebut. Bila penyandang disabilitas diberi suatu amanah, dia akan merasa dihargai dan bisa memberdayakan potensi dalam diri. Memberikan lapangan kerja kepada penyandang disabilitas yang belum memiliki pekerjaan adalah hal yang arif bagi pemangku kebijakan.

Hal ketiga yang dapat dilakukan ialah memberikan advokasi kepada penyandang disabilitas yang mengalami diskriminasi. Memang saat ini pemerintah sedang menggalakkan Indonesia inklusi, tetapi bukan berarti diskriminasi penyandang disabilitas benar-benar hilang. Dalam buku Membaca Muhammadiyah Refleksi Kritis Anak Muda Lintas Isu terbitan UMSurabaya Press, Satria Unggul Wicaksana menyatakan bahwa keberpihakan Muhammadiyah terhadap mereka yang fakir jasmani perlu diperluas dengan cara memberikan pembelaan HAM. Selain itu, memasuki abad kedua Muhammadiyah, tersedia lahan strategis dakwah untuk mengaplikasikan tauhid sosial, yaitu melalui keberpihakan kepada kaum minoritas, penyandang disabilitas.

Akhirnya, mari gelorakan semangat taawun dalam diri demi kehidupan bangsa yang cerdas. Masih banyak lahan dakwah sosial yang bisa diolah untuk kemaslahatan umat. Semoga kita turut bisa menjadikan para penyandang disabilitas sebagai pribadi yang cerdas dan berkualitas. Semoga mereka juga bisa berkontribusi untuk agama, persyarikatan, dan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here