Milad Ke-57: IMM sebagai Pendulum Intelektual

0
94
Foto istimewa

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Sejak awal berdiri, Muhammadiyah ditabalkan bukan saja sebagai gerakan amal, tapi yang lebih substantif adalah gerakan pemikiran atau state of mind. Demikian tulis Dr Alfian, ketua LIPI, dalam sebuah makalah tentang Islam dan Perubahan Sosial.

Prof Nakamura menyatakan bahwa yang menarik dari Muhammadiyah bukan dari banyaknya amal usaha, tapi mainstream tentang kebaruan pemikiran yang mendahului kenapa sebuah amal usaha harus berdiri, kenapa membangun sekolah modern, rumah sakit, atau universitas? Kenapa sekolah-sekolah Muhammadiyah mengajarkan ilmu-ilmu sekuler?

Tesis Kiai Dahlan bahwa takhayul, bidah, dan khurafat bakal menghilang seiring dengan tingkat pendidikan seseorang. Kiai Dahlan melanjutkan bahwa pendidikan akan dapat mengangkat harkat, mengubah tradisi, pola pikir, dan pola tindak dalam keberagamaan sudah tentu benar.

Pilihan ini diambil Kiai Dahlan untuk mewujudkan gagasan tajdidnya, terkoneksi dengan pikiran Syaikh Abduh dan Syaikh Ridha muridnya, tentang kemuliaan ajaran Islam yang tertutup karena kebodohan umatnya —al Islamu mahjuubun bil muslimiin. Maka, Kiai Dahlan merancang strategi pencerdasan sebagai langkah awal mengurai benang kusut.

Dalam konteks ini, tidak berlebihan bila Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menempati posisi urgen dan strategis, yaitu merawat intelektualitas dan kebaruan pemikiran. Pilihan ini diambil sebagai ikhtiar balancing antara glamor berdirinya berbagai amal usaha di satu sisi dan kekuatan pikiran dalam bentuk pikiran maju sebagai roh pergerakan.

Kekuatan Muhammadiyah sebagai gerakan amal dan gerakan pemikiran adalah realitas. Roh dan sumber etik, darinya arah pergerakan bersumber sebagai sumbu kekuatan. Sudah sepatutnya tidak saling menafikan, tapi bergerak sinergis saling menggenapi.

Bersyukur posisi intelektualitas kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cukup menjanjikan. Ada harapan baik yang membanggakan. Sekaligus menyenangkan karena di saat kader-kader yang lain terjebak pada praktik politik praktis, IMM terbukti “belum tergoda” dan istiqamah di jalan ilmu.

Ke depan, saya pikir IMM akan semakin kokoh di tengah perubahan, mengisi ruang kosong tradisi intelektual yang ditinggalkan sebagai padanan pergerakan. Urgen dan strategis. ”Percayalah, intelektual tak pernah kalah betapapun dimarginalkan atau diasingkan di tempat paling sepi sekalipun,” tulis Thaha Husein. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here