Motivasi Kehidupan #12: Harian DI’S Way, karena DI Gemes

0
83
Foto diambil dari Tribun jatim

KLIKMU.CO

Oleh: Ali Murtadlo

“Itu bener ya Pak Ali,
Pak DI bikin koran?”
(Pertanyaan WA paling
ngetren minggu ini)

Tidak hanya kepada saya. Juga ke nyonya, teman-teman dosen di kampusnya dan di luar kampusnya. Termasuk grup guru besarnya. DI sendiri tak mau menyebut sebagai koran. Tapi, “Harian” seperti yang sudah diiklankan di blog “DI’sWay”-nya yang terbit setiap hari pukul 4 pagi. Bunyi iklannya: Bukan Koran, Ini Harian DI’S WAY. Terbit perdana dan launching event 4 Juli 2020. Tiga hari lagi. Bikin kepo.

“Hari gini? Bikin koran? Cetak? Gak salah ta Pak?” tanya teman terus memberondong. Saya sendiri tak bisa menjawabnya. Memang belum tahu bocorannya. Setiap ditanya, Abah hanya menjawab: nanti saja, biar surprised. Akhirnya, jadi tebak-tebakan antarmantan. Sebagai clue, saya kutipkan sedikit penjelasan di iklan resminya: Harian DI’S WAY, media cetak yang pemikiran dan wujudnya telah disesuaikan dengan tuntutan zaman. Ha3 normatif banget. Sesuatu yang amat dibenci DI. Coba kita ulang: media cetak yang pikiran dan wujudnya mengikuti zaman. Normatif tapi berhasil menambah kepo, penasaran.

Tak hanya orang luar. Internal mantan anak buahnya, juga terheran. Setidaknya, sudah ada tiga mantan yang menulis resmi tentang Kejutan DI ini. Pertama, Mas Arif Afandi, mantan pimred kita yang juga pernah menjadi Wawali Surabaya mendampingi Pak Bambang DH. Kedua, Mas Tofan Mahdi, mantan wapimred yang kini sangat sukses berkarier di perusahaan ternama di Jakarta. Ketiga Mas Iwan Iwe, mantan Deteksi generasi pertama dan grafis yang kini memimpin portal Emosi Jiwaku. Semua tulisannya istimewa.

Ketiganya, seperti halnya para outsider, juga menyatakan keheranannya mengapa DI bikin surat kabar “Harian” pada saat industrinya sunset. Bedanya? Outsider hanya terheran-heran. Ketiga “orang dalam” ini, juga terheran, tapi sangat paham siapa Dahlan. Orang yang jika berkehendak, niatnya selalu murni 24 karat. Kurang dari itu, tidak usah jalan. Tauhid bisnisnya benar-benar fokus. Tingkat kekhusyukan untuk menggarap semua mimpinya benar-benar all out. Bulat 100 persen. Full power, full enerji. Satu contoh kecilnya: pukul setengah lima pagi tadi, ketika yang lain masih pulas, dia sudah berada di pabrik barunya.

Jangan ditanya jurnalismenya. Menurut saya, sudah katam dan berada di maqam ma’rifat. Baginya, hidup adalah menulis. Dan, menulis adalah hidupnya (bukan penghidupannya). Meski sudah meninggalkan koran yang diraksasakannya, dia masih menulis tiap hari. Tak pernah telat, sudah bisa dibaca pukul 4 pagi, di blog pribadinya: DI’S WAY. Tak hanya “tombo kangen”, tapi komentar-komentar dari pembacanya sangat asyik. Bikin adem-panas. Apalagi, jika nyerempet 01-02.

Para internal paham, siapa Dahlan. Orang yang jika menemukan “ide emas” seketika itu juga dimeetingkan. Jam 2 dinihari sekalipun. Redaksi, beruntung masih ada di situ, tapi yang nonredaksi, datang dengan mata yang masih “kriyip-kriyip”. Apa mukadimahnya? “Lihat redaksi jam segini, masih di kantor. Anda yang nonredaksi harus mengetahuinya bahwa koran ini dikerjakan dengan begitu kerasnya,” katanya, kemudian menjelaskan mengapa ada meeting dadakan.

Saya bayangkan begitu juga untuk Harian DI’sWay nanti. Digarap secara gila. Kalau dulu sampai “mengorbankan” livernya, sekarang tentu saja tidak. DI sekarang orang yang tingkat kesadaran kesehatannya juga telah mencapai level ma’rifat. Tiap pagi senam dansa. Sudah anti yang manis-manis, sudah menjauhi karbo berat, berkali-kali merejuvenasi (meremajakan) selnya melalui stemcell. Hidupnya sudah sangat teratur. Ada taking a nap (qailulah-tidur siangnya) segala, setengah jam.

Lalu, masihkah akan segila dulu lagi. Menurut saya iya. Gila adalah karakter dasarnya. DNA-nya. Bedanya, kini gila yang tertata. Gila yang ada disiplinnya. Kali ini, misinya jauh lebih ringan dibanding 1982 lalu. Dulu benar-benar from zero to hero, termasuk zero kantongnya. Kini tidak lagi. Kantong DI sudah berkantong-kantong. Aman tujuh turunan. Kini: from hero to the next hero. Tantangannya cuma satu. Dia benar-benar terkena “conscience calling” (panggilan hati nurani). Panggilan profesi. Bagaimana berjurnalisme di era sunset. Dia akan melawan apa yang dilihatnya sangat mengganggu: jurnalisme yang turun kelas. Jurnalisme turun derajat. (Maaf agak kasar) jurnalisme low class. Jurnalisme yang tergadai karena “harus hidup menyambung umur”. Begawan media ini begitu terusik. Gemes. Baginya: jurnalisme adalah jurnalisme. Dia ingin menjunjungnya tegak lurus. Itulah tebakan saya menangkap jalan pikirannya, sebagai “tandingan” tebakan Mas Arif Afandi. Semoga saya yang memenangkan hadiahnya. Ha…ha…ha…Peace!

*ex CEO of Jawapos TV and JP Books. He also has experience as a war journalist in Gulf war

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here