Motivasi Kehidupan #14: FB Dukung LGBT, Boikot..! Boikot..!

0
154
Foto diambil dari NU Online

KLIKMU.CO

Oleh: Ali Murtadlo*

Begitu ada kabar Bos Facebook Mark Zuckerberg dan Unilever dukung LGBT: grup WA saya banjir ajakan: boikot Unilever, boikot Facebook. Saya senang karena pertanda teman-teman masih punya ghirah (spirit) untuk membela yang haq.

Lalu ada isu baru lagi, pembahasan RUU HIP di DPR. Umat heboh lagi. Ramai-ramai mendatangi gedung dewan di Senayan. Jauh lebih heboh dibanding dengan protes LGBT ke Unilever dan Facebook. Tokoh-tokoh level nasional bergabung. Berhasil. RUU HIP tak dibahas lagi, entah ditunda, entah dihentikan.

Kita akan begini terus. Ada isu, protes, boikot. Israel aneksasi, protes, boikot. Tak ada yang salah. Kita menjadi umat yang responsif, reaktif. Ada isu, merespon. Isu…respon. Kapan membikin isunya? Kapan membuat yang lain ganti merespon, ganti yang reaktif.

Kapan? Jika kita sudah menjadi umat yang kuat. Solid. Besar. Berpengaruh. Israel misalnya, adalah bangsa kecil, yang mula-mula, diaspora, bangsa yang bertebaran di mana-mana. Sampai Inggris yang saat itu menjadi kekuatan kolonial di Palestina mengeluarkan Deklarasi Balfour pada 1917 yang intinya mengizinkan Diaspora Yahudi untuk tinggal dan hidup di Palestina berdampingan secara damai. Bangsa Israel yang membesar semakin runyam, tak hanya mengambili tanah Palestina, tapi juga mencaplok tanah Yordania di bagian timur Yerusalem dan Mesir di Jalur Gaza. Kerunyaman Israel yang kelewat batas adalah memindah ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem yang didukung, lagi-lagi selalu AS, era Donald Trump.

Mengapa Israel yang penduduknya hanya 9 juta bisa mengalahkan Palestina yang didukung 57 negara OKI? Karena dukungannya tidak kongkrit. Bahkan, seringkali malah berbeda pendapat. Sementara dukungan AS begitu kongkrit. Mengapa Yahudi di AS yang jumlahnya sama seperti Muslim di AS yang berkisar 7 juta lebih berpengaruh? Karena mereka menguasai ekonomi, media, dan Kongres.

Di tanah air begitu juga. Meski secara fakta, kita mayoritas, tapi harus kita akui, sulit sekali untuk kompak, solid. Misalnya, ketika tokoh-tokoh nasional ke DPR memprotes RUU HIP yang lalu, ada tokoh lainnya yang tidak terlihat muncul. Selalu begitu, sulit untuk benar-benar kompak seluruh unsur. Partai politiknya lebih memprihatinkan lagi. Tak ada yang mendominasi. Sudah begitu mau saja diadu domba.

Dari mana mengawalinya? Saya setuju seperti yang dikatakan bisnisman nasional Choirul Tanjung. “Kita harus bisa mengubah peradaban umat: dari kolot ke modern, dari kumuh ke bersih, bodoh ke pintar, dari miskin menjadi kaya raya,” kata CT saat menerima MUI Award di Masjid Trans Studio Bandung 20 April 2015.

Sekali lagi PR kita adalah mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi. Mari berusaha dengan riang gembira. Insya Allah Bisa!

*ex CEO of Jawapos TV and JP Books. He also has experience as a war journalist in Gulf war

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here