Muhammadiyah Bangun 10 Hunian bagi Korban Gempa Sulbar

0
162
Tim Lazismu dan MDMC saat mengunjungi korban gempa Sulbar. (MDMC/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Para korban gempa Sulawesi Barat memasuki masa pemulihan. Muhammadiyah pun melalui Lazismu dan MDMC membangun 10 hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.

Huntara itu berlokasi di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, sebanyak 7 unit dan Desa Tampalang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, sejumlah 3 unit. Pembangunan berlangsung selama 12 hari dimulai sejak 22 Februari 2021 dengan pelaksana Divisi Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi MDMC PP Muhammadiyah dengan koordinator Dharmawan.

Dharmawan mengatakan, 10 huntara tersebut dibangun untuk warga yang sudah diseleksi berdasar hasil asesmen sebelumnya dan memenuhi kriteri-kriteria yang ditetapkan. “Sepuluh keluarga penerima bantuan huntara ini adalah mereka penyintas gempa yang mempunyai anggota keluarga masuk kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak dan mereka belum menerima bantuan hunian dari lembaga lain,” katanya dalam rilisnya, Jumat (5/3/2021).

Pada 3 dan 4 Maret 2021 lalu 10 huntara tersebut diserahkan kepada keluarga penerima manfaat di masing-masing oleh Bagas Kurnia Arbi selaku pengawas lapangan pembangunan huntara dari MDMC PP Muhammadiyah.

Bagas mengatakan, semua huntara dibangun dengan ukuran dan bahan yang sama. “Huntara-huntara tersebut masing-masing berukuran 4 x 3,6 meter terbuat dari rangka baja, atap seng, dan tembok calsiboard. Sembilan huntara didirikan di atas tanah masing-masing warga penerima manfaat dan 1 huntara menumpang tanah milik orang lain karena memang penerima tidak punya tanah sendiri,” jelasnya.

Bagas menambahkan, 9 unit huntara selesai dibangun Selasa, 2 Maret 2021, dan 1 unit selesai pada 3 Maret 2021. “Alhamdulillah sembilan unit huntara kami serahkan tanggal 3 Maret dan satu unit kami serahkan tanggal 4 Maret 2021,” ujarnya.

Salah satu penerima huntara tersebut adalah Geger Haying Mumpah (68 tahun), seorang petani warga Dusun Taparia, Desa Tampalang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju. Rumah yang ditinggali bersama keluarga besarnya roboh dan hanya menyisakan atap yang tinggal sebagian saja.

Pak Geger, begitu panggilan akrabnya, ketika ditemui mengatakan dirinya saat itu sedang berada di luar rumah ketika gempa terjadi. “Seandainya saya masuk ke dalam rumah, mungkin kami sekeluarga meninggal semua karena tidak ada yang menolong. Alloh sudah berkendak baik, saya keluar, sehingga sayalah yang menolong keluarga saya” katanya.

Yang memilukan, dalam kejadian tersebut Pak Geger harus merelakan menantunya bernama Rudi meninggal dunia, sementara anak perempuanya (istri Rudi) mengalami patah kedua kakinya dan seorang cucunya patah kaki serta tangan. “Alhamdulillah ada bantuan dokter dari Angkatan Laut dan mereka dirawat di kapal rumah sakit Angkatan Laut selama 10 hari,” imbuhnya.

Kini, Pak Geger bisa bernapas lega karena dia menjadi salah satu penerima bantuan huntara dari Muhammadiyah. “Terima kasih banyak kepada Muhammadiyah atas bantuannya, kami tidak bisa membalas dengan apapun, Allah yang membalas” pungkasnya. (AS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here