Muhammadiyah Berbasis Ranting: Tumbuh dari Bawah ke Atas, Bukan Atas ke Bawah

0
103
Foto pribadi

KLIKMU.CO

Oleh: Nurbani Yusuf

Dalam sebuah pidato yang sangat berkesan, KH Abdurazaq Fakhrudin yang biasa disebut Pak AR menuturkan bahwa ranting adalah the real Muhammadiyah.

Masih kata Pak AR, di Muhammadiyah tidak ada top level. Maka, setinggi apa pun kedudukan harus tetap aktif di ranting, bergerak bersama. Sebab, Muhammadiyah itu tumbuh dari bawah ke atas, bukan dari atas mengalir ke bawah.

Pak AR tetap ”ndeso” meski menjadi ketua pimpinan pusat.

Di ranting inilah para jamaah urunan. Dari membuat kue untuk pengajian hingga urunan membangun amal usaha: mushala, PAUD, sekolah, rumah sakit, hingga universitas. Ketika amal usaha tumbuh pesat melampaui yang mendirikan, ranting tetap urunan dengan model yang kurang lebih sama.

Prof Din Syamsuddin menyebut bahwa Muhammadiyah itu terbentuk dari federasi pemikiran, federasi gagasan, dan federasi amal. Dari ranting sambung-menyambung menjadi cabang. Cabang sambung-menyambung menjadi daerah. Daerah sambung-menyambung menjadi wilayah. Wilayah sambung-menyambung menjadi pusat.

Darinyalah ribuan masjid berdiri, ratusan universitas dan ribuan sekolah dibangun. Baik amal dan layanan lainnya disembahkan untuk izzul Islam. Sebuah ikhitiar mencari rida.

**

Kekuatan Muhammadiyah tidak berada pada satu titik, tetapi berbasis jamaah. Bukan ”pemimpin”, tapi ”pimpinan”: menunjukkan kolektif kolegial yang meneguhkan kekuatan bersama. Bukan kekuatan personal berdasar karisma atau pesona yang dikeramatkan. Ini yang disebut konsep ta’awun: bersama berbuat bajik.

Ada yang menyebut bahwa Muhammadiyah adalah sebuah holding, tapi bukan sembarang holding. Karena bebasis massa (jamaah) yang militan dan berintegritas. Inilah holding amal saleh untuk maslahat lebih banyak. Muhammadiyah itu milik jamaah, bukan milik pengurus, bukan milik ulama, bukan pula milik sekelompok yang mengatasnamakan apa pun. Inilah kekuatan dan kehebatan Muhammadiyah.

Inilah representasi organisasi yang diberkati, kata Carl Whiterington, peneliti senior dari Amerika.

Banyak orang yang berkata Muhammadiyah itu dihuni orang-orang ikhlas dan suka bederma. Karena itu, Muhammadiyah menjadi sangat kuat, tidak pernah bangkrut. Muhammadiyah tidak pernah pailit sebab kas Muhammadiyah ada di saku jamaah.

Ada ranting yang sudah sangat kuat karena punya banyak amal usaha, tapi juga ada ranting yang masih baru belajar urunan. Ada daerah dengan puluhan amal usaha, ada daerah yang baru belajar berdiri. Tidak perlu ada diskriminasi perlakuan. Inilah harmoni saling menggenapkan. Di Persyarikatan inilah kita berlomba berebut beramal saleh dengan niat terbaik, sedekah terbaik, waktu terbaik, dan pikiran terbaik.

Pak AR melanjutkan: Ber-Muhammadiyah itu saling menggembirakan dan saling membahagiakan, bukan sebaliknya. Begitu buah tutur Pak AR saat Milad Ke-84 di Universitas Muhammadiyah Malang di Kampus 2 Sumbersari, 23 tahun yang lalu, yang terus saya ingat.

@nurbaniysuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here