Muhammadiyah dan NU di Pusaran Glorifikasi FPI

0
442
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Pernyataan aktor dan komedian simpatisan FPI, Pandji Pragiwaksono, yang menyebut bahwa FPI selalu ada saat dibutuhkan karena Muhammadiyah dan NU jauh dari masyarakat sungguh menarik. Tak perlu baper lantas sebut ribuan amal usaha atau pesantren untuk meng-conter. Ini bukan soal kompetisi tentang banyaknya amal usaha atau jumlah pengikut, apalagi mengomparasi FPI dengan Muhammadiyah atau NU sungguh tidak selevel.

Tapi, dengan jujur harus diakui, inilah kelihaian media mem-branding image atau opini FPI kepada publik semacam glorifikasi. Ironisnya, banyak yang katut dan larut dalam skema berpikir yang mereka bentuk, tidak terkecuali ormas yang disebut modern dan besar karena memiliki amal usaha dan jumlah pengikut fantastis.

Ironisnya, gerakan FPI lebih fenomenal meski dalam skala yang sangat kecil. Kehadiran FPI membagi-bagi puluhan atau ratusan nasi bungkus di tempat-tempat bencana lebih menarik dan memikat publik dibanding puluhan miliar bantuan yang diberikan Muhammadiyah melalui MDMC atau Lazismu dan NU berikut banomnya dengan tidak bermaksud menafikan BNPB.

Benarkah FPI hadir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Muhammadiyah dan NU, yaitu sikap kritis, antimapan, dan perubahan? Sampai tahap itu, FPI dianggap dapat memberi keleluasaan dan harapan perbaikan terhadap stagnasi politik dan demokrasi yang memburuk.

Dua hal yang menurut saya luput dari perhatian dua ormas besar itu. FPI adalah harapan baik, yang kemudian diberi kemasan agama: nahi mungkar. Sebab, Muhammadiyah dan NU dianggap lebih banyak amar makruf-nya.

FPI hadir melawan rezim dan itu memikat sebagian orang yang memiliki irisan dan kesamaan pemikiran dan pergerakan terutama mimpi tentang negara Islam yang tidak tersalur di kedua ormas besar itu. Bagi sebagian kecil orang, FPI adalah solusi, Muhammadiyah dan NU dianggap lembek, jinak, atau bahkan bagian dari rezim. Dengan bahasa yang sedikit sopan mereka yang tidak puas menyebut Muhammadiyah dan NU lebih condong pada amar makruf ketimbang nahi mungkar-nya.

Nahi mungkar dipahami melawan mapan, FPI kemudian mengubah diri menjadi kanal aspirasi sebagian yang tidak terkover, meski masih harus banyak riset untuk membuktikan. Dengan metode analisis teks hermeneutik fenomenologis, dari para pengikut dan pemimpin kedua ormas besar itu terhadap fenomena yang tersedia, saya pikir cukup signifikan menyebut bahwa irisan ideologi itu demikian kentara dan mudah dibaca. Meski secara empirik dapat disebut sebagai ‘kekalahan psikologis’ pascapilpres. Efeknya begitu dominan dan susah dilupakan.

Yang diglorifikasi tak boleh atau tak bisa salah. Selalu benar atau dicarikan pembenar untuk memenuhi hasrat glorifikasinya itu. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah melawan habis sikap yang melahirkan taklid buta ini.

Enciklopedi Britanica mendefinisikan, glorifikasi adalah pemujaan terhadap seseorang atau kelompok di era modern. Sebuah istilah yang agak sopan sedikit, sebab jatuhnya sama: kultus.

Ada beberapa sebab kenapa seseorang melakukan glorifikasi. Salah satunya identifikasi personal: Rizieq Syihab berhasil tampil memerankan sebagai korban yang dizalimi dan itu efektif untuk meraih simpati publik, sebagai modal awal glorifikasi. Tapi sayang kita marah saat dibilang kultus.

Padahal kultus ya kultus. Dan itu penyebab taklid buta. Ironis memang, jika glorifikasi justru tumbuh subur pada perkumpulan yang menabalkan diri sebagai modern dan berkemajuan, dan FPI adalah cara ampuh melakukan glorifikasi yang efektif tanpa banyak biaya sebab justru dilakukan ormas besar tanpa diminta.

Tapi maaf. Dengan ‘sombong’ saya tuliskan. Jangan ngajari Muhammadiyah dan NU peduli sesama.

FPI belum lahir. Tapi sudah ratusan, bahkan ribuan panti asuhan, rumah sakit, pesantren, dan universitas yang dibangun Muhammadiyah dan NU untuk negeri. Sebab itu, jangan saling mengecilkan, apalagi menafikan, betapapun itu.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here