Muhammadiyah dan NU di Simpang Jalan

0
106
media jatim

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

NU maju karena menjadikan Muhammadiyah sebagai model gerakan pemajuan, pemodernan, dan inklusivitas. Muhammadiyah berada di zona nyaman sebagai Islam berkemajuan, modern, dan eksklusif.

Modernis dan tradisionalis agaknya sudah tak lagi bisa dipatok. Atau dikurung dalam definisi yang rigid. Apalagi jika ukuran modern dan tradisional bertumpu pada simbol-simbol fisik dan gerak mekanik. Menafikan yang substantif bahwa modern dan tradisional lebih pada cara berpikir, cara pandang atau state of mind.

Seratus tahun yang lalu mungkin celana, pentalon, dasi, dan sepatu pantofel bisa disebut modern berbanding terbalik dengan sarung, sorban, terompah, atau kopyah. Atau buku putih dengan huruf tulisan Latin Eropa lebih modern dibanding kitab kuning bertulis Arab gundul disebut tradisional.

NU pun disebut kaum tradisionalis sebab mengenakan sarung, sorban, terompah, dan atribut ndeso lainnya yang kemudian identik dengan kaum ndesit yang dianggap kolot, jumud, dan tidak mau berubah. Tapi benarkah stigma ini?

Batasan simbolik itu sudah berubah seiring dengan gerak dialektik, sunatullah tak bisa dibendung. Yang dulu disebut modern dan tradisional telah berubah dan menghapus garis batas. Sementara yang menabalkan diri sebagai modern bisa saja berubah tradisional, kolot, dan jumud karena mengusung semangat eksklusivitas.

Belum ada kata pasti siapa pertama sebut NU tradisional atau Muhammadiyah modern. Nakamura dan Greg Barton pun tak bisa menjelaskan kenapa kedua gerakan Islam ini seakan mengambil posisi saling berhadapan.

Batas-batas modernitas dan tradisionalis itu sudah diterabas. NU sudah punya puluhan universitas, rumah sakit, atau boarding school sebagai silmbol modernitas. Sebaliknya Muhammadiyah tak kalah gesit dengan membangun puluhan pesantren dengan berbagai variannya yang dulu dianggap tradisional.

Muhammadiyah sukses menjadi model gerakan Islam modernis, membuka cakrawala pemikiran Islam yang luas dan menyandingkan pada budaya modern. Dengan begitu Islam menjadi setara. Tidak dipandang sebelah mata seperti sebelumnya. Gagasan dan ide Kiai Dahlan dinikmati banyak orang. Proses dialektik sedang berlangsung natural sebab begitulah yang seharusnya.

Perbedaan fisik dan gerak mekanik makin menipis, lantas apa yang tersisa dari perspektif modernitas dan tradisionalis itu? Bukankah keduanya sudah sama-sama pakai celana, dasi, dan sepatu pantofel dengan merek yang sama. Keduanya sudah sama-sama membaca buku putih dengan tulisan Latin Eropa? Bahkan gadgetnya juga sama-sama dari produk kafir yang sama?

Jadi apa yang diperdebatkan? Tentang nawaitu, qunut subuh, bacaan sayyidina, atau tentang peringatan maulid? Kemudian saling membangun identitas sebagai atribut untuk membedakan. Yang baca ushali, qunut subuh yang memperingati maulid disebut tradisionalis? Dan sebaliknya, yang meninggalkan disebut modern?

Dulu sekali, pelajar modern disebut ‘student’, pelajar tradisional disebut ‘santri’. Tapi bisa saja sekarang malah berbalik, menyebut ‘student’ dianggap kemaruk atau keminggris.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here