Muhammadiyah dan NU Membangun Mitos?

0
119
Nurbani Yusuf

Oleh: Nurbani Yusuf *)

KLIKMU.CO

Sebuah hasil riset menyebutkan bahwa pluralisme di NU hanya mitos. Hanya elitenya. Tapi, NU akar rumput adalah intoleran yang eksklusif. Tidak menerima keragaman, bahkan cenderung memaksakan. Muhammadiyah pun sama: berkemajuan hanya di bagian elitenya, kebanyakan puritan, cenderung romantisme merindukan masa lampau atau ‘nyalaf’ dalam makna generik.

Yudi Latif memilah generasi kelima dan keenam kaum inteligensia muslim, yang kemudian disebut oleh Budhy Munawar Rahman sebagai Islam progresif. Yakni, Islam yang memberi penekanan utama kepada pengembangan ilmu pengetahuan, diskursus keadilan, keterbukaan, sikap toleransi, dan perlunya membangun integritas moral kaum muslim dalam membangun kebangsaan Indonesia.

Hal mana bertolak belakang dengan arus utama akar rumput yang dominan memuja pada hal-hal furu’, sebut saja revisi waktu shalat Subuh, isbal, janggut, minyak wangi, anti-China, anti-Yahudi, anti-Kristen, berebut kekuasaan, dan membangun identitas.

Buku berjudul Reorientasi Pembaruan Islam yang ditulis oleh Budhy Munawar Rachman dan diterbitkan pada 2010 menarik disimak. Pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia mengetok palu membunuh tiga makhluk penting: pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama. Matikah tiga makhluk ini?

*****

Sampai tahap ini bisa dilihat ada gap yang keras— meluas signifikan terhadap keberagamaan warga Persyarikatan Muhammadiyah. Sayang kajian macam ini memang belum banyak dilakukan, terbukti dengan susahnya menemukan buku, tulisan, apalagi hasil riset —padahal sangat penting untuk melihat dengan jujur orientasi keberagamaan warga Persyarikatan dari berbagai kelas sosial, status, dan klaster.

Betapapun saya tak sepenuhnya percaya jika Muhammadiyah menabalkan diri sebagai Islam medium, Islam kosmopolit, Islam berkemajuan, Islam modern, dan berbagai sebutan lainnya yang ditandai dengan berbagai indikator, sebut saja tingkat pendidikan yang tinggi, status sosial mapan dan ekonomi yang kokoh.

Cukup banyak indikator yang justru berbalik— warga Persyarikatan tak sepenuhnya demikian. Bahkan masih banyak warga Persyarikatan yang tak bisa atau tak mampu sekolah di amal usahanya sendiri karena keterbatasan ekonomi. Juga masih banyak warga Persyarikatan yang tak punya akses yang cukup meski sekadar ke amal-amal usaha Muhammadiyah yang representatif sebagai bagian dari warga Persyarikatan. Agar mereka tidak hanya menjadi penonton dan warga yang tidak tersentuh oleh dakwah.

Realitas ini harus disikapi secara jujur dan lapang hati bahwa masih banyak pekerjaan yang belum selesai atau terlewatkan dan itu wajar, guna mendapatkan pemahaman keberagamaan warga persyarikatan yang utuh, taktis, dan komprehensif untuk mengambil kebijakan-kebijakan strategis jangka panjang ke depan.

Dunia demikian cepat berubah dan bisa saja semua berbalik menurut hukum dialektik —yang dulunya disebut tradisional menjadi sangat modern atau sebaliknya, yang dulu menyebut dirinya modern menjadi jumud, kolot, dan eksklusif. Siapa bisa cegah? Ibarat pendulum apa pun bisa terjadi.

Boleh jadi kemajuan elite Muhammadiyah tidak berbanding lurus dengan warga persyarikatan kelas bawah, bahkan mungkin saja malah bertolak arah —mari kita buktikan. Realitas warga di tingkat yang paling bawah apakah juga paham dan mengerti. Sebuah pertanyaan klise untuk menjawab sesuatu yang sudah jelas.

Pun dengan sikap keberagamaan warga nahdliyin yang disebut plural, menjaga keragaman, kebhinekaan, dan apapun sebutannya juga hanya klise dan hanya ada di tingkat elitenya, realitasnya warga nahdliyin juga kurang lebih sama. Pluralisme dan kebhinekaan hanya mitos di tataran akar rumputnya.

Lalu, apa hubungannya dengan polemik di atas? Bisa jadi dalam tubuh Muhammadiyah dan NU memang terdapat gap (atau gradasi) ideologi dan pemikiran atas bawah antarelite dan akar rumput.

Meminjam pernyataan Greg Barton bahwa kontribusi dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini terhadap moderatisme Islam dan dalam merawat kebangsaan adalah modal sosial penting—jika bukan terpenting—yang menjadikan Indonesia tetap bertahan dengan segala kerentanannya. Gap dan dinamika di dalamnya bisa sangat kompleks, sekompleks Islam itu sendiri, William Lidle melanjutkan. Karena itu, polemik ini menjadi menarik untuk diteruskan dalam berbagai kajian dan riset, kata saya menambahkan. Wallahu taala a’lam.

*) Penulis adalah pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here