Muhammadiyah Dorong Indonesia Jadi Pusat Industri Halal

0
239
Para pemateri dalam acara doctoral colloquium dengan tema mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal. (Candra/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Sayangnya, Indonesia masih belum mampu untuk menjadi yang pertama dalam industri halal. Berawal dari permasalahan itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan doctoral colloquium dengan tema mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal. Acara ini diadakan pada Selasa (29/12/2020) melalui Zoom dan kanal YouTube FEB UMM.

Hadir sebagai pembicara pembanding KH Muhammad Cholil Nafis LC MA PhD, seorang penulis, dosen, serta ulama. Kemudian juga Dr Ahmad Soekro Tratmono, deputi pengawas perbankan IV dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adapun pembicara dari UMM adalah Dr Nurul Asfiah MM, Dr Sri Budi Cantika Yuli MM, Dr Driana Leniwati AK MSA, serta Dr Yulist Rima Fiandari MM.

Nurul Asfiah dalam paparannya menjelaskan model islamic social entrepreneurship bagi usaha mikro dan kecil (UMK) untuk mewujudkan industri halal. Nurul menyampaikan bahwa UMK merupakan penunjang terbesar perekonomian suatu negara. Namun, masih memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Kelemahan itulah yang menjadi alasan perlunya pemberdayaan bagi pengusaha UMK di Indonesia dalam membangun industri halal Indonesia.

Nurul juga tidak lupa mengambil contoh Aisyiyah sebagai organisasi yang telah menerapkan pemberdayaan masyarakat. Mereka mengajak perempuan untuk menjadi pilar ekonomi keluarga. Hal itu sejalan dengan pilar keempat yang dimiliki Aisyiyah tentang pemberdayaan ekonomi perempuan.

Sementara itu, Dr Ahmad Soekro Tratmono menyampaikan materi terkait mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal. Ahmad dengan gamblang menjelaskan bahwa dalam pengembangan keuangan syariah ada empat hal yang harus diperhatikan.

Pertama, ekosistem yang berupa penggunaan sinergi dan integrasi ekonomi syariah di sektor riil, keuangan komersial, dan keuangan sosial. Kedua, penguatan kapasitas dan daya saing industri syariah berupa peningkatan modal minimum, akselerasi konsolidasi, dan peningkatan kapasitas SDM.

Kemudian yang ketiga adalah peningkatan permintaan pada keuangan syariah berupa program peningkatan literasi dan perluasan akses keuangan syariah. Terakhir yakni memasifkan adaptasi digital dalam ekonomi syariah agar pengembangan keuangan syariah bisa berkembang dengan baik. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here