Muhammadiyah, Izinkan Saya Skeptis Barang Sebentar

0
86
Foto diambil dari Andi Azhar

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Jangan salahkan pikiran skeptis. Bisa saja karena terlalu banyak tahu yang tidak sesuai dengan yang diingini. Kita memang butuh bukan sekadar tahu, tapi keteladanan.

Shakspheare, tokoh skeptis abad tengah, menulis singkat dalam sebuah sketsa tentang mungkin saja kita berdiri di tempat yang mungkin saja tak sama meski berada di sebuah pesta. Lantas diteruskan Aamin Rihani tokoh skeptis dari Mesir “kita ada dalam sebuah ‘walimahan’ dengan piring dan hidangan yang tak sama semata karena berada pada posisi yang berbeda.” Dan kita harus menerima apa pun posisi itu tanpa banyak kata tapi.

Kiai Dahlan mungkin berada di zaman yang berbeda. Ketika Muhammadiyah masih butuh pertolongan, butuh sokongan, butuh bantuan dan uluran tangan baik waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja harta. Beliaupun menggadaikan hartanya untuk ongkos pergerakan yang dipimpinnya.

Pak AR yang tiada punya rumah mengendarai Yamaha butut atau tinggal di rumah pengurus cabang dan ranting saat berkunjung. Atau Kiai Bedjo Dermoleksono yang harus jalan kaki dari Batu ke Malang usai pangajian karena para santrinya tak mampu memberi sangu naik angkot.

Ini cerita epik para pengurus Muhammadiyah di jaman susah. Karena setiap pengurus harus memakai uang sendiri untuk menggerakkan pergerakan. Tidak ada fasilitas transportasi atau sekadar kue yang boleh dibawa pulang. Zaman ketika persyarikatan harus digerakkan dengan ‘uang’ sendiri.

Tapi sekarang saya hidup di era yang sangat berbeda. Era di mana Muhammadiyah mampu memberi pinjaman kepada negara. Pinjaman yang tidak tanggung-tanggung: Rp 1,2 triliun. Sama sekali tak mengganggu. Dan semua rumah sakit Muhammadiyah masih tetap eksis beroperasi. Bisa dibayangkan sekuat apa keuangannya.

Zaman ketika AUM mirip perusahaan raksasa, dengan deposit ratusan triliun—pada zaman di mana saya ‘dihidupi’ Muhammadiyah dengan sebenar-benar hidup. Bukan waktunya memberi tapi menerima, bukan waktunya menggadaikan harta tapi mendapat, bukan waktunya membesarkan tapi dibesarkan, bukan pula waktunya menghidupi tapi dihidupi.

Mungkin karena saya tahu terlalu banyak dan mungkin pula tak baik
untuk kesehatan. Tapi saya ditaqdirkan berada di dalamnya, dalam sebuah pusaran pergeraka, menunaikan sunatullah yang harus dikerjakan sekecil apapun itu.

Sayidina Ali bisa saja benar, kita dididik untuk hidup di jaman yang berbeda. Zaman ketika ikhlas diukur dengan besaran imbalan. Menggadaikan harta seperti yang dilakukan Kiai Dahlan terdengar klise, mengendarai sepeda butut ke kantor salah satu kebiasaan Pak AR Fakhrudin sudah tidak relevan. Dan tidak perlu lagi jalan kaki ke tempat ngaji sebab naik Alphard atau Fortuner lebih keren.

Sampai di sini, saya butuh keteladanan baru. Merevisi definisi iklas dan merekonstruksi niat berserikat di pergerakan ini, tapi jangan lupakan: di kampungku masih ada Kang Supingi yang masih setia 43 tahun ‘muruk’ ngaji dengan metode jadul tanpa imbalan. Di tempat lain juga sama: menyisihkan uang belanja untuk urunan membangun PAUD dan mushala.

Betapapun Persyarikatan ini besar karena di huni orang-orang ikhlas. Tetap terawat karena niat tulus yang sama. Bersetia pada tujuan yang juga sama.

Hanya mungkin surganya saja yang tak sama. Karena ada yang sebagian telah diberikan tunai di dunia dan ada yang ditunda di akhirat kelak.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here