Muhammadiyah Kembali Berduka

0
148
Alm. Prof. DR. KH.Yunahar Ilyas, LC., M.Ag
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

KLIKMU.CO

Oleh: Nugraha Hadi Kusuma*

Setelah Prof Bachtiar Effendy, kini ulama yang kita cintai dipanggil oleh Allah.
Prof. DR. Buya Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag. (lahir di Bukit Tinggi Sumatera Barat; umur 63 tahun) adalah seorang Mubaligh dan Ilmuwan yang luar biasa, Ia menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Sejak ia masuk Muhammadiyah pada tahun 1986 sudah banyak jabatan dalam organisasi yang diembannya, Pada periode 2000-2005 ia pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah. Selanjutnya ia menjabat sebagai salah satu Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah untuk periode 2005-2010; 2010-2015 dan 2015-2020.

Sedangkan dalam kesehariannya, sejak tahun 1987 ia bekerja sebagai Guru Besar di Fakultas Agama Islam UMY. Buya Yunahar Ilyas adalah putra dari Ilyas dan Syamsidar. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia, ayahnya meninggal pada tahun 1995, sedangkan ibunya tahun 1988. BuyaYunahar menikah pada tanggal 24 September 1987 dengan Liswarni Syahrial dan telah dikaruniai 4 orang anak, yaitu Syamila Azhariya Nahar, Faiza Husnayeni Nahar, Muhammad Hasnan Nahar, Ihda Rufaida Nahar. Pada tahun 2004, anak sulungnya, Syamila Azhariya Nahar meninggal dunia dalam usia 16 th.

Masih teringat cerdas dan tegasnya di bulan September 2019 lalu sebelum beliau jatuh sakit, terkait Milkul Yamin yang menghebohkan, Prof Yunahar Ilyas, menjelaskan Syahrur di negaranya, Suriah, sebetulnya sudah disebut sesat menyesatkan. Bahkan ulama besar yang negara dengannya, Syekh Wahbah Zuhaili, juga menyebut Syahrur sesat dan menyesatkan. Syekh Zuhaili menyampaikannya pada waktu berkunjung ke Yogyakarta.

“Waktu ke Yogyakarta, ditanya soal Syahrur, beliau (Syekh Zuhaili) mengatakan bahwa Syahrur itu sesat dan menyesatkan.

Jadi pikiran Syahrur ith berangkat dari bahasa, utak-atik bahasa, pendiriannya bahwa tidak ada sinonim dalam bahasa arab,” jelasnya di kantor MUI, Jakarta.
Lalu, Yunahar melanjutkan, dari situlah Syahrur mengembangkan pemikirannya dengan memasukkan pendekatan filsafat dan humanisme. “Jadi ada tiga (dasar pemikiran Syahrur), yakni bahasa, filsafat, dan humanisme,” imbuhnya.

Yunahar menambahkan, bagi Syahrur, sumber hukum atau sumber moral agama adalah tanzilul hakim (mendegradasi otoritas). Syahrur tidak memakai sebutan Alquran, meski memang maksudnya adalah Alquran. Syahrur juga memandang bahwa sumber hukum itu hanya Alquran, dan dia tidak mau terikat dengan hadis Nabi Muhammad.

“Jadi Alquran langsung. Sebab (menurut Syahrur), praktik Islam selama 10 tahun di Madinah zaman Nabi itu tidak bisa dilaksanakan untuk sepanjang zaman. Dia enggak peduli kitab turas, kitab ulama-ulama Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Hanbali, yang sudah menyusun struktur agama Islam, itu dia enggak peduli,” ungkap dia.

Cara penelaahan Syahrur yang langsung ke Alquran itu, tutur Yunahar, bermodalkan bahasa, filsafat, dan humanisme.

“Karena itu, bagi orang yang sudah pernah memelajari Syahrur, tentu tidak akan heran kalau Syahrur punya pendapat seperti itu,” papar dia.

Hal lain yang diutak-atik Syahrur, yaitu rukun Iman dan rukun Islam. Yunahar menuturkan, bagi Syahrur, yang benar dari rukun Islam itu hanya mengucapkan kalimat ‘Asyhadu allaa ilaaha Illallah’, tanpa kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Menurut Syahrur, ‘Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah itu bukan bagian dari rukun Islam.

“Sementara shalat, zakat, puasa, haji itu bagian dari rukun iman. Pokoknya sudah di aduk-aduk. Nah apalagi masalah perkawinan,” ujarnya.

Yunahar juga menjelaskan soal mil kullil yamin. Ini artinya budak, di mana pada zaman dulu sebelum Islam datang, perbudakan itu merajalela. Lalu Islam mencoba untuk menghapusnya sedikit demi sedikit.

“Dengan apa? coba perhatikan, kafarat (pengganti) dan denda-denda itu salah satunya adalah membebaskan budak. Kemudian, amal yang baik adalah membebaskan budak. Dikasih contoh oleh Nabi, sehingga dengn sendirinya, perbudakan itu hilang sehingga tidak ada lagi konsep milk al-yamin,” imbuhnya.

Kemudian, Yunahar menuturkan, Abdul Aziz merujuk pada Syahrur dalam disertasinya dan mencoba menafsirkan konsep milk al-yamin itu dengan konteks sekarang.

“Dia (Syahrur) ingin mengganti konsep milk al-yamin itu dengan hubungan seksual di luar pernikahan atas dasar suka sama suka,” ucapnya.

Akhirnya Ramadhan 2020 ini tak akan lagi terdengar ceramah beliau yang menyejukkan dan fatwa fatwa yang bernas yang menentramkan, Selamat Jalan kekasih Allah, Buya Yunahar Ilyas Selamat bertemu dengan yang paling Engkau cintai Allah SWT.

*Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here