Muhammadiyah Mengarungi Belantara Dunia Maya

0
60
Kompasiana

Oleh: Pradana Boy ZTF*)

KLIKMU.CO

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah tautan artikel di salah satu platform media sosial. Artikel itu bercerita tentang perdebatan teoretis di kalangan filosof Muslim. Menurut penulis artikel itu, al-Ghazali terlibat perdebatan tentang teori metafisika dengan Ibnu Arabi. Al-Ghazali menulis buku Tahafut al-Tahafut untuk menjawab pemikiran Ibn Arabi, sementara Ibn Arabi menjawab pemikiran al-Ghazali dengan menulis sebuah buku yang oleh penulis artikel itu tidak disebutkan judulnya.

Membaca artikel itu saya mengernyitkan dahi, lalu berfikir barangkali saya tidak mengikuti perdebatan itu, karena bacaan yang terbatas. Sehingga baru pada saat itulah saya mengetahui adanya perdebatan antara al-Ghazali dan Ibn Arabi yang mirip dengan perdebatan al-Ghazali dengan para filosof Muslim. Tetapi judul buku yang disebut adalah buku karya Ibn Rusyd. Setelah membaca komentar atas tulisan tersebut pada kolom di bawahnya, barulah saya menyadari bahwa artikel itu membawa informasi yang salah akibat informasi sepotong-sepotong yang ditangkap penulisnya.

Bagi para pembelajar filsafat Islam, tentu sangat mahfum bahwa di kalangan filosof Muslim memang terjadi perdebatan teoretis. Al-Ghazali yang terlebih dahulu menggeluti filsafat sebelum menekuni tasawuf, melontarkan kritik, khususnya dalam bidang metafisika, kepada para filosof terdahulu, seperti al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Sina. Kritik itu merupakan salah satu poin penting dalam buku yang bertajuk Tahafut al-Falasifah, atau kerancuan para filosof. Lebih dari seabad kemudian, buku al-Ghazali dijawab oleh filosof Muslim lain, yang pemikiraannya tidak menjadi sasaran kritik langsung al-Ghazali, yaitu Ibn Rusyd, melalui buku berjudul Tahafut al-Tahafut. Antara pelontar kritik dan penjawab kritik tidak saling bertemu. Al-Ghazali wafat apada tahun 1111 M, sementara Ibn Rusyd lahir pada tahun 1126. Antara wafatnya al-Ghazali dan kelahiran Ibn Rusyd terpaut 25 tahun atau seperempat abad. Lalu dari mana tiba-tiba muncul nama Ibn Arabi? Inilah poin penting yang saya tanyakan.

Namun, dengan mengetahui konteks diskusi yang mengiringi artikel itu segera saya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Artikel itu pastilah ditulis oleh seseorang yang sama sekali tidak ahli dalam sejarah intelelektualisme Islam, namun memaksakan diri menulis, dan parahnya lagi tidak melakukan cek ulang pada  literatur-literatur terpercaya. Akibatnya, muncul tulisan dengan informasi menyesatkan seperti itu. Saya hanya membayangkan, seandainya artikel tersebut dikutip begitu saja oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah, dan untuk alasan kepraktisan mencari bahan yang tersedia di internet untuk kepentingan tugas kuliahnya itu; maka, kesalahan informasi itu akan melahirkan lapisan kesalahan baru.

Inilah salah satu contoh nyata tentang sisi negatif menjadikan internet sebagai sumber belajar. Apa yang dinyatakan oleh Abdul Karim Bangura yang saya kutip pada artikel terdahulu bahwa di internet, orang bisa menulis apa saja tanpa ada kontrol ahli, terbukti pada contoh di atas. Lebih khusus lagi, kenyataan seperti ini bisa menimbulkan akibat serius, yaitu: a) Masuknya informasi yang salah tentang sebuah konsep keilmuan; b) Sebagai pintu masuk bagi faham-faham Islam lain ke dalam Muhammadiyah.

Disadari atau tidak, masuknya ragam orientasi keagamaan baru di Muhammadiyah yang belakangan ini cukup massif, salah satunya melalui pergulatan wacana di media sosial dan internet yang tak terkontrol dan tanpa verifikasi itu. Dalam situasi yang sedemikian, bukan hanya peluang yang terbuka lebar bagi Muhammadiyah untuk hadir di ruang publik yang bernama internet itu, namun telah menjadi sesuatu yang urgen. Berikut adalah beberapa langkah yang mungkin bisa ditempuh agar Muhammadiyah turut serta mengambil bagian dalam pasaraya wacana keagamaan di internet, media sosial, atau dunia digital pada umumnya.

Tiga Langkah

Pertama, transformasi kesadaran menjadi tindakan. Dalam ragam diskusi, hampir selalu muncul pernyataan-pernyataan yang bernada kesadaran dan gugatan akan ketertinggalan Muhammadiyah dalam mewarnai pasaraya wacanaa keagamaan di dunia digital ini. Namun, dalam banyak kasus, kesadaran itu sulit diwujudkan dalam tindakan. Tentu banyak hal yang bisa ditunjuk sebagai sebabnya. Tetapi di antara yang terpenting adalah tidak cukupnya waktu di kalangan tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk turut serta dalam meramu  menu dan kemudian “menawarkan dagangan” mereka di pasaraya wacana Islam di internet dan media sosial.

Dalam sebuah forum kajian daring dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, saya melontarkan pikiran, agar generasi muda milenial Muhammadiyah yang lebih akrab dan melek teknologi digital mengambil peran penting dalam mendokumentasi, meramu dan kemudian menyebarluaskan gagasan-gagasan para pemikir dan tokoh publik Muhammadiyah. Pada tingkat pimpinan tertinggi, saya sangat yakin telah ada di tim media yang mendampingi Prof Hedar Nashir sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau Prof Abdul Mu’ti sebagai Sekretaris Umum. Kehadiran tim ini penting dalam setiap kegiatan tokoh Muhammadiyah, sehingga pikiran-pikiran cemerlang mereka bisa hadir dalam ruang publik yang lebih luas, dan bukan hanya di kalangan publik Muhammadiyah.

Kedua, sinergi antargenerasi. Lepas dari hal di atas, kita juga menyadari bahwa terdapat banyak tokoh Muhammadiyah lain yang tidak memiliki tim media, sehingga pikiran-pikiran mereka tidak menyebar lebih luas. Sementara untuk melakukannya sendiri, tentulah sudah bukan ranah mereka. Dalam hal inilah, usulan saya kepada IMM atau AMM pada umumnya, agar berperan sebagai tim dokumentasi sangat penting. Mari kita sebut contoh. Pemikiran tokoh-tokoh intelektual publik Muhammadiyah seperti Ahmad Najib Burhani (Jakarta), Hilman Latief, Zuly Qodir (Yogyakarta), Zakiyuddin Baidhawy (Surakarta, Jawa Tengah), Anjar Nugroho (Purwokerto, Jawa Tengah), Muthoharun Jinan (Surakarta, Jawa Tengah), dan Biyanto (Surabaya, Jawa Timur); sangat penting hadir di dunia digital, bukan hanya di artikel media massa sebagaimana sudah mereka lakukan selama ini.

Akan tetapi keterbatasan waktu mereka, tidak memungkinkan hal itu terjadi. Maka, sinergi antara kalangan intelektual senior ini dengan kalangan milenial Muhammadiyah. Secara teknis, kalangan milenial ini memang menjadi tim media tokoh-tokoh Muhammadiyah tersebut. Namun, tanpa disadari, di situ terjadi juga proses transformasi keilmuan. Jika ini bisa dilakukan, ini diibaratkan sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ketiga, memperbanyak media kultural Muhammadiyah. Secara faktual, belakangan ini kita menyaksikan media-media daring Muhammadiyah bermunculan. Sebut saja ibtimes.id, kalimahsawa, pwmu.co, rahma.id, dan Suara Muhammadiyah sendiri juga hadir dalam versi online dan digital. Kehadiran media-media itu juga semakin ramai dengan sentuhan tangan para penulis berbakat yang teramat handal seperti Wahyudi Akmaliah, Azaki Khoiruddin, Hasnan Bachtiar, Lya Fahmi, Nurlia Dian Paramita, Neni Nur Hayati, Subhan Setowara, Nafi Muthohirin, Robby Karman, Ari Susanto, dan kader-kader penulis lainnya.  Maka, agar warna Muhammadiyah semakin banyak  mewarnai pasaraya wacana di media sosial ini, memperbanyak media kultural yang  berbasis Muhammadiyah dengan sendirinya menjadi hal yang tak bisa dihindarkan.

Dengan modal penulis-penulis muda handal ini, rasanya Muhammadiyah sudah punya cukup amunisi untuk turut serta “bertempur” dalam jagad wacana para pemikiran di dunia digital. Namun, kehadiran pasukan para penulis dari kalangan generasi muda itu harus ditopang oleh para penulis senior yang sebenarnya sebagian besar dari mereka telah mencapai peringkat kepakaran.

Dengan demikian, kehadiran Muhammadiyah di ruang publik baru yang bernama internet akan semakin terasa. Kehadiran ini demikian penting agar hal-hal sebagaimana dicontohkan di awal tulisan ini tidak terjadi, dan kampanye agresif corak-corak keagamaan yang cenderung bertentangan dengan faham keagamaan Muhammadiyah, tetapi mempengaruhi pola pikir anggota Muhammadiyah, bisa dicarikan jalan keluarnya.

Pradana Boy adalah Asisten Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, bidang al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah edisi 15-29 Rabiul Akhir 1442 H/November 2020. Atas seizin penulis, KLIKMU.CO memuatnya kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here