Muhammadiyah: Sosialisme Islam Inklusif

0
106
Tribun

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

“Kleinbürger” ditampik kaum borjuis, tapi tak kerasan disebut proletar. Manifesto komunis lama menggambarkannya sebagai  kelas yang “terapung  antara proletariat dan borjuasi”.

Kelas ini, “Kleinbürger,” hidup dengan rasa iri dan waswas di hadapan kaum pemodal besar. Terkadang mereka punya cita-cita sosialisme. Tapi sosialisme mereka, kata Marx dan Engels, hanya “reaksioner dan utopian”.

Ideologi komunis konflik sejak pertama digagas, para pemikirnya tak pernah akur dan bertengkar sepanjang hayat. Sebab itu, komunis tak pernah bisa diterima utuh kecuali potongan-potongan yang dipermak sesuai kebutuhan.

Ia bukan barang jadi, tapi hanya semacam bahan dasar untuk diramu menjadi sebuah ideologi. Nyoto, misalnya, adalah seorang pemikir komunis punya bagian meramu bahan dasar itu. Bagi Nyoto fokus hidup yang sebenarnya adalah survival. Setiap kita dibentuk oleh kerja dan ketidakpastian.

Masa pandemi adalah contoh paling konkret. Ketika “kleinburger” tiba-tiba menjadi melarat karena ditumpuk tagihan utang. Komunisme adalah tawaran dialektik karena ketidakpastian yang dibentuk kerja para borjuis. Tegasnya, komunisme itu adalah tawaran sekaligus perlawanan atas borju korup. Ironisnya, sampai saat ini, komunisme hanya berhenti menjadi ideologi politik, bukan gerakan filantropi yang berpihak pada kaum melarat.

Apakah Islam punya tawaran untuk mengurai ketidakadilan dan kemelaratan massal? Sayangnya, banyak yang sensi dan keburu kabur ketika diajak bicara tentang sosialisme. Sebab, sosialisme kadung dicap komunis padahal jauh berbeda.

Bukankah terlalu banyak ajakan keberpihakan kepada kaum melarat yang disebut duafa. Konsep ini sebenarnya lebih ‘substantif dan mencakup’ ketimbang konsep proletar. Duafa lebih inklusif dibanding proletar yang merujuk pada buruh.

Sosialisme Islam bahkan menganjurkan hal yang paling dasar yang menjadi hak kaum melarat: memberi makan dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama agar menjadi gerakan kolektif. Sesuap makanan kepada perut yang lapar dihargai lebih dibanding 1.000 rakaat sunah di setiap sudut Kakbah.

Kiai Dahlan lebih solutif ketimbang Marx dkk penganjur komunisme yang utopis. Teologi al Maaun  jauh lebih ‘substantif dan mencakup’. Menyandingkan antara idealitas dan realitas, simbol dan substansi dalam satu gerakan pemajuan, pemodernan, dan pencerahan. Muhammadiyah jelas berpihak pada kaum duafa.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here