Muhammadiyah Tak Butuh Pemimpin yang Gegap Gempita

0
28152
Ayojakarta.com

KLIKMU.CO – Kemarin 8 Desember ada tulisan viral yang berjudul “Memuhammadiyahkan Rizieq Shihab” yang terbit di tanwir.id. Itu tak berselang lama dari kasus penembakan enam pengikut Rizieq Syihab oleh polisi.

Pak Sukriyanto AR, anak kandung Pak AR Fachruddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, pun ikut menanggapi meskipun secara implisit.

Menurut Pak Sukriyanto AR, yang diperlukan di Muhammadiyah bukan pemimpin yang gegap gempita seperti itu. Yang diperlukan di Muhammadiyah adalah pemimpin yang tekun membina anak-anak muda, tekun belajar untuk menyiapkan muslim yang kuat dan cerdas, serta tekun membina pesantren untuk menyiapkan ulama yang paham Al-Qur’an, hadits, dan Islam yang kafah yang rasikhuna fil ‘ilmi seperti yang diajarkan Rasulullah saw.

“Menyiapkan ribuan mubalig, menyiapkan orang-orang yang bisa meneladani Nabi Muhammad saw yang sabar, santun, ramah. Kalau bicara dengan kalimat-kalimat (qaulan) yang layyinan (lembut, tidak kasar), kariman (mulia, tidak vulgar), maisura (pantas), balighan (menembus hati/jiwa), yang suka menolong, dermawan, jujur, adil, yang bisa membina panti-panti untuk kaum duafa, fakir miskin, orang-orang jompo, difabel, dan sebagainya,” paparnya.

Selain itu, menurut Pak Sukriyanto AR, Muhammadiyah memerlukan pemimpin yang peduli terhadap orang-orang yang menderita yang bisa duduk bareng dengan kaum duafa dan wong cilik.

“(Yang dibutuhkan bukanlah, Red) pemimpin yang tidak pendendam, bahkan mau menengok orang Yahudi yang sakit, padahal setiap hari melempari dengan kotoran unta ketika Rasulullah lewat di depan rumahnya,”ujarnya.

Selain itu, pemimpin yang berhari-hari mau menyuapi orang Yahudi buta ketika sakit tanpa diketahui oleh si Yahudi. Padahal, si Yahudi buta itu suka mencaci maki Rasulullah.

Pak Sukriyanto AR melanjutkan, yang diperlukan Muhammadiyah adalah pemimpin yang bisa membina jutaan warganya untuk terus memakmurkan ribuan masjid, membina dan mengembangkan ratusan PTM, membina dan mengembangkan ratusan rumah sakit dan AUM (amal usaha Muhammadiyah) yang lain,” jelasnya.

“Yang lebih diperlukan Muhammadiyah sekarang adalah pemimpin yang bisa melanjutkan tafsir amali KHA Dahlan dan mengkafahkan AUM-nya di bidang ekonomi (pertambangan, pertanian, perikanan, peternakan dsb), AUM di bidang politik kebangsaan untuk mengisi lembaga-lembaga legislatif dan eksekutif,  AUM di bidang kebudayaan untuk membudayakan kejujuran, keadilan, amanah, etos ilmu, etos kerja lewat seni budaya, lewat lagu-lagu & musik, lewat sastra, lewat film, lewat jurnalistik, dan sebagainya,” ungkapnya.

“Jadi, biarlah Rizieq Syihab tetap pada posisinya. Kita hormati. Tetapi, kepemimpinan di Muhammadiyah berbeda,” tandasnya. (AS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here