Muhammadiyah Trenggalek Tegas Menolak Tambang Emas di 9 Kecamatan

0
2975
Lokasi tambang batu yang diprotes warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Trenggalek. (Istimewa)

KLIKMU.CO – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Trenggalek turut bersikap atas rencana proses eksploitasi tambang emas di wilayah Trenggalek. Mereka tegas menolak rencana tersebut. Hal itu tertuang dalam surat bernomor 006/PER/III.0/2021 yang terbit pada Ahad (21/3/2021).

Ketua PDM Trenggalek Drs. H. Rohmat, MM. Mengatakan, kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Kabupaten Trenggalek tidak dapat terpisahkan dengan kehidupan masyarakat setempat yang mayoritas mata pencahariannya sebagai petani.

“Bagi mereka, alam adalah anugerah Tuhan yang memberikan kontribusi besar bagi keseimbangan ekosistem dan kelestarian ekologi,” paparnya.

Muhammadiyah menganggap degradasi ekologi yang terus berlangsung secara perlahan tetapi pasti demi kepentingan ekonomi merupakan praktik perusakan terhadap lingkungan secara terstruktur dan sistematis yang tidak disadari. Indikator terjadinya kerusakan lingkungan pun sudah sangat jelas. Misalnya, menipisnya lapisan ozon, pemanasan global, perubahan iklim, banjir bandang, erosi dan pendangkalan sungai, tanah longsor, krisis (kelangkaan) air, dan mewabahnya berbagai penyakit.

“Hadirnya PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) untuk melakukan eksploitasi proyek pertambangan emas dan material pengikutnya di sembilan lokasi wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dengan luas 12.883, 57 ha merupakan praktik penyemaian benih kehancuran ekologi yang akan merugikan masyarakat setempat,” tegas Rohmat.

Kesembilan wilayah itu Kecamatan Kampak, Kecamatan Watulimo, Kecamatan Gandusari, Kecamatan Karangan, Kecamatan Suruh, Kecamatan Tugu, Kecamatan Pule, Kecamatan Munjungan, dan Kecamatan Dongko.

Sikap Resmi Muhammadiyah Trenggalek

Oleh karena itu, PD Muhammadiyah mengeluarkan lima sikap resmi. Pertama, sangat keberatan dan menuntut untuk dicabut Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor P2T/57/15.02/VI/2019 tentang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) tertanggal 24 Juni 2019.

Kedua, eksploitasi proyek pertambangan emas dan material pengikutnya di wilayah tersebut akan berdampak pada kerusakan ekologi yang nilainya tidak sebanding dengan profit sharing yang didapatkan masyarakat dan negara. Karena di samping lokasinya berada di kawasan hutan lindung yang harus dipertahankan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, juga berada di kawasan lindung ekosistem kars yang tidak boleh dialih fungsikan menjadi kawasan budidaya.

Ketiga, pemerintah hendaknya mendengarkan, memahami, dan memenuhi tuntutan arus terbesar masyarakat Trenggalek yang keberatan dan menolak keras operasi produksi tambang emas dan material pengikutnya. Karena jika hal ini tidak segera ditindaklanjuti akan berpotensi menimbulkan konflik sosial yang dapat mengganggu stabilitas pemerintahan dan pembangunan.
Keempat, mendukung sepenuhnya usaha pemerintahun untuk meningkatkan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan program sustainable development yang tidak menimbulkan efek terhadap kerusakan lingkunagan. Karena bercermin dari berbagai kasus eksploitasi pertambangan emas dan material pengikutnya yang  terjadi di Indonesia, belum ada satu pun wilayah yang terbebas dari kerusakan lingkungan dan masalah sosial yang menyertainya.

Kelima, sumber daya alam bukanlah harta warisan yang dapat dieksploitasi tanpa memedulikan ekosistem yang ada di dalamnya, tetapi ia adalah anugerah ilahi yang menjadi hak bagi generasi penerus masa depan yang wajib kita serahkan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here