Muhammadiyah versus Islam Radikal: Puritanisme yang Berseberangan

0
99
Ilustrasi diambil dari internet

Oleh Achmad Santoso
Editor KLIKMU.CO

 

Dalam Workshop Antiradikalisme (Pemikiran dan Gerakan) yang diadakan atas kerja sama DPD IMM Jatim, ruangobrol.id, dan DNK.ID Sabtu lalu (28/9) terungkap, Muhammadiyah dan Islam radikal memiliki banyak perbedaan esensial. Hal itu dijernihkan Pradana Boy, tokoh progresif Muhammadiyah, bukannya tanpa alasan. Pasalnya, Muhammadiyah sejauh ini kerap dituding dekat dengan, mengutip Buya Syafii, kelompok berpaham “impor” tersebut.

Perbedaan itu diklasifikasikan menjadi empat hal: paham keagamaan, sikap terhadap teks, sikap terhadap Barat, dan islamisasi masyarakat. Perhatikan baik-baik, wahai para penuding! Di ruang lingkup paham keagamaan, Muhammadiyah bersifat rasional, terbuka (inklusif), dan puritan. Di sisi lain, Islam radikal memahami agama dengan eksklusif-utopis, defensif-romantis, dan puritan.
Memang, Muhammadiyah dan puak-puak Islam radikal memiliki garis persamaan di wilayah puritan.

Puritanisme secara umum dimaknai sebagai sikap dan keinginan untuk selalu menghadirkan dan mempraktikkan nilai serta ajaran agama ke dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, puritanisme adalah pemurnian ajaran: kembali kepada Alquran-hadis. Inilah yang berusaha dimanfaatkan kelompok-kelompok impor itu untuk menginfiltrasi Muhammadiyah.

Padahal, menurut Mahsun Jayadi dalam buku Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajrid dan Tajdid, puritanisme Muhammadiyah selalu dibarengi dengan dinamisasi atau modernisasi. Dari kolaborasi itu lantas dikenal jenama gerakan tajdid (pembaruan).

Akan tetapi, barangkali juga karena bersikap terbukalah, intensitas perjumpaan persyarikatan dengan mereka cenderung besar. Yang harus digarisbawahi, ada garis demarkasi yang benderang antara puritanisme khas Muhammadiyah dan pemurnian yang dipahami gerakan Islam radikal. Sebab, puritanisme Muhammadiyah senantiasa dibarengi dengan dinamisme pemikiran maupun gerakan.

Dalam buku Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi, Amin Abdullah menegaskan bahwa gerakan purifikasi Muhammadiyah senantiasa relevan dengan perkembangan zaman karena kerap berjumpa dengan ilmu-ilmu sosial lain. Menurut guru besar UIN Sunan Kalijaga itu, gerakan purifikasi harus tetap mampu menjawab problem umat kiwari yang kian hari kian kompleks. Itulah yang tidak mampu dijangkau Islam garis keras. Amin Abdullah lantas memberikan penekanan perbedaan antara Muhammadiyah dan gerakan Islam ”kolot”. Wahabi, misalnya.

Pertama, Muhammadiyah mendirikan perguruan tinggi dengan membuka ilmu-ilmu baru, sedangkan gerakan Wahabi tentu tidaklah demikian. Kedua, Muhammadiyah melakukan aktivitas seperti mendirikan rumah sakit, sedangkan gerakan Wahabi tentu tidak kelihatan batang hidungnya. Ketiga, Muhammadiyah juga mewadahi aktivitas kaum perempuan seperti Aisyiyah, sementara Wahabi pantang melakukan itu. Begitulah, kira-kira, aktualisasi dari puritanisme Muhammadiyah yang selalu mengakomodasi kebutuhan manusia.

Nah, menurut Pradana, di samping puritan, Muhammadiyah juga bersifat rasional dan terbuka. Rasionalitas Muhammadiyah ditandai dengan dipakainya dua dalil, yaitu naqli dan aqli. Naqli bersumber dari Alquran dan hadis, sedangkan aqli dari akal. Karena itulah, Muhammadiyah juga menghargai buah pemikiran dalam menghadapi problem umat. Tak heran kalau kemudian Muhammadiyah kaya akan tokoh-tokoh pemikir seperti Amin Abdullah sendiri, Syafii Maarif, Amien Rais, Azyumardi Azra, hingga Moeslim Abdurrahman (almarhum).

Ada pula sikap eksklusif, yaitu terbuka atas sesuatu. Artinya, dalam memahami agama, Muhammadiyah tidaklah antikritik. Salah satu kritik pada Muhammadiyah yang ditulis Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Masjid adalah minimnya aspek kebudayaan yang dimiliki Muhammadiyah. Kami sadar betul akan hal itu.

Sementara itu, Islam fundamentalis berpatok pada pemahaman yang eksklusif, utopis, defensif, dan romantis (di luar puritan). Tak dapat dielak bahwa, selain eksklusif, pemahaman keagamaan mereka utopis, yaitu berkhayal. Penjabarannya, kelompok yang memimpikan suatu tata masyarakat dan tata politik yang hanya bagus dalam gambaran, tetapi sulit, bahkan mustahil, untuk diwujudkan. Defensif bermakna bertahan alias membentengi diri.

Lantas, romantis jelas melihat kejayaan Islam masa lalu sebagai salah satu pijakan. Katakanlah, dengan itu, mereka justru menganjurkan amar makruf nahi munkar dengan kekerasan, bahkan peperangan. Padahal, konteks masa lalu dan masa kini jelas sekali berbeda.

Kita beralih ke sikap terhadap teks. Muhammadiyah, di antaranya, mengharmonisasikan teks dan konteks. Lantas, pendekatannya bervariasi: literal, semikontekstual, dan kontekstual. Bagaimana dengan Islam garis keras? Dominasi teks atas konteks, pendekatan literal, dan tentu saja menutup ruang akal bagi interpretasi teks. Kita jelajahi satu-satu. Muhammadiyah bersikap seimbang untuk memahami teks dan menyesuaikan konteks. Contohnya, meskipun sering diulang, KH Ahmad Dahlan mempelajari surah Al Maun tidak hanya secara tekstual, tetapi justru yang lebih penting kontekstual.

“Kalian sudah hafal surat Al Maun, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktikkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” ucap Ahmad Dahlan kala itu seperti dikutip Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya (2009).

Selanjutnya, ia menyuruh murid-murid untuk berkeliling mencari orang miskin dan membawanya pulang. Lalu, mereka dimandikan dengan sabun, diberi pakaian bersih, dikasih makan dan minum, serta disediakan tempat tidur yang layak. Dari sinilah kelak muncul amal usaha Muhammadiyah yang menjadi ”trademark” itu: bidang pendidikan (sekolah, universitas), kesehatan (rumah sakit), dan sosial (panti asuhan). Ahmad Dahlan merasa tak cukup jika persoalan agama sekadar menjadi teks doktrinal yang dihafalkan tanpa praktik nyata untuk mengentaskan pelbagai persoalan umat.

”Pengulangan itu dimaksudkan agar para santri memahami pesan ayat-ayat sosial dalam surah Al Maun itu. Artinya, surah pendek itu harus diinternalisasikan secara sungguh-sungguh ke setiap pribadi muslim,” tulis M. Alfan Alfian dalam Menjadi Pemimpin Politik (2009) mengutip pernyataan KH A.R. Fachruddin.

Padahal, Islam radikal justru sangat letterlek dalam menerjemahkan teks. Inilah perbedaan “radikal” dengan Muhammadiyah maupun NU, misalnya. Bahkan, NU, lewat KH Ma’ruf Amin suatu ketika, dengan lantang menyatakan bahwa asal mula orang berpaham radikal bahkan sampai menjadi teroris adalah pemahaman secara tekstual. Kelompok tersebut tidak mau memakai cara ulama mempelajari agama itu bertahap dari dasar.

Muhammadiyah dan Islam radikal juga kontras dalam hal bersikap terhadap Barat. Muhammadiyah, kata Pradana lagi, senantiasa kompetitif dan adaptif. Kompetitif dimaksudkan bisa bersaing dengan gerakan-gerakan Barat. Di sisi lain, Muhammadiyah juga adaptif alias mampu beradaptasi dengan baik. Apa yang dipandang majelis, misalnya, harus disaring, lantas diaktualisasikan. Karena itulah, terhadap paham modernisme dan pluralisme, Muhammadiyah tidak serta-merta menentang. Justru berusaha memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Lagi-lagi, KH Ahmad Dahlan sudah meneladaninya ketika menggunakan produk-produk Barat justru untuk sarana belajar dan beribadah lainnya.

Sementara itu, penganut paham radikal anti-Barat dan reaktif. Mereka dengan tegas menolak paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Mereka galib menyebutnya “sipilis”. Di satu sisi, mereka memang menolak segala bentuk pemikiran/paham dari Barat. Tetapi, di sisi lain, kelompok ini “secara tidak sadar” menikmati fasilitas orang Barat. Katakanlah mobil, motor, telepon pintar, televisi, dan lain-lain. Maka, ada semacam kontradiksi antara pemikiran dan aktualisasinya.

Terakhir, Muhammadiyah dalam mengislamisasi masyarakat tetap berpegang teguh pada sikap moderat (tengah-tengah) serta pro-negara bangsa dan Pancasila. Didelegasikannya tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam merumuskan Pancasila dulu adalah bukti sahih. Ada Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo. Hal itu dipertegas dengan jargon darul ahdi wa syahadah. Islam radikal bagaimana? Tentu bertolak belakang. Mereka sangat agresif dan asertif. Selain itu, Islam radikal menginginkan formalisasi syariah dan negara Islam, sebuah sistem yang justru ditentang keras oleh Muhammadiyah (dan NU).

Begitulah Muhammadiyah! Dari poin-poin tadi, hanya puritanisme, bukan, yang berada di garis perjumpaan dengan Islam radikal. Itu pun ejawantahnya berlawanan. Jadi, tidak eloklah menyandingkan Muhammadiyah dengan gerakan Islam radikal, ekstremis, fundamentalis, atau apa pun istilah lain sebagaimana yang kerap saya amati sejauh ini.

Tulisan ini pernah terbit di DNK.id pada Jumat (4/10) dengan judul: Garis Batas Muhammadiyah, Yang Puritan Betum Tentu Auto-Radikal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here