Muhasabah #3: Apa Perananmu?

1
323
Ilustrasi diambil dari 123rf.com

KLIKMU.CO

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua. Menjadi manusia yang bermanfaat itu, mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk diwujudkan selain itu perwujudan dari manfaat itu sendiri banyak variasi dan modelnya.

Terinspirasi dari sebuah hadits yang berbunyi: “Khairun-nas anfa’uhum lin-nas,” artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Hadits ini begitu sangat populer di kalangan umat Islam karena hadits ini tidak pernah ketinggalan disampaikan oleh para da’i di setiap kegiatan ceramahnya yang mengangkat tema berkaitan dengan ‘Muammalah Dunyawiyah’ mungkin bisa kita uji kebenarannya, salah satu buktinya adalah banyak yang hafal hadits tersebut mulai dari santri sampai orang awam, yang fakir ilmu dan wawasan seperti saya pun hafal karena terlalu populernya.

Berangkat dari pengalaman, puncaknya ketika di SMA. Setelah memutuskan untuk aktif di organisasi konsekuensi berikutnya yang harus saya tanggung adalah saya harus berkorban waktu, berkoban uang sampai kepada korban perasaan.

Menarik untuk di ungkap, setiap kali ada acara atau pertemuan khusus, baik di dalam maupun di luar sekolah. Dalam hal ini, saya meniru sifat orang pelit yang selalu perhitungan, tapi saya tidak tahu waktu itu apa saya ini memang benar-benar pelit ataukah hanya meniru saja. Hehehe. Naudzu billahi min dzalik.

Setiap kali dapat undangan secara sepontanitas yang ada dalam pikiran saya adalah “manfaat apa yang akan saya dapat?”
Setelah saya berkorban waktu karena meninggalkan waktu kumpul bersama keluarga, korban uang karena harus naik angkutan umum, tidak ada alokasi dana khusus (uang saku) di hari libur, dan korban perasaan karena setiap kali hadir mesti harus menunggu lama (jam karet/molor) seperti pada umumnya.

Waktu itu saya punya prinsip “lebih baik menunggu daripada ditunggu” itu dulu mudah-mudahan sekarang bisa menjadi lebih baik lagi dan terus diupayakan.

Lain dulu lain sekarang, pola pikir selalu berkembang sesuai dengan pengelaman masing-masing orang, sesuai dengan apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia baca, apa yang dia tulis, apa yang dia lakukan dan apa yang dia rasakan. Itu semua bagian dari rutinitas kehidupan setiap orang yang mempengaruhi terhadap pola pikirnya.

Karena itulah kamipun merasa harus ada peningkatan pola pikir dari sisi sosial kemasyarakatan kalau dulu kami berpikir dan bertanya pada diri sendiri “manfaat apa yang akan di dapat?” menurut kami itu hanya memikirkan diri sendiri. Sepertinya itu sudah berubah sekarang ini cenderung bertanya pada diri sendiri “Apa perananmu?” Mudah-mudahan bermanfaat.

Kang Teten
Ustadz S-PEAM dan SMAMU Kota Pasuruan

KA Probowangi, 13 Januari 2018

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here