Muhasabah Hidup #13: Hidup Mulia

0
167

Saadih Sidik (*)

KLIKMU.CO

Bukan karena harta yang banyak jika hidup kita jadi mulia. Kita tidak pernah mulia karena harta. Kaya bukan ukuran kemuliaan. Kaya atau miskin sudah ketetapan. Ia tak lebih dari ujian. Mulia atau hina sangat bergantung bagaimana cara kita menjalani ujian Tuhan.

Bukan pula karena jabatan dan pangkat jika kita menjadi mulia. Kita tidak pernah mulia karena pangkat.

Bukan karena banyaknya manusia melihat dengan rasa hormat. Tapi kejarlah pandangan Allah yang melihat dengan pandangan rahmat. Karena hanya itu saja menjadi bekal kita di akhirat.

Bukan pula karena keturunan jika hidup kita jadi mulia. Kita tidak pernah mulia karena keturunan. Karena Allah hanya melihat hati yang beriman. Sekepal hati yang terbuka dengan ketakwaan. Bukan hati yang diisi dengan kesombongan.

Umar bin Al-Khattab pernah berkata:

“Kita dahulunya adalah kaum yang hina, Allah SWT memuliakan kita dengan Islam, seandainya kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah SWT muliakan kita dengannya, maka kita akan dihina Allah SWT.”
(HR. Al-Hakim)

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.s. Al-Hujurat: 13)

Salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa dalam al-Quran adalah “yuqiimuun ash sholah”. (mendirikan sholat) sebagaimana dalam ayat berikut ini.

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
(Q.s. Al-Baqarah: 2-3)

Sesungguhnya kita bisa mulia hanya karena ‘Islam, iman, taqwa dan senantiasa mendirikan shalat’.

(*) Penulis adalah Pengawas Madya Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kota Malang dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here