Muhasabah Hidup #20: Kemuliaan Hidup

0
439
Foto diambil dari atmago.com

Oleh: Saadih Sidik (*)

KLIKMU.CO

Kita tidak pernah mulia karena harta. Kaya bukan ukuran kemuliaan. Kaya atau miskin sudah ketetapan. Semuanya tak lebih dari ujian. Mulia atau hina sangat bergantung bagaimana cara kita menjalani ujian Tuhan.

Kita tidak pernah mulia karena pangkat atau jabatan. Bukan karena banyaknya manusia yang melihat kita dengan rasa hormat. Tapi, kejarlah pandangan Allah yang melihat dengan pandangan rahmat. Sebab, hanya itu yang akan menjadi bekal kita di akhirat.

Kita juga tidak akan pernah mulia karena keturunan. Sebab, Allah hanya melihat hati yang beriman. Sebuah hati yang terbuka dengan ketakwaan. Bukan hati yang diisi dengan kesombongan.

Umar bin Al-Khattab pernah berkata, “Kita dahulunya adalah kaum yang hina. Allah SWT memuliakan kita dengan Islam. Seandainya kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah SWT muliakan kita dengannya, kita akan dihina Allah SWT”.
(HR Al-Hakim)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.s. Al-Hujurat: 13)

Salah satu ciri orang-orang yang bertakwa dalam Al-Qur’an adalah yuqiimuun ash-sholah (mendirikan shalat) sebagaimana dalam ayat berikut ini: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
(Q.s. Al-Baqarah: 2-3)

Sesungguhnya kita hanya mulia karena “Islam dan mendirikan shalat”.

Bukanlah kaki yang lemah itu yang
mengantar kita ke masjid. Tetapi hati. Dan bukanlah dosa itu yang mengantar kita ke neraka. Tetapi kesombongan.

Wallahua’lam bis-shawab

(*) Penulis adalah Pengawas Madya Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kota Malang dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here