Muhasabah Hidup #21: Menggapai Kebahagiaan

0
362
Ilustrasi republika.co.id

Oleh: Saadih Sidik (*)

KLIKMU.CO

Bahagia belum tentu tersimpan di istana yang megah. Bahagia yang dirasakan oleh sepasang kekasih tentu juga ada pasang surutnya. Di manakah letaknya bahagia itu?

Pada keluasan ilmu, rezeki, dan pangkat atau duduk bercengkerama dengan istri dan anak?

Ternyata itu semua bisa juga menggoncang perasaan, memerah otak jadi lemah, badan kering dan layu –sakit di hati yang susah mengobatinya.

Pakar motivasi mengatakan: “Kita adalah apa yang kita pikirkan mengenai diri kita.”

Rasulullah SAW memberi motivasi lebih bernas, sabda Baginda yang artinya: “Sungguh hebat keadaan orang mukmin. Mereka senantiasa berkeadaan baik. Tidak terjadi yang demikian itu kecuali pada diri orang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, hal ini adalah kebaikan. Dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, itu juga kebaikan.” (HR. Imam Muslim)

Semuanya baik, baik, dan baik. Apa pun yang Allah pilihkan untuk kita adalah baik. Apabila sakit obatnya adalah senyum dan rida.

Diuji dengan kekurangan harta, tidak menjadi masalah bagi orang yang percaya bahwa bukankah selama ini Allah memberi lebih banyak daripada mengambil.

Ibnu Mas’ud ketika ditanya: “Apakah engkau bersedih karena kehilangan sebelah kakimu?”

Beliau menjawab: “Bukankah Allah meninggalkan untukku yang sebelah lagi?” Apakah bahagia itu tercapai bila hati puas?

Orang banyak mengatakan bahagia itu adalah kepuasan hati. Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa manusia tidak akan pernah puas?

Selama dia berada di dunia, pasti berhadapan dengan kekurangan. Kurang populer, kaya, cantik, sehat, dan berbagai tuntutan nafsunya yang tidak akan pernah dipenuhi dengan sempurna.

Selami dasar hati, percayalah bahwa sesungguhnya bahagia itu ada pada sifat rida. Ia bagaikan obat yang menyejukkan orang yang demam. Seperti rimbunan pohon di tengah panas yang terik, umpama embusan angin sepoi-sepoi bisa menyentuh hati yang luka.

Sesungguhnya apa yang datang kepada kita adalah baik semuanya karena Allah lebih mengetahui apa yang ’sesuai’ untuk kita. Dia yang memilih, Yang Maha Sempurna aturan-Nya, yang suci dari cacat cela atas segala pentadbiran-Nya.

Sebagai manusia biasa ada kalanya kita ‘tidak terima’ dengan apa yang terjadi pada diri. Tetapi biarlah perasaan itu dikawal pada paras, hanya ‘terkejut’ di puncaknya, kemudian surut dengan perasaan rida atas ketentuan-Nya.

Firman Allah: “Allah pun rida ke atas diri mereka dan mereka pun rida dengan pemberian-Nya.”
(Q.s. Al-Bayyinah: 8)

(*) Penulis adalah Pengawas Madya Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kota Malang dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here