Muhasabah Hidup #6: Memaafkan dan Ketenangan Jiwa

0
500
Apahabar.com

Oleh: Saadih Sidik

KLIKMU.CO

Sungguh, bukanlah suatu hal yang mudah ketika akan memberi maaf kepada orang yang telah menzalimi kita. Lebih-lebih lagi kalau hati kita masih terluka, rasa di hati masih hancur seperti semangka yang terempas ke batu.

Ataupun hati kita masih sakit, merasa dikhianati. Rasa marah yang sangat masih tersimpan utuh. Atau rasa teraniaya oleh perilaku seseorang yang zalim kepada kita.

Memaafakan memang mudah untuk diucapkan, namun dalam hati tak ada siapa pun yang tahu. Bak kata pepatah, “Luka mungkin sembuh, tapi bekasnya akan senantiasa ada”.

Malah mungkin kita bisa memafkan, tapi tak mungkin dapat melupakan. Itu perasaan normal. Tapi, apakah tidak terpikir oleh kita akan sesuatu hal?

Kalau kita memaafkan orang, yang sebenarnya kita telah membantu diri sendiri untuk mendapat ketenangan dan kebahagiaan.

Selagi kita tidak memberi maaf seseorang, selama itu juga kita akan selalu teringat apa yang dia pernah buat kepada kita. Tiap kali teringat, akan datang berbagai macam perasaan. Marah, geram, sedih, sakit hati, kecewa, benci. Malah mungkin juga dendam?

Apabila kita memilih untuk memafkan, itu berarti kita memilih untuk tenang dan menyimpan rasa bahagia. Kita menjadi sudah tak akan mengingat apa masalah yang dia pernah buat kepada kita. Past is past.

Percayalah, memberi maaf adalah kunci kepada ketenangan jiwa. Memaafkan mereka yang pernah berbuat salah kepada kita. Doakan yang baik-baik untuk mereka. Pasti kita akan memperoleh ketenangan jiwa.

(*) Penulis adalah Pengawas Madya Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kota Malang dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here