Muhasabah Pandemi #2: Fiqih Baru, Shalat Mengikuti Madzhab WHO

0
208
Foto Kyai Mahsun Djayadi diambil dari dokumen panitia Baitul Arqom 2021

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Belakangan ini WHO (World Health Organization) sebuah lembaga atau badan kesehatan dunia menjadi tersangka dalam kasus menjaga jarak dalam shof shalat berjamaah.

Belum cukup polemic antara sains vs agama soal pandemic covid-19. Muncul lagi di medsos soal jaga jarak dalam shof shalat. Pihak yang pro sains menganggap bahwa dalam kondisi pandemic, shof jamaah dalam sholat juga harus berjarak karena kita tidak tahu apakah orang yang bersebelahan dengan kita membawa virus covid-19 atau tidak, begitu juga diri kita sendiri apakah benar-benar tidak terpapar virus covid-19 atau sebaliknya?

Singkat kata di era pandemi Covid-19 saat ini adalah disiplin menjalankan protokol kesehatan melalui 3M sebagai upaya pencegahan penyebaran virus. Pilihan paling mujarab disiplin memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.
Untuk aktifitas di kantor, instansi atau sekolah, diterapkan sistem masuk kerja yang bergiliran antara Work From Home (WFH) dan Work From Office (WFO). Sehingga dengan demikian perusahaan atau Lembaga institusi bisa memangkas kehadiran pekerja dari 100% menjadi 50%. Inilah aturan yang sudah ditetapkan oleh Lembaga Kesehatan dunia WHO (World Health Organization).

Lagi-lagi kelompok pro “madzhab agama” menolak apa yang dituntunkan oleh “pihak madzhab WHO”. Sembari mengejek sedemikian rupa kepada mereka yang ketika akan shalat shof-nya harus dilakukan berjarak. Mereka menganggap bahwa shof berjarak bertentangan dengan ajaran agama. Selain meluruskan shaf, kita juga diperintahkan untuk merapatkan shaf, sehingga tidak ada celak-celah di antara orang yang shalat.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
اقيمو صفوفكم وتراصوا, فانيِّ اراكم من وراء ظهري
luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku” (HR. Al Bukhari no.719).

Al-Jam’u Bainahuma :
Penggunaan diksi “Madzhab WHO” sesungguhnya bukan hanya kesalahan fatal, tetapi juga menyakiti hati para pengamalnya yang tidak lain adalah kaum muslimin sendiri.

Al-Jam’u Bainahuma, maksudnya upaya mencari jalan tengah dengan cara mengompromikan di antara keduanya. Cara ini biasanya dilakukan oleh para fuqaha Ketika menghadapi dalil-dalil yang Ta’arudl (bertentangan).

Sikap para fuqaha sangat bijaksana, bahwa jika menemukan dalil-dalil yang sama-sama shahih tetapi isinya bertentangan, mereka mencoba memahami bahwa sejatinya bukan bertentangan melainkan “sepintas seakan-akan bertentangan”. karena terbatasnya ilmu untuk memahaminya, maka upayanya adalah mencoba mempertemukankan keduanya.

Momentum di bulan suci Ramadhan semestinya kita gunakan untuk melatih menahan diri dari berbagai sifat emosional, apa lagi menyinggung dan menyakiti sesama muslim. Dalam kasus jaga jarak ini, kita tentu memahami bahwa kaidah atau bahkan dalil merapatkan shof dilakukan dalam kondisi normal. Maka semestinya tidak menerapkan dalil-dalil dalam kondisi normal tersebut diberlakukan dalam kondisi yang tidak normal. Berapa banyak kasus peribadatan normal beralih menjadi tidak normal? Kondisi itu sering disebut “Dharurat” yang sifatnya tidak permanen atau terus menerus melainkan sementara sampai hilangnya “illat” hukum ketidak normalan tersebut.

Contoh, Shalat sambil duduk adalah solusi Ketika tidak kuat berdiri. seorang musafir boleh berbuka puasa karena dikhawatirkan ada “masyaqqoh” dalam perjalanannya. Shalat khauf adalah bentuk salat “tidak normal” Ketika terjadi kondisi yang memang tidak normal.

Jika kita mau bersikap arif bijaksana, tentu akan dengan segera mengakhiri sikap saling mengejek, saling menyalahkan, merasa benar sendiri, menganggap ada shalat mengikuti “Madzhab WHO”. Sungguh penggunaan diksi yang tidak beretika.

Pembatasan jarak merupakan langkah preventif untuk pengamanan, esensi dari himbauan ini semestinya disadari oleh masing-masing kita dengan tetap bersabar demi kepentingan umum (المصلحة العامة). Oleh Ulama Ushul al Fiqh menggunakan kaidah :
درء المفاسد مقدم علي جلب المصالح (Menolak sesuatu yang mendatangkan kerusakan didahulukan atas sesuatu yang mendatangkan manfa’at).
Penekanan pada kalimat awal (dar’ul mafasid) melahirkan asumsi tentang langkah preventif lebih dominan. Jika di satu sisi ijtima’ jama’ah dianggap bermanfaat maka pada sisi lain terdapat mudharat yang sangat berbahaya karena terkait dengan persoalan hidup. Al syatibi dalam al maqashid al syari’ah (tujuan penetapan syari’ah) menyebutnya, pemeliharaan atas jiwa (المحافظة علي النفس).
Wallohu a’lamu bis-Shawab.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

Berita sebelumyaCermin Diri #194: Mewaspadai Akun Palsu Bupati
Berita berikutnyaNgaji Dino Iki #898: Berburu Hidayah
Ferry Yudi AS. Asli arek Suroboyo, gemar berpetualang dan mencari hal hal yang baru dan penuh tantangan. Pria yang suka makan sate dan gule ini selain menjadi Wapemred KLIKMU CO- juga sebagai Ketua Majelis pelayanan sosial Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Ketua Ranting Muhammadiyah Jajartunggal, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, Direktur KLIK JODOH MU dan juga Founder sekaligus Owner dari MUST B TRAINING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here