Muhasabah Pandemi, Sains vs Agama ( -1)

0
129
Foto Ilustrasi diambil dari SehatQ

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Muhasabah ini dilakukan dengan tujuan sebagai upaya melakukan evaluasi ulang atas segala perilaku kita selama ini, khususnya terkait dengan sikap menghadapi musibah covid-19. evaluasi ini semakin tepat sasaran karena momentumnya di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Relasi sosial kemasyarakatan dan ritual keagamaan (baca: Islam) telah sedemikian rupa mengalami realitas baru, buntut dari pandemic covid-19 sejak pertengahan bulan maret 2020 ketika pandemi itu mewabah di Indonesia.

Dalam batas-batas tertentu dampak wabah ini telah menggoyahkan sendi-sendi persaudaraan, terutama antara yang “pro sains” dengan yang “pro agama”. Pihak “pro sains” kususnya pemerintah telah berupaya menanggulangi pandemic covid-19 ini dengan sejumlah kebijakan antara lain Lock down, physical distancing, social distancing, sampai “Mudik” untuk lebaran idul fithri pun dilarang.

Pihak yang “pro agama” tak kalah sengitnya menentang habis-habisan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka berdalih bahwa covid-19 itu bohong. Covid-19 itu upaya orang kafir untuk menghancurkan islam. Masak ke toko swalayan bebas, giliran ke masjid dilarang. Ini adalah rekayasa menjauhkan umat islam dari masjid. Manusia lebih percaya pada syetan daripada kepada Allah. walhasil masyarakat pun bingung, Benarkah mempercayai adanya pandemic covid-19 telah masuk kategori syirik? Konflik-pun terjadi di mana-mana.

Tidak terlalu salah ketika seorang ilmuan politik Samuel P. Huntington dalam teorinya “The Clash of Civilizations” bahwa budaya dan agama identitas, akan menjadi sumber utama konflik masyarakat baik local maupun global. Tentu teori tersebut tidak sama dan sebangun dengan kasus pandemic ini. Dalam entitas yang spesifik wabah pandemic covid-19 di Indonesia telah sedemikian rupa menimbulkan pro-kontra dalam berbagai sudut pandangnya masing-masing.

Masih ada Jalan lain :
Bulan Ramadhan tahun ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan kontemplasi (muhasabah) terhadap perjalanan hidup kita selama ini. Sudah 1 tahun 2 bulan kita hidup dalam suasana pandemic, tentu suasana kemasyarakatan dan keagamaan di lingkungan kita tidak sama dengan suasana sebelum pandemic.

Hal ini seharusnya semakin melunakkan hati dan qalbu kita, keluar dari kesombongan, ke takabburan, merasa benar sendiri, terutama Ketika menyikapi pandemic ini.

Kompromi antara sains dengan agama sejatinya bisa ditempuh. Orang tidak perlu konflik berkepanjangan. Kebersamaan dan persaudaraan masih terbuka untuk dirajut. Bukankah kita tidak tahu persis yang sejatinya benar itu yang mana? Yang pro sains atau yang pro agama? Jangan-jangan pihak yang anda hujat justeru yang lebih baik dan benar, sedangkan bisa jadi pihak yang anda dukung justeru yang salah. Rasanya memadukan keduanya akan lebih bermanfaat.

Allah mengingatkan kita dalam QS al-Baqarah ayat 216 :
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Sebagai hamba Allah yang beriman, wajib taat kepada Allah dan Rasulnya, menjalankan ibadah sesuai ketentuan yang telah ditetapkannya. Inilah sisi agama yang kita pegang teguh. Sedangkan sebagai manusia yang diberi akal sehat wajib berikhtiar mencari solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan. Upaya mencegah penularan wabah covid-19 adalah bagian dari usaha yang diperintahkan Allah :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS al-Baqarah : 195).

Mengikuti apa yang diupayakan oleh para ahli Kesehatan patut kita ikuti. Inilah sisi sains yang kita ikuti. Jadi sejatinya antara sains dengan agama itu tidak bertentangan melainkan saling menguatkan. Covid-19 memang nyata adanya, dampaknya juga nyata. Percaya akan adanya wabah covid-19 semakin mengokohkan iman, semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, bukan menjadi syirik.
Amin ya robbal alamin

 

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here