MUI Bersama Para Mufti Dunia Hadiri Konferensi Fatwa Internasional di Mesir

0
243
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftachul Akhyar saat memberikan pemaparan di hadapan para mufti dunia. (mui.or.id)

KLIKMU.CO – Konferensi Fatwa Internasional Ke-6 yang digelar Dâr Al Iftâ’ Mesir berlangsung di Kairo awal pekan ini. Pertemuan itu menjadi ajang para mufti dunia untuk membahas berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dunia.

Sebagaimana disampaikan di laman MUI, konferensi kali ini dihadiri mufti dan delegasi lembaga fatwa dari 85 negara. Bisa jadi, acara ini adalah konferensi ulama terbesar yang digelar selama pandemi Covid-19.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftachul Akhyar mendapatkan kesempatan menjadi salah satu pembicara. Ketum MUI diminta mengawali sesi panel yang dipandu Menteri Agama Pakistan Noor-ul-Haq Qadri, Selasa pagi (3/8) waktu Kairo.

Selain Kiai Miftach, sesi panel tersebut diisi Sekretaris Jenderal Darul Fatwa Australia Syekh Salim Ulwan Al-Husayni, Sekretaris Jenderal Urusan Islam Republik Ghana Syeikh Ali Jamal Banghûro, Menteri Wakaf Yaman Syekh Mohamed Ahmed Shabiba, Mufti Republik Kosovo Syekh Nuaim Trenova, Mufti Rwanda Syekh Salim Hatimana, Mufti Macedonia Syekh Syakir Fatahu, dan Mufti Estonia Syekh Ildar Hazrat Muhammedshin.

Kiai Miftach mengingatkan para mufti dunia terhadap tanggung jawab mereka sebagai ulama. “Semua manusia dalam keadaan mabuk, kecuali para ulama. Dan para ulama pun dalam keadaan bingung, kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya,” ujar Kiai Miftach mengawali paparannya di hadapan para mufti dunia.

Kiai Miftach menyampaikan tiga tanggung jawab yang layaknya dimiliki seorang ulama. Pertama, tanggung jawab kepada diri sendiri. Kedua, tanggung jawab kepada umat dan bangsa. Terakhir, tanggung jawab kepada Allah SWT.

“Kita perlu menghidupkan kembali mas’uliyah (rasa tanggung jawab) para ulama yang semakin menipis terhadap ketiga hal tersebut,” ujar Rais Aam PBNU ini.

Mengutip Sahabat Ibnu Mas’ud, dia mengingatkan, seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu mereka dan meletakkannya kepada ahlinya, mereka akan dapat memimpin dan memandu penduduk zaman itu. Namun, mereka menyerahkan ilmu itu kepada para pemilik dunia agar mereka dapat bagian dunia itu dari mereka. Maka, mereka telah menghinakan ahli ilmu.

Dia juga menjelaskan peran MUI dalam proses pemberian fatwa kepada umat Islam Indonesia. Mulai fatwa atas kehalalan suatu produk, problem aktual, hingga fatwa seputar pandemi Covid-19. Juga tantangan lembaga fatwa di era digital.

Sementara itu, pada sesi yang sama, mayoritas pembicara menyoroti ancaman terorisme dan ekstremisme yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Terutama tersebarnya berbagai pendapat keagamaan yang bersifat ekstrem di jagat internet.

Sekretaris Jenderal Darul Fatwa Australia Syekh Salim Ulwan Al-Husayni, misalnya, mendorong para ulama dan mufti di seluruh dunia untuk memanfaatkan internet dan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan pemahaman Islam moderat.

“Jika para ulama tidak memanfaatkan internet untuk penyampaian fatwa dan ajaran Islam yang moderat kepada umat, pasti akan kalah cepat dibandingkan gerakan ekstremisme dan terorisme yang berkembang di tengah-tengah masyakarat,” tegasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here