Mujahid dan 72 Bidadari yang Menyambut di Surga

0
271
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Tentang bolehnya mengurbankan diri (bunuh diri) di jalan jihad ada dalam surah Al Baqarah 207: “Dan di antara manusia ada orang yang ‘mengorbankan dirinya’
karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Ayat ini yang dibaca Ibnul Muljam saat ia menikam Sayidina Ali ra. Hukum itu milik Allah, katanya kemudian. Tiga khalifah tewas di tangan radikalis.

***

Posisi para jihadis juga sangat mengesani dengan kemulian tiada tara, sebab itu ia menjadi impian dan harapan yang mengaku beriman.

Albaqarah 154: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, karena (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi engkau tidak menyadarinya.”

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”

Rasulullah saw bersabda: ”Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari azab kubur, aman dari huru-hara akbar, diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terbuat dari batu yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan 72 bidadari, serta diberi syafaat sebanyak 70 orang dari kerabatnya.”

***

Ini janji paling populer di kalangan jihadis. Jadi jangan penah menafikan, apalagi menghilangkan frase “hidup mulia atau mati syahid” radikalisme itu realitas dan faktual ada. Dengan janji macam itu siapa tak ingin mati syahid?

Bagi para jihadis, negeri makmur, adil, dan sejahtera bukan tujuan bahkan akan menutup pintu bagi para jihadis untuk menemui syahid. Yang mereka inginkan adalah suasana chaos, kacau, suasana perang sehingga jalan menuju surga lebar terbuka, tutur Ali Imran mantan teroris bom Bali. Jadi semakmur apa pun negeri tak bakal surut niat. Mengafirkan dan menyesatkan menjadi jalan penghalalan untuk membunuh sebagaimana dilakukan Ibnu Muljam atas Sayidina Ali ra.

Bagi para jihadis, rezim yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah rezim kafir, tidak boleh taat, apalagi bersekutu dalam semua hal.

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (Al-Maidah: 44).”

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50).

Para jihadis juga mengembangkan perspektif tentang kafir sebagai hujjah dan pembenaran untuk penghalalan darah dan jiwa.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.“ (QS. al-Maidah: 73)

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Alfurqan: 44)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Alanfal: 55)

Tak terbayang jika agama di tangan si rendah budi dan dipahami dengan nalar cekak. Sebab itu, Muhammadiyah dan NU menawar jalan tengah: moderasi. Meski banyak dilawan karena tidak dipahami. Meniadakan sikap radikal dalam beragama pasti menyesatkan dan tidak menyelesaikan masalah.

***

Tiga khalifah, Sayidina Umar, Sayidina Ustman, dan Sayidina Ali, terbunuh di tangan para ekstremis. Abu Lu’luah seorang budak dari Parsi mendendam karena negara yang dicintai luluh lantak, pasukan Umar Ibnul Khattab merubuhkan Kisra. Abu Lu’Lu’ah Fairuz menyesal ia tak bisa membela Kisra dan tanah airnya. Ia menikam khalifah Umar sesaat pada rakaat pertamanya belum juga selesai.

Para pemberontak yang dipimpin Muhammad bin Abu Bakar berhasil mengepung khalifah Ustman yang dituduh lembek dan nepotis. Banyak kebijakan khalifah Ustman dilawan karena banyak menguntungkan pihak keluarga, ditambah kesenangan khalifah hidup mewah. Khalifah Ustman pun dibunuh saat menderas Al-Quran kemudian tewas di tangan para ekstremis.

Siapa tak kenal Abdurahman ibn Muljam Al Maqri—saleh dan hafidz. ‘Alhukmu ilallah’ inilah jargon terkenal di kalangan ekstremis saat itu. Sayidina Ali ra dianggap kafir karena berhukum pada selain Allah, lantas dihalalkan darah dan jiwanya. Ibnu Muljam tak hentinya membaca surah al Baqarah 207, ketika pisau belatinya membenam di tubuh khalifah. Ali pun rubuh dan tewas saat usai memimpin shalat Subuh di pagi buta di bulan Ramadan.

Tapi bagaimana jika para jihadis salah terjamah? Ledek orang barat atas tafsir yang dipahami para jihadis. Borris Johnson salah satunya. Perdana menteri Inggris ini pernah menulis novel tentang kawin 72 bidadari surga yang tertulis dalam berbagai kitab suci.

Novel ini pernah sangat populer: 72 Virgins a Comedy of Error—janji 72 bidadari bagi martir agama, ini kisah tentang surga menjadi lucu-lucuan karena dipahami dengan nalar cekak. Kartun dibuat oleh orbit, bahwa sang teroris sudah sampai di akhirat dan dijemput 72 bidadari buruk rupa, sang teroris lari tunggang langgang ketika dipaksa melayani.

Ada yang menyebut hadist itu daif dan diragukan sahihnya, tapi sebagian sudah kadung percaya dan menjadikan doktrin jalan pendek menuju surga. Salah tafsir memang bisa sangat menjerumuskan. Tapi ini soal harapan dan mimpi hidup enak di tengah sulit. Wallahu a’lam.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here