Mutiara Pendidikan #8: Filosofi Memakai Barang Rusak: Mengenali Gaya Kepemimpinan

0
245
Foto kreatif olah barang rusak jadi bernilai diambil dari yukepo.com

KLIKMU.CO

Oleh: Gus Imsap*

Setiap aktivitas kehidupan kita, pasti ada barang yang rusak. Namun, banyak ragam atau penanganan dari setiap barang rusak yang ada. Barang rusak, ada yang dibuang, diperbaiki dan tetap dipakai, ada yang diolah atau dimodifikasi, bahkan ada yang dirombeng atau mungkin dibiarkan saja. Masing-masing orang pasti akan mensikapi dengan berbeda kondisi barang rusak yang ada. Pensikapan kita terhadap barang yang rusak, ternyata mengandung filosofi karakter atau gaya kepemimpinan seseorang.

Rusak, dibuang.
Barang rusak langsung dibuang. Langkah tersebut dapat dilakukan, jika memang barang tersebut sudah rusak parah dan tidak bisa diperbaiki. Bila masih bisa diperbaiki, namun tetap saja dibuang hal Ini bagian dari pemborosan. Disamoing itu juga, pemilik tidak mau mengambil resiko atau bersusah payah untuk memperbaikinya. Bila type seperti ini menjadi seorang pemimpin maka yang terjadi, bila ada karyawan yang indispliner atau mbalelo (jawa-red) maka ia akan bersegera untuk mengeluarkannya tanpa ada pembinaan atau teguran dari sang pimpinan. Prinsip pemimpin seperti ini adalah dia tidak mau tahu dan bahkan mengatakan “barang rusak kok dipakai”.

Rusak, diolah dan dimodifikasi
Barang rusak ada yang diolah oleh pemiliknya dan dimodifikasi dalam bentuk lain dengan kemanfaatan yang berbeda. Sehingga barang tersebut masih bisa dimanfaatkan. Orang seperti ini bila diibaratkan seorang pemimpin, maka bila ia menjumpai seorang karyawan yang indispliner atau mbalelo (jawa-red) maka ia akan melakukan pembinaan sekaligus pendampingan. Hasil dari pembinaan dan pendampingan tersebut akan menghasilkan modifikasi-modifikasi tertentu sehingga memungkinkan karyawan tersebut masih bisa untuk bekerja dan berkarya. Model kepemimpinan seperti ini adalah pemimpin yang sangat kreatif, inovatif, bijaksana dan problem solver.

Rusak, diperbaiki dan tetap dipakai
Hal ini menunjukkan kepedulian dan kecintaan pemilik barang terhadap barang tersebut. Barang yang rusak tidak ia buang namun tetap dirawat dan diperbaiki hingga kembali normal seperti semula. Ibarat seorang pemimpin, ia akan tetap memperbaiki, membina, mendampingi, mengawasi dan mengupgrade kemampuan atau kinerja karyawan yang mungkin sudah melemah. Meskipun karyawan tersebut sudah mulai udzur dalam sisi usia, pemimpin pastinya akan memberikan posisi yang sesuai dengan kapabilitas karyawan tersebut, hingga karyawan tersebut benar-benar sudah tidak mampu untuk dikondisikan. Hal ini dilakukan karena kepedulian dan rasa cinta terhadap karyawannya.

Barang rusak, dibiarkan saja.
Ada juga barang rusak, namun dibiarkan saja dan bahkan kalau tiba saatnya ia akan dirombeng atau dilelang oleh pemiliknya.
Ibarat model kepemimpinan, model seperti ini adalah seorang pemimpin yang kurang peduli, kurang rapi dan tertata, kurang responsif, tidak mau ambil resiko dan ingin jalan pintas saja. Seorang pemimpin seperti ini, apabila ia menjumpai seorang karyawan yang sudah tidak produktif lagi atau karyawan yang indispliner, ia melakukan pembiaran saja dan tanpa pembinaan apapun. Kejadian seperti ini sangat merugikan dan bahkan akan terjadi pembusukan sehingga pemimpin tersebut di akhir batas ambang ia melakukan pemecatan dan merekrut orang baru.

Model pemimpin seperti manakah anda?

*Kepala SMP Muhammadiyah 9 Surabaya dan Inisiator Sekolah Akhlaq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here