Myanmar Status Darurat Militer, Bagaimana Nasib Rohingya?

0
134
Militer Myanmar. (AFP/STR)

KLIKMU.CO – Beberapa aktivis prodemokrasi Myanmar digerebek dan ditangkap militer pada Senin dini hari (1/2/2021). Mereka adalah Penasihat Presiden Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan tokoh senior National League for Democracy (NLD) lainnya.

Kudeta militer ini pun membuat negara yang dulu bernama Burma itu kembali ke hegemoni militer. Sebelumnya, selama 50 tahun Myanmar didominasi kekuatan militer.

Kudeta militer itu buntut dari Pemilu 2015 yang dimenangi oleh Aung San Suu Kyi dan NLD, bahkan menang telak. Militer menuding terjadi kecurangan yang mencapai 10 juta suara. Kudeta pun tak dapat dibendung.

Aung San Suu Kyi, tokoh prodemokrasi Myanmar itu, pun meminta penduduk melawan karena tindakan militer akan membawa negaranya kembali dalam sistem diktator. ’’Tolak kudeta militer,” tulis tokoh yang pernah menerima Nobel Perdamaian itu dalam suratnya yang diunggah di akun Facebook dikutip dari Jawa Pos, Selasa (2/2/2021).

Aung San Suu Kyi sebelumnya memang kerap kali menjadi tahanan rumah militer karena dianggap sebagai tokoh pergerakan. Pada  1995 dan 2000 ia menjadi tahanan rumah oleh militer.

Sementara itu, negara kini dikuasai Jenderal Militer Min Aung Hlaing. ’’Karena situasi saat ini harus diselesaikan menurut aturan perundang-undangan, status darurat diberlakukan,’’ bunyi pernyataan militer yang disiarkan lewat saluran televisi Senin dini hari (1/2).

Status darurat berlaku selama 12 bulan ke depan. Jenderal Purnawirawan Myint Swe bakal menjadi presiden sementara. Pemilu digelar setelah status darurat selesai. Begitu menurut pihak militer yang kini mengambil alih negara.

Kudeta itu dikecam sejumlah negara. Salah satunya Negeri Paman sam. Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa Amerika Serikat menentang segala upaya untuk mengubah hasil pemilu maupun usaha menghalangi transisi demokrasi di Myanmar.

’’Kami akan bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab jika langkah-langkah (kudeta, Red) ini tidak dibatalkan,’’ tegas Psaki dikutip dari Jawa Pos.

Lantas, bagaimana nasib Rohingya? Kudeta tersebut tetap membuat nasib etnis Rohingya tidak jelas. Diperkirakan, lebih dari sejuta etnis Rohingya sudah meninggalkan Myanmar.

Jenderal Min Aung Hlaing dituding sebagai otak genosida Rohingya tersebut. Sementara itu, Suu Kyi juga dikecam lantaran sama sekali tidak bersimpati kepada kaum muslim Rohingya.

Berita penangkapan Suu Kyi langsung menyebar cepat di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh, negara tetangga Myanmar, yang ditempati sekitar 1 juta etnis muslim umat tersebut.

“Dia alasan di balik semua penderitaan kami. Kenapa kami tidak merayakannya?” kata Farid Ullah, pemimpin komunitas itu, kepada AFP, dari Kutupalong yang merupakan permukiman pengungsi terbesar di dunia.

Kemudian Mohammad Yusuf, pemimpin di Balukhali, kamp sebelahnya, mengatakan bahwa Suu Kyi harapan terakhir kami, tetapi dia mengabaikan penderitaan kami dan mendukung genosida terhadap Rohingya yang dulu dilakukan militer.

Beberapa orang Rohingya memanjatkan doa khusus untuk menyambut keadilan. “Jika otoritas kamp mengizinkannya, Anda akan melihat ribuan Rohingya keluar dalam pawai perayaan,” tutur Mirza Ghalib, pengungsi di kamp Nayapara. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here