Nabi Muhammad: Manusia Agung atau Manusia Biasa?

0
200
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Para ulama ber-ihktilaf terhadap Rasululah saw bukan menyoal tentang kebenaran dan keimanan terhadap junjungannya itu, tapi lebih pada persepsi yang hendak dikonstruksi sesuai latar belakang keilmuan yang digelutinya, yang kemudian diikuti umat dengan pemahaman yang berbeda-beda sesuai kadar kemampuannya.

Para ulama ahli kalam, ahli hadits dan ahli fiqh, ahli sastra dan ahli tasawuf memiliki perbedaan dalam mengungkap pikiran dan rasanya terhadap Rasulullah SAW. Bahkan ada kesan saling menafikan terhadap pandangan selain dirinya.

Pandangan bahwa Rasulullah saw adalah manusia biasa dengan latar belakang historis empiristik seperti yang dipahami ahli kalam dan ahli fiqh tak harus mengalahkan rasa keagungan dan imajinatif sebagaimana dibangun para ulama ahli sastra dan ahli tasawuf.

Sudah seharusnya, kedua pandangan ini bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, tidak merasa paling benar sendiri sembari melemahkan karena beda keilmuan. Pandangan imajinatif tidak harus menabrak hujah yang sharih, sebaliknya pandangan historis tidak kehilangan daya imajinatifnya.

Prof Muhasin memberikan catatan menarik: dalam pandangan Al-Quran terdapat beberapa ayat yang bisa dijadikan hujah tentang kehidupan beliau saw sebagai manusia historis yang otentik. Misalnya, ayat yang memerintah beliau untuk menyatakan bahwa dirinya adalah manusia seperti manusia pada umumnya (18/al-Kahf: 110 dan 41/Fuṣṣilat: 6); bahwa beliau mungkin akan bunuh diri karena orang tidak mau percaya kepadanya (18/al-Kahf: 6 dan 26/al-Syu‘arā’: 3); bahwa beliau terlibat percekcokan sengit dengan beberapa isterinya (66/al-Taḥrīm: 1-5).

Dan bahwa beliau saw lebih mementingkan para pemuka masyarakat sehingga melalaikan orang yang papa (80/’Abasa: 1-10). Juga ketika beliau saw dan para sahabat terkepung musuh sehingga hati berharap-harap cemas karena pertolongan Allah tidak segera datang (2/al-Baqarah: 214). Atau perintah agar menikahi bekas isteri anak angkatnya ( Ahzhab 37-38).

Dengan tidak mengurangi keagungan, kemuliaan, dan keterpujiannya, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia historis yang mesti berjuang dengan kekuatan yang ada dalam dirinya untuk mencapai kemenangan risalah yang diembannya, bukan manusia super dengan mukjizat yang mencapai tujuannya dengan kekuatan di atas kekuatan manusia dengan cara mudah.

Di sisi lain terdapat gambaran yang melihat Nabi Muhammad saw sebagai manusia yang penuh dengan kemukjizatan. Pandangan imajinatif yang mengedepankan rasa keta’dziman dan kecintaan yang dieksplor dalam berbagai bentuk frase-frase indah—pandangan imajinatif ini sangat penting untuk dirawat agar tidak terlalu gegabah karena alasan manusia biasa malah mengurangi keta’dziman.

Misalnya dikatakan bahwa ketika lahir beliau langsung sujud; kelahirannya menggoncangkan singgasana kaisar Persia dan mematikan api persembahan kaum Majusi. Sewaktu di dalam asuhan Halimah di kampung Bani Sa‘d dadanya dibedah oleh malaikat Jibril dsb.

Bait-bait berikut ini sering dilantunkan saat kecil dulu menjelang salat berjamaah di langgar kampung tempat saya belajar mengaji:

‎لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰـهَ مُطْـلَقًا أَبَدًا # وَمَا تَثـَائَبَ أَصْـلاً فِىْ مَدَى الزَّمَنِ

Sang Ṭāhā (yakni Muhammad saw.) tidak pernah mimpi basah sama sekali; dan tak pernah menguap sepanjang masa.

‎مِنْهُ الدَّوَابُ فَـلَمْ تَهْرَبْ وَمَـا وَقَعَتْ # ذُبَابَةٌ أَبَـدًا فِى جِسْمِـهِ الْحَسَنِ

Binatang-binatang tak melarikan diri dari beliau dan lalat tak hinggap di tubuh beliau yang indah.

‎بِخَلْـفِهِ كَأَمَـامٍ رُؤْيَةٌ ثَـــبَتَتْ # وَلَا يُرٰى أَثْـرُ بَوْلٍ مِـنْهُ فِيْ عَلَنِ

Beliau melihat sesuatu yang ada di belakangnya sebagaimana yang ada di hadapannya; tak pernah terlihat bekas air kencingnya di tempat yang kelihatan.

‎وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَـمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ # وَلَايَرٰى ظِـلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فَـطِنِ

Hati beliau tidak pernah tidur, walaupun mata beliau mengantuk; tak ada yang lihat bayangan beliau di terik sinar matahari.

‎كَـتْفَاهُ قَدْ عَلَـتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا # عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ

Dua pundak beliau lebih tinggi dari pundak orang-orang yang duduk bersama beliau; begitu lahir beliau telah terkhitan (tanpa dihitan orang)

‎هَذِي الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أٰمِنًا # مِنْ شَرِّ نَـارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِـنْ مِحَنِ

Hafalkan sifat-sifat khusus ini; niscaya kau akan selamat dari jahatnya api neraka, pencurian dan cobaan hidup.

Dua pandangan di atas terkesan saling menafikan dan tak jarang kemudian melahirkan sikap skeptis dan berujung saling membidahkan, maka sangat perlu digagas pikiran kompromistis dialektik untuk mendudukkan dua perkara tersebut dalam pikiran utuh saling menggenapi dan saling melengkapi agar tidak dominan salah satunya.

Pikiran kompromistis-dialektis perlu diangkat agar keduanya tidak saling bertabrakan—bagaimanapun Rasulullah saw adalah manusia pilihan, meski beliau tidak ingin diistimewakan—manusia agung meski beliau tidak ingin diagungkan—manusia yang terpuji (Muhammad) meski tak ingin dipujikan. Sebaliknya keagungannya, keterpilihannya, dan keterpujiannya juga tidak lepas dari realitasnya sebagai manusia otentik.
Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here