Nadjib Hamid: LDK Muhammadiyah, Harus Mampu Menjadi Pelopor Pembaharuan dalam Pendekatan Dakwah

0
152
Unik: Peserta Bimtek Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah berswa foto bersama abah Nadjib Hamid.(Foto: Habibie)

KLIKMU.CO-Tugas dakwah itu tugas kenabian oleh karena itu bapak atau ibu Lembaga Dakwah Khusus (LDK) ini adalah orang yang mulya ibarat Nabi-Nabi kecil karena bertugas menyampaikan risalah Allah Swt, menyampaikan risalah Rasulullah Muhammad Saw.

Demikian disampaikan Wakil Katua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) jawa Timur Nadjib Hamid, M.Si dalam Bimbingan Teknis Da’i Komunitas di Hotel Gunawangsa MERR surabaya. Selasa-Rabu (27-28/11).

Lebih  lanjut Pak Nadjib menambahkan

“Dari awal saya sudah kagum terhadap kegiatan LDK karena dari hotel kehotel sampai saya tadi tidak ngerti caranya naik ketempat ini ternyata keliru tekan nomor. Tugas dakwah itu tugas kenabian oleh karena itu bapak atau ibu LDK ini adalah orang yang mulya nabi kecil lah, karena bertugas menyampaikan risalah Allah Swt, tentu saja karena LDK ini baru maka saya memahami jika kemudain didaerah masih ada yang wujuduhu ka’adamihi ada SK tapi tidak ada kegiatannya. Ini menjadi tantangan bagi kita semua”, tukasnya

“Saya selalu mengajak kepada kawan-kawan di majelis lembaga untuk menjadikan semua majelis itu adalah Majelis mata air, jangan ada majelis yang air mata, dulu selalu ada kesan bahwa majelis tertentu adalah majelis basah dan majelis lain adalah majelis kering. Setiap pembentukan awal biasanya semua orang berebut dimajelis yang dikategorikan basah pasti bapak ibu paham kalau umumnya itu majelis dikdasmen, karena basah. mejelis kesehatan, basah. tidak ada orang daftar di majelis kader, itu hanya sisa-sisa. Padahal itu mengkader. Majelis wakaf dan majelis pustaka,” katanya, disambut ketawa peserta.

Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Timur itu melanjutkan, saya dari awal ikut mendesain agar di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) itu tidak ada perlakuan yang berbeda terhadap majelis lembaga atau pembantu pimpinan itu dengan konsep sentralisasi keuangan.

“Orang sering tidak paham kalau disentral itu menyulitkan, tidak. Sentralisasi keuangan itu agar majelis lembaga itu fokus pada kegiatan, tanggung jawab keuangan itu PWM, jangan dibebankan kepada majelis lembaga keuangan itu, tugasnya itu melaksanakan program sebagai unsur pembantu pimpinan. jangan dibebankan mencari uang, melaksanakan program saja susah sebab kalau nanti itu majelis mencari uang sendiri maka biasanya yang paling ribet itu saat akhir periode justru pada pelaporan keuangan
padahal itu bukan topuksinya, tugasnya menjalankan program.

Kemudian bagaimana pak keuangannya? Saya bilang endhock aja setiap ada kegiatan setelah itu dibubarkan. sebab kalau majelis lembaga mengelola keuangan hampir pasti ada persoalan nanti selain ada yang iri, enak majelisnya kaya, ini majelisnya melarat. Mengapa saya kemudian punya inisisasi itu karena saya merasakan sejarah awal masuk pwm itu, PWM sebagai institusi sebesar wilayah itu tenaga administrasinya satu, tenaga kebersihannya satu, saya disuruh jadi kepala. Setiap akhir bulan mencari uang kan untuk bayar karyawan itu. Itu saya jalani selama 5 tahun. Tidak ada orang berfikir pwm dapat uang darimana, tidak ada. Pokoknya setiap bulan keliling mencari pinjaman,” paparnya.

“Sementara itu, mohon maaf digedung lantai dua gedung lama itu ada satu majelis saja yang karyawannya sampai 20, punya kendaraan sendiri, punya uang milyaran. Maka kami sampaikan, kami PWM butuh uang, Loh, Kami ini sudah sering membantu PWM, saya terkejut, ini ada yang salah dalam mindset kita semua, Ini majelis kok merasa lebih besar dari PWM, kami sudah sering bantu PWM, jangan minta terus. Ini ada yang salah, ini kan ibarat pembantu PWM, ownernya kan PWM unsur-unsur pembantu itu dimaksudkan agar program-program detel kayak bagini bisa berjalan tapi yang bertanggung jawab tetap PWM artinya persyarikannya,” tambahnya.

“Tidak mudah melakukan itu, maka sejak itu saya bilang periode nanti serah terima jabatan bukan oleh pengurus lama kepada yang baru tetapi yang lama mempertanggungjawabkan kepada PWM dan PWM membentuk yang baru, aset-asetnya diserahkan ke PWM meskipun ada kekurangan, alhamdulillah secara teori tidak ada majelis yang tidak bisa melaksanakan kegiatan karena tidak punya uang,”ujarnya.

Ketika kami diamanahi untuk membidangi majelis lembaga, sambungnya, saya itu lupa informasi tidak ada yang menarik, kader paling ya gitu-gitu saja. kerjasama, orangnya top-top saking topnya sampai tidak sempat ngurus. LPCR baru juga, tapi kami bertekad dengan kawan-kawan ayo jadikan majelis ini yang membuat orang lain cemburu, dalam hal yang positif. Kok bisa, kok bisa, ayo kita bikin jadi pioner. Saya merasakan setelah diurus beneran oleh banyak pihak bersama dengan manejemen yang baik ternyata menarik, orang kemudian merasa bahwa kenapa saya tidak dimasukkan di LDK kenapa tidak, dengan terobosan-terobosan baru misalnya pwmu.Co, membantu publikasi untuk semua, Alhamdulillah kita punya corong untuk ruang publik yang sangat dinamis.

“Tapi bahwa Mengelola lembaga itu bukan hanya sekedar ada aspek substansinya informasi-informasinya tetapi juga aspek manejerial kerap kali paling menentukan. Saya melihat LDK ini adalah lembaga baru yang punya potensi menjadi pioner, untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu diabad kedua ini. Dikadasmen, kesehatan tidak ada masalah, lanjutkan itu.

“Tetapi kalau sesuatu yang baru kemudian menarik hemat saya ini ada tanda-tanda luar biasa memasuki abad kedua Muhammadiyah ini untuk kembali menjadi gerakan mudernis, gerakan tajdid. kalau dulu pak kiai Haji Ahmad dahlan menggarap anak gelandangan dengan cara beliau yang itu menjadi cikal bakal gerakan pembaharuan itu. Sekarang pada abad kedua ini kawan-kawan LDK menggarap objek yang serupa tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Saya kira itu bagian dari kepeloporan dibidang pembaharuan yang menjadi tantangan diabad kedua ini,”jelasnya.(habibie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here