Nandur Pari Tukule Suket Teki, Nanam Padi Berasnya Impor dari Luar Negeri

0
614
Foto beras diangkut dengan kontainer. (Detik.com)

KLIKMU.CO – ”Nandur pari tukule suket teki, menanam padi berasnya impor dari luar negeri.” Begitu sindir Farid Ghaban, jurnalis senior, menanggapi rencana impor beras 1 juta ton yang dilakukan pemerintah, Jumat (19/3/2021). Dalam hal ini Kementerian Perdagangan.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat itu membenarkan bahwa pemerintah akan mengimpor beras 1 juta ton. Namun, dia mengaku tidak akan menghancurkan harga di tingkat petani. Tujuan kebijakan itu adalah menjaga stok dan menstabilkan harga beras.

”Impor bagian dari strategi memastikan harga stabil. Percayalah, tidak ada niat pemerintah untuk hancurkan harga petani saat panen raya,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Lutfi, hanya memerlukan iron stock atau cadangan untuk memastikan pasokan terus terjaga. Karena itu, sebagai cadangan, beras impor tersebut tak akan digelontorkan ke pasar saat periode panen raya. “Beras impor baru dilempar ke pasar ketika ada kebutuhan mendesak seperti bansos ataupun operasi pasar. Tujuannya adalah tetap untuk stabilisasi harga,” ujarnya.

Kritik soal rencana impor beras juga datang dari anggota DPR Fraksi PAN Guspardi Gaus. Dia merasa aneh dengan kebijakan pemerintah jika tetap memaksakan impor beras 1 juta ton.

Sebab, tahun ini produksi beras nasional mengalami surplus, khususnya pada panen awal tahun. “Sehingga kedatangan beras impor ini akan menekan harga beras di tingkat petani,” ujarnya.

Menurut dia, berdasarkan data BPS produksi beras nasional mencapai 31,63 juta pada 2020. Potensi produksi beras sepanjang Januari-April 2021 diperkirakan mencapai 14,54 juta ton alias naik 26,84 persen dibandingkan produksi pada periode sama pada 2020 yang sebesar 11,46 juta ton.

“Artinya, pada panen raya tahun ini stok beras nasional sangat mencukupi. Pertanyaannya apa bijak mengumumkan impor jelang panen raya? Seharusnya negara bisa melindungi hasil panen petani, apalagi masa panen raya sudah makin dekat,” kata Guspardi dilansir dari Tribunnews.com, Kamis (18/3/2021).

Guspardi menuturkan, kebijakan impor beras ini juga bertentangan dengan UU No 18 Tahun 2012 pasal 36 yang berbunyi: Impor pangan hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi dan/atau tidak dapat diproduksi di dalam negeri. Impor pangan pokok hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan nasional tidak mencukupi.

“Di samping itu, rencana Kementerian Perdagangan mengimpor beras 1 juta ton bertolak belakang dengan semangat dan imbauan Presiden Joko Widodo untuk lebih mencintai produk dalam negeri. Sepatutnya Kemendag mengikuti imbauan Jokowi itu,” pungkasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here