Napak Tilas Sejarah Majapahit, Peserta Didik SD Muhammadiyah 15 Surabaya Lakukan Pembelajaran di Luar Kelas

0
123
Napak tilas sejarah Kerajaan Majapahit, SD Muhammadiyah 15 Surabaya belajar di Museum Trowulan Mojokerto

KLIKMU.CO – Pembelajaran sejarah akan kebesaran nusantara tidak hanya di dalam kelas. Pendidikan aplikatif diterapkan secara langsung oleh SD Muhammadiyah 15 (SD Limas) Surabaya dengan mengajak napak tilas sejarah kerajaan Majapahit di Museum Trowulan Mojokerto, Selasa (30/10).

Sebanyak 130 siswa kelas 4 dengan didampingi 22 guru sangat antusias mendengar cerita yang dijelaskan oleh tourgade di museum Trowulan.

Isnaini Ulfa, S.Pd. guru kelas 4 menjelaskan, bahwa kegiatan pembelajaran di luar kelas merupakan bagian dari pembelajaran aplikatif. Semua siswa diajak guna mengetahui situs peninggalan kerajaan secara langsung. Tidak sekadar teori di kelas.

Sementara itu, Joko Tomit tourgade Museum Trowulan menututkan, bahwa ada 900 koleksi benda peninggalan kerajaan majapahit yang ada di museum tersebut. Yang mana kebanyakan situs peninggalan itu, terbuat dari batu andesit, keramik, logam, tanah liat dan batu putih.

“Museum ini sudah berdiri sejak 205 Tahun yang lalu dan didirikan oleh Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda sekaligus seorang arkeolog, serta berkat peran Bupati Mojokerto, Kanjeng Adipati Ario Kromodjojo Adinegoro,” imbuh Afrita Endriyanti juga petugas tourgade Museum Trowulan.

Isnaini menambahkan, selain mengunjungi museum, anak anak juga diajak ke Cagar Budaya Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Brahu dan Patung Budha Tidur.

Dia menjelaskan, bahwa napak tilas sejarah Majapahit di Trowulan bertujuan agar anak anak mendapat kesempatan berkunjung di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto secara langsung.

Semenatara itu, Kevin Adriyansyah, salah satu peserta kelas 4 mengaku senang ketika melakukan studi lapangan tersebut.

“Di museum Trowulan ada patung Budha peninggalan kerajaan Majapahit. Ukurannya besar dan terbuat dari batu,” ungkap Kevin menceritakan yang saat itu mengaku bisa memegang patung tersebut.

Berlanjut sesampai di Candi Tikus, anak anak antusias menuruni anak tangga dan melihat-lihat kondisi sekitar candi. Bahkan, banyak pertanyaan yang muncul dari siswa.

“Kenapa candi ini dinamakan candi Tikus, padahal g ada tikusnya,” cetus Adika Farras Brilianno, siswa kelas 4 yang ia kira Candi Tikus itu banyak tikusnya, ternyata enggak.

Kegiatan itu mendapat respon positif dari Fatimah Sa’diyah wali murid kelas 4. Dia menilai pembelajaran di luar kelas merupakan bentuk eduksi yang dapat menumbuhkan sikap cinta tanah air. Sebab mereka bisa mengenal dan ikut serta melestarikan situs budaya warisan Indonesia. (Ali Shodiqin/Abd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here