Ngaji Dino Iki #285: Comfort Zone

0
215
Ilustrasi diambil dari youth time magazine

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA*)

Assalamualaikum w. w.

“Don’t let insecure thoughts run something amazing.” Jangan biarkan perasaan ragu merusak sesuatu yang luar biasa.

Ragu, bimbang, tidak percaya diri dan perasaan galau lainnya sering muncul saat kita harus berpindah dari suatu zona nyaman (comfort zone) ke zona lain yang sebetulnya belum tentu tidak nyaman.

Mas Komar (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA), dalam bukunya yang berjudul: Psikologi kematian, menyatakan, bahwa: …. Salah satu dari faktor penghambat kemajuan seseorang adalah mereka merasa nyaman di tempat yang sekarang ia diami, ia nikmati (comfort zone). Padahal di luar sana ada yang lebih baik, lebih menggairahkan, lebih menyenangkan, lebih menjanjikan untuk hidup lebih baik.

Oleh karenanya, latihlah diri kita untuk biasa keluar dari comfort zone.

The impulse to travel is one of the hopeful symptoms of life. “Dorongan untuk bepergian adalah salah satu pertanda hidup yang penuh harapan.”

Keberanian untuk traveling ke tempat asing bagian dari upaya keluar dari comfort zone dan mendidik kemandirian.

Lakukanlah perjalanan, niatkan semua untuk mendapatkan hikmah kebaikan. Bukan sekadar berjalan atau bepergian, bukan sekadar melancong, bukan sekadar piknik, bukan sekadar keliling, tapi safar dalam makna “fantasiruu fil ardhi,” sebagaimana diperintahkan oleh Allah swt:

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُ ۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ

Say, [O Muhammad], “Travel through the land and observe how was the end of those before. Most of them were associators [of others with Allah].

“Katakanlah (Muhammad), Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).” (QS Ar-Rum: 42)

Kekhawatiran itu kan menghambat potensi pengembangan diri dan pencapaian gemilang di masa depan.

Berdoalah, “Hasbunallâhu wa Ni’mal Wakîl, wa ‘Alallâhi Tawakkalnâ. (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Hanya kepada Allah kami bertawakkal.) (HR. Tirmidzi)

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.

Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum w. w.
Dari sahabatmu

Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here